الحقُّ ليسَ بِمحجُوبٍ وَاِنـَّماَ المحجُوبُ انتَ عنِ النظَرِ اليهِ اذ ْ لَوْ حجَبَهُ شَيءٌ لسَتَرَهُ ولوكاَنَ لهُ ساتِرٌ لكانَ لوجدِهِ حاصِرٌ وكلُّ حاصِرٍ لشىءٍ فَهُوَ لهُ قاَهِرٌ )وَهُوَالقاَهِرُ فوَقَ عبادِهِ(

Yang Maha Benar (Allah) tidaklah terhijabi, akan tetapi dirimulah yang terhijabi untuk dapat menyaksikan-Nya. Jika Dia terhijabi oleh sesuatu maka sesuatu itu telah menutupi-Nya. Andaikan ada sesuatu yang dapat menutupi-Nya maka ia dapat membatasi wujud-Nya. Dan setiap sesuatu yang dapat membatasi, akan dapat menguasai. (Sedangkan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya).

Jika dipahami secara serius, maka akan ditemukan sebuah perbedaan yang cukup ketara dalam kalam hikmah tersebut. Mudahnya, kita pahami terlebih dahulu perbedaan yang terjadi antara kalimat “Matahari dihalangi dariku” dan “Aku dihalangi dari matahari”. Kalimat pertama lebih tepatnya dipakai dalam konteks ketika matahari sedang tertutupi oleh semisal mendung sehingga keberadaannya tak dapat dijangkau oleh pengelihatan mata, atau keberadaanya terhalang dari penglihatan mata. Sementara kalimat kedua lebih pantas dipakai dalam konteks ketika pengelihatan mata sedang tertutupi oleh semacam penutup sehingga penglihatan mata itu tak dapat menjangkau cahaya atau keberadaan matahari.

Dengan demikian, dari kalimat pertama tersebut dapat disimpulkan bahwa mataharilah yang tertutupi oleh mendung sebagai hijab dan tak ada yang bisa diperbuat oleh manusia untuk menghilangkan hijab itu, sedangkan dari kalimat kedua dapat disimpulkan bahwa manusialah yang penglihatannya tertutupi oleh hijab dan masih ada kemungkinan hijab itu bisa dihilangkan.

Nah, apabila perbedaan yang terjadi pada contoh di atas kita angan-angan kembali lalu diaplikasikan pada konteks pembahasan kali ini yakni “Al-Haq tidaklah terhijabi namun engkaulah yang terhijabi” maka kesimpulan akhir yang akan muncul adalah mustahil dalam kondisi apapun, di manapun dan kapanpun Allah terhijabi oleh sesuatu dari manusia atau segala ciptaannya. Sebab, andaikan Allah terhijabi oleh sesuatu maka sesuatu yang menjadi hijab itu pasti menguasai terhadap Allah dengan cara menghijabi-Nya. Sehingga, sesuatu yang menjadi hijab itu merupakan predikat sedangkan Allah menjadi objeknya. Hal semacam ini tentu mustahil terjadi kepada Allah yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Inilah yang dimaksud dari kalam hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari “Jika Dia terhijabi oleh sesuatu maka sesuatu itu telah menutupi-Nya. Andaikan sesuatu menutupi-Nya berarti wujud-Nya terbatasi oleh sesuatu tersebut”.

Apabila kita telah memahami semua hal itu, maka selanjutnya ada dua kenyataan yang harus kita ketahui di balik kalam hikmah di atas yaitu satu dalam aspek akidah sedangkan satunya lagi dalam aspek pendidikan rohani.

Dalam aspek akidah, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari ingin menyampaikan bahwa tak boleh ada seorang pun yang mengatakan “Allah dihalangi/dihijabi dari hamba-hambaNya”. Tentu saja karena redaksi semacam itu akan mengesankan adanya predikat lain yang membuat Allah menjadi objeknya. Hal ini jelas mustahil, karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa Allahlah predikat tertinggi, predikat di atas predikat yang lain.

Bukan hanya itu, redaksi tersebut juga akan menetapkan bahwa wujudnya Allah dibatasi dengan arah tertentu. Tentu saja mustahil hal itu terjadi pada Allah karena Dia telah wujud sebelum segala sesuatu termasuk sebelum diciptakannya semua arah; barat, timur, selatan, utara, atas, bawah, depan, belakang dan samping. Karenanya, sangat tak pantas dipertanyakan dengan “Di manakah Allah?” karena wujud-Nya tak dibatasi tempat, atau “Kapankah Allah?” karena wujud-Nya tak dibatasi waktu. Pada hakikatnya semua arah itu tidak ada kemudian Allah mewujudkannya. Maka dari itu, semua arahlah yang membutuhkan Allah sedangkan Allah sama sekali tak butuh.

Sedangkan dalam aspek pendidikan, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari ingin menyampaikan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci dan bersih dari dosa. Dengan artian, manusia lahir dalam keadaan selalu terhubung dengan Tuhannya (Allah), mengetahui, mengakui-Nya sebagai Tuhan semesta alam bahkan mencintaiNya. Allah berfirman (artinya) “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS al-A’raf [07]: 172)

Tak ada hijab ataupun penghalang kala itu. Akan tetapi, ketika manusia tumbuh dan menjalani kehidupannya di dunia, lalu terpedaya oleh kesenangan dan hiburan dunia dengan patuh menuruti syahwat dan hawa nafsunya, maka akhirnya ia melakukan dosa-dosa yang menyebabkan munculnya bintikbintik hitam di hati yang suci, bening dan bersih. Dengan semakin banyaknya tindakan berdosa, maka bintik-bintik hitam itu semakin bertumpuk dan lama-lama menjadi hijab kegalapan yang menutupi seluruh bagian hati.

Ali Wafa Yasin/sidogiri

Spread the love