َقطعُ السَّائِرِينَ لَهُ ، وَالوَاصِلِينَ إلَيهِ ، عَن رُؤيَةِ أعمَالِهِم ، وَشُهُودِ أَحوَالِهِم . أمَّا السَّائِرُونَ فَلِأَنَّهُم لَم يَتَحَقَّقُوا الصِّدقَ مَعَ الله فِيهَا ، وَأَمَّا الوَاصِلُونَ – فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُم بِشُهُودِهِ عَنهَا
“Orang yang tengah menapaki jalan tasawuf (as-Sairun), tidak akan mempedulikan amal perbuatan dan keadaan mereka, karena mereka tidak yakin keikhlasan amal mereka di hadapan Allah. Begitu pula orang-orang yang telah sampai kepada Allah (al-Washilun), mereka juga tidak akan mempedulikan amal perbuatan dan keadaan mereka, karena mereka telah tenggelam dalam penyaksian kepada Allah.”
Barangkali orang yang kritis dengan dalil-dalil agama akan heran dengan pengelompokan hamba di atas, sebagaimana telah disebutkan di dalam kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari ini. Bagaimana mungkin dalam pembagian itu ada orang yang telah sampai kepada Allah (al-Washilun)?
Padahal tidaklah seorang hamba bisa sampai kepada Allah kecuali dengan kematian. Jangankan manusia biasa seperti kita, bahkan Rasulullah sendiri akan terus menjadi as-Sairun hingga beliau meninggal dunia. Yaitu dengan terus beribadah, mendekatkan diri dan selalu mengingat Allah.
Bukankah ini telah ditegaskan oleh Allah di dalam sebuah firman-Nya.
واعبد ربك حتى يأتيك اليقين
“Sembahlah Tuhanmu sampai datang al-yaqin kepadamu.” Dan para ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud al-yaqin disini adalah kematian.
Maka jawaban dari pertanyaan di atas. Bahwa al-Washilun hanyalah kiasan bagi orang yang telah sekian lama menapaki jalan tasawuf. Dia telah berupaya membersihkan hati dengan proses yang panjang. Sehingga debu-debu syahwat dan keinginan tidak lagi menghalanginya untuk bisa mendekat kepada Allah.
Baca Juga: Antara Hamba Allah Dan Hamba Cahaya
Meski keduanya berbeda, tapi Syekh Ibnu Athaillah menyatakan bahwa kedua model hamba ini memiliki sisi persamaan. Yaitu sama-sama tidak menghiraukan amal ibadah, kebaikan-kebaikan, serta keadaan mereka sama sekali.
Adapun as-Sairun, ketidakpedulian mereka dikarenakan mereka tidak yakin bahwa perbuatannya dilakukan berdasarkan keikhlasan. Dan walaupun ikhlas, maka perbuatan itu tidak ada bandingannya bila dibandingkan dengan nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadanya.
Demikianlah as-Sairun. Usaha mereka untuk terus membersihkan jiwa telah membuat jiwa mereka sangat sensitif. Sekecil apapu penyakit hati yang hinggap di setiap kebaikan yang mereka lakukan, maka hal itu akan sangat terasa menyakitkan. Baik itu ujub, riya’, sombong, dan lain sebagainya. Maka semakin banyak mereka melakukan kebaikan, maka semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Mereka merasa semakin hina dan merasa semakin tidak ikhlas karena Allah. Yang pada akhirnya mereka tidak mempedulikan amal kebaikan mereka sama sekali.
TONTON JUGA VIDEO TENTANG DUA HAMBA PILIHAN
Bila kita ingin mengetahui bagaimana pola pikir as-Sairun, coba perhatikan setiap shalat yang kita kerjakan, setiap zakat yang kita tunaikan, setiap puasa yang kita lakukan, dan setiap kebaikan-kebaikan yang telah kita rampungkan. Apakah benar semua ibadah itu ikhlas karena Allah? Tanpa ada paksaan. Tanpa godaan ujub, riya’, dan sombong? Dan apakah benar kita sudah berhasil melarikan diri dari sifat-sifat tercela tersebut?
As-Sairun bahkan merasa semua ibadahnya dilakukan dengan riya’. Karena ibadah itu ingin dipuji oleh Allah. Sehingga mereka akan diakui sebagai hamba-Nya yang taat. Bukankah keinginan yang demikian sudah mencerminkan hilangnya rasa ikhlas di dalam hati? Begitulah mereka memandang perbuatannya di hadapan Allah.
Baca Juga: Amal Yang Bernilai Di Sisi Allah
Sedangkan al-Washilun berbeda lagi, ketidakpedulian mereka karena mereka memang sudah tidak melihat apa-apa lagi selain melihat Allah. Mereka tidak merasakan kalau mereka berdiri, duduk, diam atau pun bergerak. Semua yang ada di hadapan mereka hanyalah Allah. Tiada sesuatu selain Allah. Mereka pun tidak ada melainkan hanya Allah.
Bahkan mereka tidak sempat untuk menyadari bahwa mereka adalah kelompok al-Washilun. Oleh karenanya, apabila ada seseorang yang mendaku dirinya adalah bagian dari al-Washilun, maka pada hakikatnya dia adalah berdusta. Karena al-Washilun tidak akan sempat memikirkan sesuatu selain Allah.
Lantas apakah mereka adalah orang-orang yang setiap waktunya hanya duduk di atas sejadah, lalu berzikir merapal asma Allah. Tidak pernah berhenti untuk mengerjakan pekerjaan lain? Maka jawabannya adalah tidak demikian. Boleh jadi al-Washilun dilihat biasa oleh orang-orang kebanyakan. Akan tetapi tanda yang paling dapat dijangkau untuk mengenali mereka, adalah tenggelamnya mereka di hadapan Allah.
Maksudnya adalah setiap detik kehidupannya hanya ada Allah di hatinya. Dengan menerapkan semua hukum syariah-Nya. Menjauhi larangan-Nya. Membasahi mulut mereka dengan menyebut nama-Nya. Dan hati mereka tidak pernah terlepas dari Allah yang menjadi lentera utama di dalam jiwanya.
Demikianlah dua hamba Allah yang sudah terbilang sangat langka pada zaman seperti zaman sekarang. Keberadaan mereka seperti intan permata diantara bebatuan kerikil. Sedikit jumlahnya, namun tidak ternilai harganya.
Akan tetapi tidak banyak yang mengenal dan mengetahui kedudukan mereka. Karena prilaku mereka sama dengan kebanyakan manusia. Mereka makan, minum, dan bercanda sebagaimana lazimnya manusia biasa. Yang membedakan mereka dari pada yang lain hanya satu. Hatinya yang tidak pernah terlepas dari pada Allah. Demikianlah Allah memberikan anugerahnya kepada setiap hamba yang dikehendaki. Wallahu a’lam.




