Saya sering membaca meme yang berseliweran di sosial media, berisi tulisan yang merupakan pernyataan salah seorang tokoh Islam di Indonesia. Kurang lebih, meme itu bunyinya begini: “Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Sekilas, saya menerima dan tidak menyangkal terdahap pernyataan ini. Namun setelah dipikir lagi, kayaknya ada yang janggal dari pernyataan tersebut; nadanya seakan menganggap agama tidak penting. Mohon penjelasannya.

Jawaban

Setiap Muslim yang memiliki keimanan sejati sudah tentu berkeyakinan bahwa agama adalah sesuatu yang paling penting dan paling berharga ketimbang apapun. Agama lebih berharga daripada segala apa yang kita miliki di dunia ini, bahkan lebih berharga daripada diri kita sendiri.

Agama lebih berharga daripada tanah air, karena itu dalam keadaan tertentu kita diwajibkan berhijrah meninggalkan kampung halaman, lari membawa agama kita. Agama lebih berharga daripada harta benda, karena itu orang yang mengorbankan harta bendanya untuk agama secara total dianggap sebagai orang yang paling sempurna imannya, seperti Sayyidina Abu Bakar. Agama lebih berharga daripada anak dan istri, karena itu Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak dan istrinya untuk agama. Bahkan agama lebih berharga daripada diri kita sendiri, karena itu dalam keadaan tertentu kita diwajibkan berperang, dan tentu taruhannya adalah nyawa kita.

Namun kendati demikian, semua itu tidak bertentangan dengan keharusan bagi umat Islam untuk berbuat baik kepada siapa saja. Justru, agama Islamlah yang mengangkat harkat dan martabat manusia, tanpa terkecuali, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70). Sebelum Islam memproklamirkan ajaran yang universal ini, aturan-aturan yang dibuat manusia masih tidak beradab; mereka menghinakan, memperbudak dan bahkan membunuhi ras yang mereka anggap sebagai ras rendahan.

Islam juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada siapa saja, tanpa terkecuali, apapun agama dan sukunya. Dalam al-Quran Allah berfirman yang artinya, “Ucapkanlah katakata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah [2]: 83). Di sini, Allah tidak memerintahkan agar berkata-kata baik kepada orang Islam saja, akan tetapi kepada manusia, siapa, kapan dan di manapun. Bahkan pada musuh sekalipun, Islam memerintahkan umatnya untuk berbuat adil, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 8).