Pada 6 Rabiul Akhir tahun 541, Imaduddin Zanki Syahid ditikam budak dari bangsa Frank, beliau merupakan salah satu Panglima terbaik yang di miliki umat Islam pada saat itu, salah satu yang paling di ingat kaum Muslimin adalah semangatnya dalam merebut kembali Baitul Maqdis ke genggaman kaum Muslimin.

***

Nama lengkapnya adalah Atabiq Zanki al-Malik al-Mansur (1085-1146) bin Aq Sunqur al-Hajib dan gelar yang diberikan ulama padanya adalah Imaduddin (sang tiang agama). Ayahnya adalah gubernur Aleppo di bawah penguasaan Malik Shah I, Sultan Kekaisaran Saljuk.

Ayahnya merupakan Guberur yang Shaleh, menjaga shalat tepat waktu, rajin bertahajud dan punya semangat Jihad yang tinggi, bahkan pernah terlibat Konfrontasi langsung dengan pasukan Bizantium pada masa Romanis IV Diogenes.

Masa kebersamaan bersama sang ayah tidak lama, karena sang ayah dibunuh oleh kelompok Hassyasin, saat sedang menunaikan shalat berjamaah di Masjid Jamik’ Mosul, pada saat itu usia Imaduddin masih Sembilan tahun. Zanki muda kemudian diasuh oleh Karbuqa, gubernur Mosul dan diberi pendidikan tentang kemiliteran dan kepemimpinan juga ilmu-ilmu Syariat, yang kelak sangat mempengaruhi saat menjadi raja Dinasti Zanki.

Setelah tumbuh dewasa, ia diangkat sebagai Atabeg (Gubenur) Mosul tahun 521 H. Atau 1127 M. Kemudian ia melakukan ekpansi militer dengan tujuan membebaskan tanah Syam dari genggaman pasukan salib.

Namun ia kesulitan karena pada saat itu umat islam sedang sibuk bertikai antar sesama. Maka yang dilakukannya pertamakali adalah menyatukan kotakota Islam di bawah komandonya, sedikit-demi sedikit kota-kota mulai menyatu dan tunduk, mulai dari Aleppo kemudian diikuti yang lainnya. Mulai saat itu Imaduddin di kenal dengan peletak Dinasti Zankiyah.

Imaduddin Zanki saat berkuasa memang bekerja dalam kondisi dan situasi yang paling sulit. Pada saat itu kondisi umat islam sedang terpecah,  pada satu sisi, ia berada di tengah konflik yang berkecamuk di antara para penguasa dan para pangeran Dinasti Saljuk. Pada sisi yang lainnya ia berada di antara mereka yang bertikai dan Dinasti Abbasiyah.

Menghadapi Tentara Salib

Akhirnya ia mulai konfrontasi langsung menghadapi kekuatan besar Salibis, Zanki bergerak cepat ke utara dan menguasai Ashib dan benteng Armenia di Hizan. Selanjutnya, tahun 1144 Zanki mengepung Kepangeranan Salib, County of Edessa. Edessa merupakan negara salib terlemah dan terakhir yang didirikan bangsa Latin, dan Zanki menguasainya tanggal 24 Desember 1144. Peristiwa ini memicu Perang Salib kedua, dan para sejarawan Muslim mencatatnya sebagai awal Jihad melawan negara-negara Salib.

Gaya Kepemimpinan yang Elegan

Pada saat sebelum jadi gubenur, ia melihat kezaliman dimana-mana, ketika ia memegang kekuasaan, semua itu berubah dan menjadikan wilayahnya kembali pada jalur yang semestinya serta mengembalikan kemakmuran rakyat. Zanki adalah raja yang terbaik dalam kebijakan dan perilakunya.

Ia pun dikenal sangat pemberani dan kuat dalam menaklukkan kerajaankerajaan lain di sekitarnya untuk bersatu dan tunduk pada ajaran Islam. Namun ia juga dikenal lembut dan penyantun terhadap kaum hawa dan berlaku dermawan kepada bawahannya.

Akhir Hayat

Dalam upayanya pembebasan al-Quds, Zanki memulai dengan menaklukkan kota Damaskus, Suriah. Di tahun 540 H atau 1145 M, setahun setelahnya Zanki dibunuh oleh seorang penyusup dari bangsa Frank. Kematian mendadak Zanki, membuat pasukannya panik, dan dengan mudah dikalahkan tentara salib, hartanya dijarah dan pasukannya banyak yang ditawan. Puncaknya Edesa jatuh ke tangan pasukan salib lagi. Akhirnya kepimpinannya diteruskan oleh kedua puteranya, Saifuddin Ghazi Zanki di Mosul serta Mahmoud Nuruddin Zanki di Aleppo dan di Damaskus.

Walaupun usahanya untuk kawasan Al-Quds dan sekitarnya tidak berhasil. Minimal  Zanki telah memberikan pondasi awal untuk menaklukkan al-Quds, kelak perjauangannya dilanjutkan oleh Nuruddin Zanki kemudian Shalahuddin Al-Ayyubi.

Fauzan Imron/sidogiri