MAULID NABI MENURUT SYAH; JUMAT 17 RABIUL AWAL
Meski tak sepadat di bulan Shafar, namun hari-hari penting Syiah lumayan semarak pula di bulan Rabiul Awal.
Tanggal 1 Rabiul Awal dikenang sebagai hari keberangkatan shahabat muhajirin dari Makkah menuju Yatsrib, pada tahun 13 kenabian. Usai tahun tahun penuh duka dan derita di Makkah, kini saatnya umat Islam menyongsong era baru yang lebih cemerlang di 450 km ke arah utara, sebuah kota yang kelak bernama Madinah. Bagi penganut Syiah, 1 Rabiul Awal menjadi saksi atas pengorbanan sosok remaja panutan. Menggantikan Baginda Nabi di tempat tidurnya, Ali bin Abi Thalib remaja bersiap meregang nyawa demi Sang Baginda.
Bagi Syiah, tak ada segmen yang lebih penting dari momen hijrah kecuali pengorbanan heroik imam mereka. Tapi bagi Ahlussunah, ada sederet sosok lain yang juga layak diapresiasi. Ada Abu Bakar “orang kedua” dalam gua. Ada Asma’ dengan dua sobekan kain sabuknya. Ada pula Amir bin Fuhairah sang pelayan setia. Pun Umar yang hijrah dengan gagah perkasa. Serta puluhan sahabat lain yang setia menyertai Sang Baginda, meninggalkan keluarga dan harta demi menggapai ridha Yang Mahakuasa.
Esoknya, 2 Rabiul Awal, adalah hari kedatangan tawanan Karbala di Madinah pada tahun 61 H. Mayoritas tawanan dipulangkan ke Madinah oleh Khalifah Yazid, kecuali beberapa orang yang memilih menetap di Damaskus seperti Sayidah Zainab binti Ali.
Berikutnya, 5 Rabiul Awal adalah hari wafatnya Sayidah Sukainah binti Husain bin Ali. Salah satu ahlul bait wanita paling utama. Kisah hidup beliau yang penuh prahara membuatnya populer di kalangan Syiah dengan syair-syair ratsa’ (ratapan). Sayidah Sukainah merupakan saksi utama Tragedi Karbala, dimana ayah beliau, serta suami sekaligus sepupunya, yaitu Abdullah bin Hasan bin Ali dibantai oleh pasukan Bani Umayah. Usai tragedi Karbala, beliau menikah dengan Mush’ab bin Zubair bin Awam, gubernur Kufah dalam pemerintahan Ibnu Zubair kakaknya. Tapi Mush’ab tewas pada tahun 72 H di tangan pasukan Abdul Malik bin Marwan, khalifah Umayah yang terjun sendiri memerangi pasukan Ibnu Zubair di Irak.
Tanggal 8 Rabiul Awal adalah hari wafat Imam Hasan al-Askari bin Ali al Hadi (260 H). Konon, imam ke-11 Syiah Imamiyah ini wafat setelah diracun oleh orang suruhannya Khalifah al-Mu’tamid Alallah bin al-Mutawakkil, khalifah Abbasiyah ke-15 (256-279 H). Beliau wafat di Samarra, ibukota Abbasiyah saat itu.
Sehari usai wafatnya Imam Hasan al Askari, maka esok harinya (9 Rabiul Awal) adalah penobatan Imam Mahdi, imam ke-12 yang akan berperan sebagai imam hingga akhir zaman. Pada titik inilah perbedaan antara Ahlussunah dan Syiah sangat mencolok; dimana imam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Syiah Imamiah sedunia, justru oleh kaum Sunni dianggap sebagai tokoh fiktif belaka.
Hari ini dikenal pula dengan Hari Farhah az-Zahra atau hari kegembiraan Fathimah az-Zahra’. Sebagian kelompok Syiah beranggapan bahwa hari gembira ini berkaitan dengan wafatnya Khalifah Umar bin Khaththab yang mereka yakini wafat tanggal 9 Rabiul Awal. Satu pendapat yang sangat janggal, mengingat wafatnya Khalifah Umar terjadi pada akhir Dzul Hijah tahun 23 H dan ini disepakati oleh sumber-sumber utama Ahlussunah maupun Syiah.
Meski pendapat kedua ini kurang populer di kalangan Syiah, namun haflah khusus untuk merayakan hari wafatnya Khalifah Umar dilaksanakan di banyak tempat dan berpusat di makam Abu Lu’lu’ah di Kashan, Iran. Orang-orang Syiah menyebut Abu Lu’lu’ah dengan gelar “Baba Syuja’uddin Abu Lu’lu’ Fairuz”. Ritual yang penuh dengan puja-puji kepada Abu Lu’lu’ah serta laknat kepada Khalifah Umar ini dirintis oleh Dinasti Safawi (1501-1736) dan berlangsung selama kurang lebih 500 tahun, sebelum resmi dihapus pemerintah Iran tahun 2014 yang lalu.
| BACA JUGA :SYIAH DAN HARI-HARI BESARNYA (2)
Berikutnya, tanggal 17 Rabiul Awal diperingati sebagai hari kelahiran Baginda Rasul shallalahu alaihi wasallam. Di antara beberapa versi, yang paling dipercaya kalangan Syiah bahwa Rasulullah lahir pada hari Jumat tahun gajah. Sangat kontras dengan versi paling populer Ahlussunah wal Jamaah (Senin tanggal 9 atau 12 Rabiul Awal).
Pada tanggal 17 Rabiul Awal, diperingati pula Maulid Imam Jakfar ash Shadiq bin Muhammad al-Baqir (80-148 H), imam ke-6 Syiah Imamiah.
Selain hari-hari di atas, ada beberapa hari lain di bulan Rabiul Awal yang dikenang oleh pemeluk Syiah, dan selayaknya tak dilupakan oleh umat Islam lainnya, antara lain:
– 10 atau 21 Rabiul Awal, hari pernikahan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Sayidah Khadijah Kubra
– 15 Rabiul Awal, pembangunan Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Baginda Nabi sebelum sampai ke Yatsrib
– 18 Rabiul Awal, pembangunan Masjid Nabawi
– 22 Rabiul Awal tahun 4 H, ghazwah melawan Yahudi Bani Nadhir
– 26 Rabiul Awal tahun 41 H, perdamaian antara Sayidina Hasan bin Ali dan Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan, gerbang pembuka persatuan umat pasca 5 tahun fitnah antara kubu Syam (Bani Umayah) dan Irak (Ali dan syiahnya).
Adapun di bulan Rabiul Akhir, hari-hari besar yang dirayakan kelompok Syiah antara lain: 8 Rabiul Akhir, kelahiran Imam Hasan al-Askari. Beliau lahir tahun 232H di Madinah, kemudian ikut pindah ke Samarra bersama ayahnya, Ali al-Hadi. Keduanya wafat dan dikebumikan di Samarra.
10 Rabiul Akhir, hari wafatnya Sayidah Fathimah Ma’shumah (wafat 201 H), putri imam ke-7 (Musa al Kazhim) dan adik daripada imam ke-8 (Ali ar Ridha). Beliau dikebumikan di Qom, kota suci kedua Iran setelah Masyhad. Di tempat itu juga dikubur 3 putri dari imam ke-9 Syiah, Muhammad al-Jawad. Ada banyak riwayat hadis Syiah tentang keutamaan kota Qom dan makam Sayidah Fathimah Ma’shumah, yang tentunya sangat sulit diterima oleh Ahlussunah. Selain rancu dari sisi sanad, riwayat-riwayat tersebut juga dengan mudahnya memberi jaminan surga bagi para peziarah yang mengunjungi kota Qom dan makam Sayidah Fathimah Ma’shumah.
13 Rabiul Akhir tahun 11 H, wafatnya Sayidah Fathimah az-Zahra binti Rasulillah shallallahu alaihi wasallam menurut satu versi Syiah. Umumnya beliau diyakini wafat 3 Jumadal Akhirah (versi Ahlussunah) atau 10 Jumadal Ula(versi Syiah).
14 Rabiul Akhir, awal gerakan Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi di Kufah (66 H). Mukhtar dikenal sebagai pencetus salah satu sekte ekstrem Syiah: Syiah Kaisaniyah. Selain mencetuskan doktrin bada’, Mukhtar juga mengkultuskan putra Imam Ali dari istri kedua, Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai imam ke-4.
Pada mulanya Mukhtar diutus ke Kufah oleh Abdullah bin Zubair, khalifah tandingan Bani Umayah yang berbasis di Hejaz. Di Kufah, Mukhtar menyasar para pembunuh Sayidina Husain dan dalam waktu singkat, para aktor utama Karbala bisa dihabisi. Inilah yang membuat gerakannya populer di kalangan penduduk Kufah yang mayoritasnya merupakan loyalis politik ahlul bait.
Namun karena membawa akidah menyimpang, gerakan Mukhtar justru dihentikan oleh Ibnu Zubair. Ibnu Zubair mengutus adiknya, Mush’ab bin Zubair untuk merebut Irak dari tangan Mukhtar. Tahun 67 H, Mukhtar dikalahkan dalam medan perang, kemudian ribuan pengikutnya dieksekusi mati.




