SYEKH ABDUL FATTAH ABU GHUDDAH
Syekh Abdullah Fattah Abu Ghuddah lahir di Aleppo (Halab), Suriah pada 9 Mei 1917/17 Rajab tahun 1336 H, ia memiliki nama kecil Abdul Fattah bin Muhammad bin Bashir bin Hasan Abu Ghuddah, lebih masyhur dengan panggilan Abdul Fattah Abu Ghuddah. Ia dikenal di sebagian besar dunia Islam, mulai dari Asia sampai Eropa, terutama atas prestasinya yang gilang-gemilang dalam dunia akademik.
Silsilah keluarga Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah berasal dari keturunan shahabat Rasulullah, yakni Khalid bin Walid. Sejak kecil hingga remaja, Abdul Fattah telah bergelut dengan dunia pendidikan Islam, mulai belajar di lembaga tanah kelahirannya, Madrasah Khesrevia di Aleppo, hingga menuju Afrika, Mesir, tepatnya di Al-Azhar.
Saat belajar di Mesir, Abdul Fattah masuk fakultas Syariah mempelajari psikologi dan prinsip pendidikan pada 1944 hingga 1948, dan pendidikan bahasa Arab hingga lulus dari Universitas Al Azhar Kairo pada 1950/1370 H. Selain itu, mengambil spesialisasi di bidang pedagogi (pengajaran) di Fakultas bahasa Arab di universitas yang sama.
Saat belajar di negaranya, Syekh Abdul Fattah berguru kepada sejumlah ulama terkemuka yang keilmuan dan wawasannya luas, semisal Syekh Raghib Al-Tabakh, Syekh Ahmad Al-Zarqa, Syekh Eisa Bayanuni, Syekh Muhammad Al-Hakeem, Syekh Asad Abji, Syekh Ahmad Kurdi, Syekh Najib Sirajuddin, dan Syekh Mustafa Zarqa.
Ada kisah memilukan saat Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah belajar di negeri Piramida itu. Konon, ketika di Mesir Abdul Fattah mengalami masa-masa krisis. Kiriman dari keluarganya tak kunjung datang dan yang tersisa di sakunya hanya tiga belas qirsy. Hari itu tepat hari Kamis, Syekh Abdul Fattah tengah berpuasa dan uangnya tidak cukup untuk membeli makanan berbuka yang mengenyangkan. Terpaksa ia berangkat kuliah dengan perut keroncongan sambil menahan lapar.
Tak tahan terlalu lapar, sepulang kuliah, Abdul Fattah melintasi sebuah warung, ia pun hanya memakan supdan roti, sebab uangnya tinggal sedikit. Setelah pulang ke asramanya, uang yang tersisa hanya sepuluh qirsy, itu pun dipinjam oleh teman kostnya, lima qirsy. Beliau pun terpaksa menahan lapar sampai Sabtu pagi. Rasa lapar yang ia tahan tak bisa lagi disembunyikan, ada perubahan pada raut wajahnya.
Melihat itu, salah satu temannya bertanya tentang kondisi wajahnya yang tidak seperti biasanya. Syekh Abdul Fattah pun menjawab dengan sebenarnya. Kemudian, ia diajak oleh temannya itu ke rumahnya, lalu diberi makanan plus sejumlah uang untuk keperluan sehari-harinya.
Meski demikian, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah tetap antusias dalam mencari ilmu dan sama sekali tidak menciutkan gairahnya. Tak ada pikiran ingin berhenti belajar di Mesir dan pulang mencari kerja agar menghasilkan uang.
Selama di Mesir, Syekh Abdul Fatta Abu Ghuddah bertemu beberapa ulama besar kala itu. Di antaranya, Syekh Muhammad Al-Khidr Husain, Syekh Abdul Majid Daraz, Syekh Abdul Halim Mahmud, dan Syekh Mahmud Shaltut. Selepas belajar di Mesir, Abdul Fattah Abu Ghuddah masih haus ilmu keagamaan. Ia pun melakukan pengembaraan ilmiah lintas negara, mulai negara-negara Arab, Eropa seperti Turki, bahkan ke India, Pakistan, Indonesia, Malaysia hingga Brunei Darussalam.
| BACA JUGA: PERANG PEMIKIRAN DI ERA DIGITAL
Di Pakistan Abdul Fattah mengaji kepada Syekh Muhammad Syafii, Mufti Atiqurrahman di Delhi, Syekh Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, Syekh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi, Syekh Muhammad Yusuf Banwori, Syekh Muhammad Latif, Syekh Abul Wafa Al-Afghani, dan Syekh Abul Hasan Ali An-Nadwi pakar sejarah kenamaan.
Baru pada 1951, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah kembali ke kampung halamannya dan menyebarkan ilmu yang telah ia dapat dari berbagai guru di seantero dunia. Selain mengajar di berbagai universitas Islam di Aleppo, Syekh Abdul Fattah juga kerapkali mengisi majelis taklim di masjid dan lembaga institusi lainnya, semisal di Madrasah Sya’baniyah yang merupakan lembaga pendidikan yang konsisten mencetak para ulama kondang dan dai militan.
Beberapa tahun kemudian, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah juga mengajardi lembaga pendidikan sejenis pesantren di Damaskus, yakni College of Syariah di Universitas Damaskus. Di sana ia mengajar ilmu metodologi Fikih, Fikih Mazhab Hanafi serta Fikih perbandingan, selama tiga tahun. Selama mengajar di Damaskus inilah Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menyempatkan diri untuk membuat proyek ilmiah yang berupa ensiklopedi Fikih Islam yang digarap selama dua tahun, juga mengarang Kamus Fikih Al-Muhalla Ibnu Hazm,yang kemudian menjadi salah satu bahan rujukan para santri di sana.
Selain sibuk berdakwah dan mengajar, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah juga mengisi waktunya dengan menuangkan ilmunya ke dalam bentuk buku. Ia telah menulis kuran lebih tujuh puluh judu kitab. Kebanyakan kitab Syekh Abdul Fattah dicetak di Beirut Lebanon di Maktabah Mathbu’ah Islamiyah, ada juga yang dicetak di Maktabah Darussalam Kairo Mesir.
Kitab Syekh Abdul Fattah yang paling fenomenal adalah Qîmatuz-Zamân Indal–Ulamâ’ (Nilai Waktu bagi Para Ulama). Kitab ini menjelaskan tentang urgensitas waktu, nikmat waktu, serta memuat kisah-kisah inspiratif para ulama dalam memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tidak terbuang dengan percuma.
Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Dalam bahasa Indonesia kitab ini diterjemah oleh Direktur ACS (Annajah Center Sidogiri), Ustadz Ahyat Achmad dengan judul cover Menaklukkan Waktu dan sudah laku ribuan eksemplar.
Pada tahun 1973, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menderita serangan jantung dan harus dirujuk ke rumah sakit. Pada 1989, Syekh Abdul Fattah mengalami minus dalam penglihatannya. Puncaknya pada akhir Sya’ban 1996 penglihatan beliau semakin parah. Kondisi Syekh Abdul Fattah terus memburuk hingga pada Ahad, 9 Syawal 1417 atau 16 Februari 1997 meninggal dunia.
Beliau dikebumikan di pemakaman Baqi’ di Madinah selepas shalat Isya pada 10 Syawal 1417. Seluruh kaum Muslimin di dunia terutama di Makkah, Madinah, Aleppo, Istanbul, Luknow, Beirut, dan Rabat terasa kehilangan sosok ulama yang gigih dalam mengajar, berdakwah, dan menulis karya.




