Alam setelah kematian memang selalu menarik untuk diulas. Keterbatasan manusia untuk menyingkapnya memunculkan beragam mitos yang tak jelas. Kemajuan pengetahuan dan teknologi tidak mengubah apapun tentang keterbatasan ini. Satu-satunya informasi valid berasal dari wahyu ilahi. Bentuk kehidupan dan interaksinya tentu berbeda dengan kehidupan di dunia. Kronologi peristiwanya juga perlu diketahui agar menjadi bahan renunganbagi yang masih hidup. Walaupun tidak sedetail yang diinginkan setiap orang, informasi ini setidaknya menjadi penegas bahwa alam barzakh benar-benar nyata dan bukan cerita fiksi.
PRISTIWA DI ALAM BARZAKH
Secara garis besar kehidupan manusia terbagi menjadi tiga. Pertama, kehidupan di alam dunia; kedua, kehidupan di alam barzakh; ketiga, kehidupan di alam akhirat. Kehidupan di alam dunia bermula sejak manusia diciptakan oleh Allah dan berakhir ketika ia mati, sedangkan kehidupan alam barzakh bermula sejak ia mati sampai dibangkitkan dari kubur kelak pada hari kiamat, sedangkan kehidupan di alam akhirat dimulai sejak dibangkitkannya manusia dari kubur dan tidak ada batas akhirnya (abadi).
Kajian pada edisi kali ini fokus membahas kehidupan manusia di alam barzakh. Alam barzakh atau disebut juga dengan alam kubur termasuk pembahasan alam gaib (ghaibiyyât) yang harus di imani oleh setiap orang. Imam Ibnu Manzhur dalam Lisânul-Arab menjelaskan, barzakh secara bahasa memiliki arti pemisah, pembatas, atau penghalang (hâjiz) di antara dua perkara. Oleh karena itu, sesuatu yang menjadi antara satu hal dengan yang lain secara bahasa disebut barzakh. Dalam al-Quran surah ar-Rahman ayat 19-20 Allah berfirman:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِ
“Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.”
Ketika kata barzakh ini dikaitkan pada alam dunia dan alam akhirat, berarti yang dimaksud barzakh di sini adalah pembatas antara dunia dan akhirat. Lebih jelasnya, Imam Ibnu Manzhur mengatakan:
والبَرْزَخُ مَا بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَبْلَ الْحَشْرِ مِنْ وَقْتِ الْمَوْتِ إِلى الْبَعْثِ، فَمَنْ مَاتَ فَقَدْ دَخَلَ البَرْزَخَ
Barzakh adalah pembatas antara dunia dan akhirat sebelum dikumpulkan di akhirat, mulai waktu mati sampai dibangkitkan dari kubur. Orang yang sudah mati, berarti dia telah masuk ke alam barzakh.
Ketika seseorang sudah meninggal dunia, berarti dia telah memasuki fase kehidupan baru, yakni fase kehidupan alam barzakh, sebab dia berada di antara dunia dan akhirat. Dia sudah tidak lagi berada di alam dunia, tetapi belum berada di alam akhirat. Secara umum, berikut ini merupakan hal yang dialami manusia selama berada di alam barzakh:
PERTANYAAN MALAIKAT
Banyak sekali hadis yang menjelaskan tentang pertanyaan malaikat di alam kubur ini, sehingga tidak bisa disebutkan satu persatu. Hadis-hadis tersebut kebanyakan merupakan penjelas dari surah Ibrahim ayat 27:
يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
| BACA JUGA: AMAL RINGAN BERPAHALA BESAR BAGIAN (1)
Rasulullah menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan azab kubur. Di alam kubur ada malaikat yang bertanya kepada ahli kubur. Orang mukmin yang bisa menjawab pertanyaan malaikat berarti dia telah diteguhkan dengan ucapan yang teguh, sebagaimana ayat di atas. Imam Muslim meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah bersabda, “Dikatakan kepada ahli kubur, ‘Siapa Tuhanmu?’ Kemudian ahli kubur menjawab, ‘Tuhanku Allah, nabiku Muhammad.’
Beda halnya dengan orang mukmin yang bisa menjawab pertanyaan malaikat, dalam riwayat Imam ath-Thabrani dari hadisnya Shahabat al-Bara’ bin Azib Rasulullah bersabda, “Dikatakan kepada orang kafir, ‘Siapa Tuhanmu?’ orang tersebut menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Ketika itu orang kafir tersebut menjadi tuli, buta, dan bisu, lalu dipukul dengan palu besar yang mana seandainya sebuah gunung dipukul dengan palu tersebut niscaya menjadi butiran debu. Semua makhluk mendengar suara pukulan palu tersebut kecuali jin dan manusia (ats–tsaqalain).
DIHIMPIT KUBURAN
Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Sayyidah Aisyah, Rasulullah bersabda:
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً لَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
“ Sesungguhnya kuburan bisa menghimpit. Seandainya ada seseorang yang selamat dari himpitannya, niscaya Saad bin Muadz juga selamat.”
Imam al-Munawi dalam Faidhul–Qadir menjelaskan, kuburan itu bisa menghimpit dan tidak ada yang selamat dari himpitannya, baik itu orang saleh maupun orang yang bejat. Hanya saja, himpitan tersebut akan abadi terhadap orang kafir dan tidak akan abadi terhadap orang mukmin.
Imam Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari Muhammad at-Taimi, dikatakan bahwa asalnya kuburan itu adalah seorang ibu. Orang-orang diciptakan darinya lalu mereka pergi meninggalkannya pada masa yang lama. Ketika mereka dikembalikan, maka kuburan itu akan mendekapnya sebagaimana seorang ibu mendekap anaknya yang sudah lama pergi. Jika orang itu taat kepada Allah, niscaya kuburan itu akan mendekapnya dengan lemah lembut dan kasih sayang. Namun, jika orang tersebut ahli maksiat, maka kuburan akan menghimpitnya dengan kasar karena murka dari Allah.
DIPERLIHATKAN SURGA DAN NERAKA
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Shahabat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, “Ketika salah seorang dari kalian mati, maka akan diperlihatkan tempatnya setiap pagi dan petang. Jika dia termasuk ahli surga maka akan diperlihatkan surga, jika dia termasuk ahli neraka maka akan diperlihatkan neraka sampai ia dibangkitkan oleh Tuhan-Nya. Dikatakan kepadanya, ‘Ini adalah tempatmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari kiamat.”
Dalam riwayat lain dari Imam Nafi’ dari Shahabat Ibnu Umar, Nabi bersabda, “Tidaklah seorang hamba meninggal dunia kecuali diperlihatkan kepada ruhnya, jika ia termasuk ahli surga maka diperlihatkan surga, jika ia termasuk ahli neraka maka diperlihatkan neraka.”
AZAB KUBUR DAN NIKMAT KUBUR
Sebagaimana dalil-dalil kejadian di alam kubur yang lain, dalil terkait azab dan nikmat kubur juga sangat banyak. Salah satu bukti bahwa siksa kubur itu memang benar-benar ada adalah hadis Rasulullah yang mana beliau berdoa meminta perlindungan kepada Allah dari siksa kubur. Rasulullah juga pernah bersabda, “Siksa kubur itu benar adanya.” (HR al-Bukhari).
Azab kubur ada banyak macamnya. Disebutkan dalam kitab Ahwâlul-Qubur wa Ahwâlu Ahliha ilan-Nusyûr karya Imam Ibnu Rajab, azab kubur ada yang berupa dipukulnya ahli kubur, baik menggunakan palu atau yang lain, diserang oleh kalajengking dan ular, diremukkannya kepala ahli kubur dengan batu, disobek rahangnya, dan dihimpit kuburan.
Terkait nikmat kubur, Rasulullah pernah bersabda, “Orang mukmin di dalam kuburnya berada di taman yang hijau dan kuburannya diluaskan seluas tujuh puluh dzira’, dan di dalam kuburnya diterangi sebagaimana rembulan purnama.” (HR al-Baihaqi)




