(REFLEKSI FENOMENA CITAYAM FASHION WEEK)
Sejak beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia dihebohkan dengan fenomena pertunjukan fashion atau Citayam Fashion Week (CFW) di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) yang terletak di Jakarta Selatan. Pertunjukan fashion ini didominasi oleh kalangan remaja yang umumnya mengalami putus sekolah dan pengangguran, meski ada pula bapak-bapak dan ibu-ibu yang sesekali ikut serta meramaikannya.
Pertunjukan CFW bermula ketika sejumlah anak muda asal Citayam, Bojong Gede dan Depok tidak menjadikan kawasan SCBD sebagai tempat nongkrong dan berswa foto saja, tetapi juga ajang pamer fashion layaknya model dengan melakukan catwalk di atas zebra cross. Kegiatan tersebut kemudian viral di media sosial sehingga orang-orang sekitar berdatangan untuk melihat secara langsung aksi Citayam Fashion Week.
Namun realitanya, dalam kegiatan Citayam Fashion Week tidak hanya sebagai ajang pertunjukan fashion, tetapi disinyalir sebagai penanaman benih-benih perilaku yang menjurus kepada LGBT di tempat CFW berlangsung. Perilaku tersebut menyasar kaum muda yang notabenya masih seumuran anak tingkat SMP dan SMA. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah ABG laki-laki yang berdandan bak perempuan dan bergaya sebagaimana layaknya seorang perempuan.
Ada pula yang menganggap bahwa kegiatan CFW adalah bentuk kreatifitas para remaja yang perlu dilestarikan dan tidak perlu dipermasalahkan asal mereka menjaga ketertiban, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengganggu orang lain, tidak berbuat kriminal dan sebagainya. Anggapan sedemikian tentu kurang tepat karena mengukur standar kepantasan publik dan ketertiban umum hanya secara empiris. Jika suatu tindakan atau perilaku cukup dilihat dari sisi empirisnya saja, maka perjudian, pesta minuman keras, dan bahkan perzinaan di ruang publik juga akan diasumsikan tidak apa-apa selama hal tersebut menjaga ketertiban, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mengganggu orang lain.
Hal terpenting yang perlu diperhatikan oleh semua kalangan sebetulnya adalah masa depan generasi bangsa. Kebanyakan yang tergabung dalam komunitas CFW merupakan remaja yang putus sekolah, pengangguran yang
| BACA JUGA: Pelangi, Warna-Warni Kesablengan Kaum LGBT
kerjaannya hanya nongkrong menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Padahal pemuda merupakan penerus bangsa, mereka yang kelak menakhodai keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia. Sebuah pepatah Arab yang masyhur disampaikan oleh Syekh Musthafa al-Ghulayaini,
شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ إِنَّ فِي يَدِكُمْ أَمْرَ الْأُمَّةِ وَفِي أَقْدَامِكُمْ حياتها
“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Sesungguhnya di tanganmu-lah urusan bangsa dan dalam langkahmu tertanggung masa depan bangsa.”
Apa yang disampaikan beliau adalah sebuah nasihat dan pengingat bahwa seorang pemuda adalah pemimpin di masa yang akan datang. Mereka yang nantinya akan meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa dalam melanjutkan estafet dan keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, para pemuda juga memiliki tanggung jawab sebagai agen perubahan, pembangunan, pendidikan untuk meningkatkan mutu dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Hal senada juga pernah disampaikan oleh Bung Karno, berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan aku goncangkan dunia. Bung Karno tentu mengerti potensi yang dimiliki seorang pemuda sehingga jika ia diberikan sepuluh pemuda maka dunia akan bergoncang. Artinya, peran para pemuda sangatlah besar, ia mampu melakukan hal-hal strategis yang dapat mengubah kehidupan suatu bangsa.
Maka, sangat ironis jika kemudian kita membiarkan generasi muda tetap berada pada jalan yang salah, membiarkan mereka sibuk mencari kesenangan semata, sibuk mengisi waktu dengan aktivitas yang tak berguna. Semua elemen masyarakat harus sadar jika generasi muda yang nantinya menjadi pemimpin bangsa ada pada jalan yang salah, hidupnya tidak terarah, pada pendidikan acuh tak acuh, niscaya ia tidak akan mampu menjalankan kepemimpinannya sebagaimana mestinya. Wallahu a’lam.




