Nama: Kiai Taufiq Malik, S.Pd.I
TTL: Lumajang, 15 Februari 1976
Alamat: Pondok Pesantren Al-Maliki
Ayah: KH. Abdul Malik Syarif
Ibu: Ny. Hj. Siti Rohmah
Putra-putri: Nailah El Amany, Ach. Amir Syarifuddin, Atana Aysyah Syarifah, Muhammad Kholil Syarif
Istri: Nailiyyatul Muna
Pendidikan: Pondok Pesantren Sidogiri
Aktivitas: Pengasuh PP. Al-Maliki, Kepala Ranting MMU B-62, Ketua HMASS Lumajang
Tahun masuk PPS: 1995 M
Tahun keluar PPS: 2001 M
Sebelum mondok, Kiai Taufiq muda mengaku suka keluyuran dan jarang berada di rumah. Hingga suatu ketika, menjelang wafat kakeknya berpesan, “Awakmu mondok. Nerusno pondoke Abahe! Pakai sarung, pakai gempyak.” (Kamu mondok. Melanjutkan pondok Abahmu! Pakai sarung dan bakiak).
Sang Abah pun pernah mengancam beliau jika enggan nyantri, “Mau di mana kamu besok pulangnya. Kamu besok anak saya yang gak ada gunanya.” Akhirnya, selain karena tidak ada pilihan lain, Taufiq muda juga sudah lelah setelah sekian lama keluyuran dan berkelana ke sana kemari. Saat itu beliau merasaini sudah waktunya kembali ke tujuan utama. Akhirnya setelah sang kakek wafat, beliau mengikuti wasiat sang kakek sekaligus perintah sang abah untuk melanjutkan study-nya ke Pondok Pesantren Sidogiri, karena Abah beliau, Kiai Malik juga merupakan alumni PPS.
DARI ABDUR ROFIQ KE TAUFIQ MALIK
Ketika muda nama yang disandang oleh Kiai Taufiq adalah Abdur Rofiq. Karena sering sakit, sering tidak disiplin dan sering tidak pulang, akhirnya nama beliau diganti oleh sang abah menjadiTaufiqurrohman Malik, atau Taufiq Malik. Setelah ganti nama itu, beliau mulai resmi menjadi santri di Pondok Pesantren Sidogiri. Nama Taufiq Malik inilah yang hingga saat ini lebih melekat pada diri beliau. Kiai Taufiq juga mengaku lebih suka dipanggil Taufiq Malik daripada Abdur Rofiq, karena nama itulah yang beliau gunakan saat menjadi santri PPS.
MENGAJI KE ABAH, BELAJAR UMUM KE ORANG LAIN
Ada yang unik dari cara Kiai Malik— Abah Kiai Taufiq—mendidik putra-putrinya. Semua putranya disekolahkan hingga jenjang kuliah. Prinsip Kiai Malik, “Nek ngaji ke saya. Biar kalau umum ke orang lain.” Dulu memang banyak tetangga yang menertawakan, wong anaknya Kiai kok disekolahkan umum. Akhirnya yang sekarang terlihat justru semuanya menjadi orang yang bermanfaat, bahkan ada yang jadi bupati. “Saya pun S-1-nya atas anjuran Abah saya. 2001 saya menikah, 2003 sayapunya anak, 2004 itu saya disuruh kuliah sama Abah saya,” kenang Kiai Taufiq.
Ada dua hal penting yang melatarbelakangi anjuran sang abah pada Kiai Taufiq untuk kuliah: “Pertama, Abah tahu bahwa ke depan kiai itu harus sarjana. Jika hal itu diterapkan, dan saya tidak sarjana, mau dikasihkan ke siapa pondok ini. Kedua, saudara saya semuanya S-2, jika saya sendiri tidak S-1. Besok anak saya bakal bertanya-tanya, ‘Loh abah saya ini tidak S-1, sedang yang lain S-2. Ngapain aja abah saya ini?’ Saya dulu PD, wah saya ini meskipun bukan S-1, tapi saya ini mondok. Tapi Abah saya lama-lama begitu dawuhnya ke saya. Akhirnya saya kuliah di Syarifuddin,” jelas Kiai Taufiq.
| BACA JUGA: ISLAM ARAB ISLAM ABAL-ABAL?
KETUA HMAAS TERTUA SE-INDONESIA
Saat ini Kiai Taufiq menjabat sebagai Ketua HMASS wilayah Lumajang. Taktanggung-tanggung, beliau sudah diamanahi jabatan ini selama tiga periode berturut-turut. Bahkan, dirinya juga termasuk salah satu Ketua PWHMASS tertua di Indonesia. Meski begitu, tugas yang diembannya ia jalankan dengan sepenuh hati. Karena beliau memiliki prinsip jika sudah diberi amanah oleh Pondok, maka tidak ada pilihan lain kecuali sami’na wa atha’na (mendengarkan dan patuh, red).
Selain menjadi Ketua HMASS, Kiai Taufiq juga aktif dalam Kegiatan Subuh Berjamaah (KSB) IASS Lumajang. Dalam kegiatan ini Kiai Taufiq acapkali diminta memberikan wejangan untuk para alumni.
SKILL BERBISNIS
Di balik sosok yang saat ini mengasuh Pondok Pesantren Al-Maliki ini ternyata ada skill tersembunyi berupa kemampuan berbisnis yang di atas rata-rata. Di antaranya adalah kemampuan melakukan penjualan (sales) yang kuat. Saking mahirnya, banyak orang melirik beliau untuk menjadi leader saat hendak me-launching sebuah produk, dan ada juga yang membikin bisnis diatasnamakan beliau. Hanya saja karena ingin lebih fokus ke dunia pendidikan di pesantren Abahnya, beliau tidak menolak tawaran dari para pebisnis yang ingin menjadikan beliau leader.
MENJADI JURAGAN PULSA
Setelah menjalani karier sebagai sales, Kiai Taufiq juga sukses menjadi juragan pulsa. Sejak 2004 Kiai Taufiq sudah memiliki bisnis server pulsa. Bisnis itu terus dilakoninya hingga saat ini. Bisnis ini mencapai puncaknya di tahun 2011—2017. Saat itu laba bersih yang beliau dapatkan dalam satu bulan mencapat 105 hingga 110 juta. Uang itulah yang beliau gunakan untuk membangun Madrasah Aliyah Al-Maliki. Selain pembangunan gedung, seragam para murid dan gaji para guru selama 3 tahun pertama berdirinya Madrasah ini murni dibiayai oleh beliau.
Dalam mengurus server pulsa ini beliau dibantu oleh 3 orang karyawan. Mereka tidak diberikan target khusus sehingga lebih bisa menikmati pekerjaan mereka.
JANGAN SUKA MEREMEHAN ORANG LAIN
Dalam mendidik santri-santrinya, Kiai Taufiq memiliki prinsip jangan suka meremehkan orang lain. “Nek gak pinter, ya biarkan gak pinter. Allah taala pasti memberikan kelebihan lain,” tutur Pengasuh Al-Maliki ini. Beliau mengaku bahwa dirinya tidak suka jika ada anak yang dimarahi gara-gara tidak pintar. Karena di balik itu dia pasti diberikan oleh Allah kelebihan lain. Namun jika dimarahi karena tidak disiplin beliau sangat mendukung.
Beliau yang mengaku tidak pintar justru bisa menjadi seorang bos pulsa, sekaligus menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Maliki. “Sing pinter ya disyukuri karena itu pemberian Gusti Allah,” lanjut beliau.
TERNYATA SANTRI BISA
Di balik semua pencapaiannya sosok Kiai yang humble ini berpesan bahwa ternyata Santri Sidogiri itu bisa. Dulu yang dikira tidak bisa ternyata bisa. Jika ada yang mengatakan kalau santri tidak bisa mengurusi sekolah formal. Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia banyak kiai-kiai yang mendirikan lembaga hingga perguruan tinggi. Jika ditelusuri apakah beliau-beliau seorang profesor? Ternyata tidak. “Jadi jangan dibalik pikirannya. Yang bisa segalanya itu ya memang santri,” tegas Kepala Ranting B-62 ini.
Di antara kunci kesuksesannya, Kiai Taufiq menuturkan bahwa semua yang didapatkannya adalah semata-mata karena doa orang tua dan berkat keberkahan Sidogiri. Beliau mengakui bahwa dirinya selalu bertawasul kepada para Masyayikh karena itu yang menjadi kunci kekuatannya. “Saya kalau tidak tawasul setelah shalat, saya ini bingung. Kayak ada kekuatan yang hilang. Andaikan saya waktunya sakti, saya jadi gak sakti. Itu kalau belum tawasul. Itu saya. Orang-orang ada yang anti tawasul, tapi ada saya yang ndak tawasul gak enak,” terangnya.




