Gelar Kebangsaan Romawi

Bila melihat gelar beliau, ar-Rumi, mungkin kita akan menyangka bahwa beliau adalah salah satu shahabat Nabi berkebangsaan Romawi. Namun, hal itu bisa dipastikan keliru, karena beliau adalah keturunan Arab asli. Ayahnya berasal dari Bani Numair, dan ibunya berasal dari Bani Tamim. Lantas, mengapa shahabat Shuhaib dinisbatkan kepada bangsa Romawi? Ternyata, ada kisah yang melatarbelakanginya.

Sekitar 2 dekade sebelum masa kenabian, ada seorang yang menjadi gubernur daerah Al-Ubullah, bernama Sinan bin Malik An-Numairi. Dia menjadi seorang gubernur dalam rezim Kisra Raja Persia. Anak yang paling dicintai oleh Sinan adalah seorang anak yang belum genap berusia 5 tahun dan ia panggil dengan nama Shuhaib.

Suatu ketika, ibu Shuhaib membawa Shuhaib kecil dan rombongan yang terdiri dari para kerabat dan pembantunya ke sebuah kampung bernama ats-Tsani di Negeri Iraq untuk beristirahat dan jalan-jalan. Tiba-tiba, sebuah pasukan tentara Romawi menyerang kampung tersebut. Membunuh para penjaga, mencuri harta dan menawan penduduknya. Salah seorang yang menjadi tawanan adalah Shuhaib kecil.

Shuhaib dijual di pasar perbudakan Romawi. Ia mengalami pergantian tuan, dan selalu berpindah dari tuan yang satu kepada yang lain. Dalam kondisi demikian, ia seperti ribuan budak baru lainnya yang bertugas di istana-istana negeri Romawi.

Dengan peristiwa ini, orang-orang Mekah lebih mengenalnya dengan Shuhaib ar-Rumi, karena bahasanya yang sulit dimengerti pada awal-awal kedatangannya, serta rambutnya yang berwarna merah.

Kabar Pendeta Nasrani Tentang Kedatangan Nabi

Sejak menjadi budak orang-orang Romawi, Shuhaib tumbuh dewasa di negeri Romawi dan besar di antara penduduknya. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan dan budaya mereka, bahkan saking lamanya di Romawi, dia hampir lupa bagaimana keadaan tanah kelahirannya. Tapi bagaimanapun, di dalam hatinya tidak pernah sirna bahwa ia adalah seorang berkebangsaan Arab yang pernah tinggal di tengah padang pasir. Kerinduannya tidak pernah pupus hingga pada hari ia dibebaskan.

Setelah bebas, Shuhaib langsung menuju tanah asalnya. Ia semakin rindu kepada negeri Arab saat ia mendengar seorang pendeta Nasrani pernah berkata kepada salah seorang tuannya, “Sudah dekat datangnya sebuah zaman di mana akan muncul di Jazirah Arab seorang Nabi yang membenarkan ajaran Isa putra Maryam, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.”

Ia langsung menuju ke Mekkah dan jantung Arab tempat diutusnya seorang Nabi yang telah dinantinanti. Dia bergabung dengan salah seorang pembesar di Mekah yang bernama Abdullah bin Jud’an. Ia lalu bekerja sebagai seorang pedagang, maka datanglah kebaikan dan harta yang banyak pada dirinya. Namun, meski Shuhaib telah sibuk dengan perdagangan dan usahanya, ia tidak melupakan ucapan pendeta Nasrani dulu. “Kapankah perkataan pendeta itu akan terjadi?” bersitnya dalam hati.

Hingga suatu hari, sekembalinya Shuhaib dari perjalanannya, ada yang mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah baru saja diutus sebagai Nabi, dan kini ia berdakwah kepada manusia untuk beriman kepada Allah. Mengajak mereka untuk berbuat adil dan baik. Melarang mereka berbuat keji dan mungkar.

Shuhaib bertanya, “Bukankah dia adalah orang yang dikenal oleh penduduk Mekah dengan al-Amin (orang yang terpercaya)?” Orang tersebut menjawab: “Ya, benar!” mendengar jawaban itu, shuhaib langsung mendatangi Rasulullah yang waktu itu berada di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam, di dekat bukit Shafa.

Sesampainya di sana, ia menjumpai Ammar bin Yasir, orang yang memang sudah dia kenal sebelumnya. Shuhaib agak grogi, sejenak ia menghampirinya lalu berkata, “Apa yang kau hendak lakukan, ya Ammar?” Ammar lalu bertanya balik: “Engkau sendiri?” Shuhaib menjawab, “Aku ingin menjumpai orang ini untuk mendengarkan apa yang ia katakan.” Ammar membalas, “Akupun hendak melakukan hal yang sama.” Shuhaib berkata: “Kalau begitu, mari kita masuk sama-sama dengan berkah Allah!”

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi dan Ammar bin Yasir menjumpai Rasulullah dan mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Lalu cahaya keimanan terbit di hati mereka berdua. Keduanya berlomba untuk menjulurkan tangan mereka ke arah Rasulullah. Keduanya bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya. Keduanya menghabiskan hari mereka bersama Rasul untuk menyerap petunjuk beliau dan menemani beliau sepanjang hari.

Hijrah Menyusul Rasulullah

Sebab keputusannya, Shuhaib merasakan penyiksaan yang dilakukan oleh para suku Quraisy. Bersama shahabat Bilal, Ammar, Sumayyah, Khabbab dan beberapa shahabat yang lain, Shuhaib merasakan kebengisan suku Quraisy yang jika dipindahkan ke gunung, pasti gunung tersebut akan hancur berantakan. Shuhaib merasakan semua penderitaan itu dengan jiwa yang tenang lagi sabar.

Begitu Rasulullah mengizinkan para shahabatuntuk berhijrah ke Madinah. Shuhaib berniat untuk berangkat bersama Rasulullah dan Abu Bakar. Akan tetapi orang Quraisy mengetahui rencana Shuhaib untuk berhijrah. Mereka menghalangi Shuhaib untuk melaksanakan niatnya. Suku Quraisy juga memasang beberapa orang untuk memata-matai Shuhaib agar ia tidak lari dari mereka. Mereka tidak rela bila shuhaib pergi membawa emas dan perak hasil perdagangannya.

Karena selalu diawasi, suatu malam yang dingin Shuhaib bolak-balik ke kamar kecil seolah-olah ia ingin buang air. Belum selesai dari buang airnya, ia kembali lagi ke kamar kecil. Melihat hal itu, salah seorang yang mengawasinya berkata, “Bersantailah kalian, Lata dan Uzza telah membuatnya mual-mual!” Kemudian mereka mulai merebahkan diri, dan tak lama kemudian mereka tertidur. Begitu mereka tak sadarkan diri, Shuhaib menyusup pergi dan menuju ke Madinah.

Tidak lama setelah Shuhaib pergi, para pengintai Shuhaib bangun. Mereka langsung menunggangi kuda-kuda mereka guna menyusul Shuhaib. Saat Shuhaib menyadari bahwa mereka menyusulnya. Ia berdiri di sebuah tempat yang tinggi, lalu mengeluarkan anak panahnya dari sarung. Ia mengarahkan busur sambil berkata: “Wahai bangsa Quraisy, demi Allah, kalian telah tahu bahwa aku adalah orang yang paling hebat dalam memanah dan paling tepat mengenai sasaran. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menangkapku sehingga setiap anak panah yang aku miliki dapat membunuh satu orang dari kalian. Lalu aku akan mengibaskan pedang kepada kalian, bila anak panah yang aku miliki telah habis!”

Salah seorang dari Quraisy menjawab, “Demi Allah, kami tak akan membiarkan engkau berlari membawa diri dan hartamu. Engkau dulu datang ke Mekah tanpa membawa apa-apa. Sekarang engkau telah kaya dan telah mencapai posisi seperti saat ini.”

Shuhaib lalu berkata, “Bagaimana bila aku tinggalkan hartaku. Apakah kalian akan membiarkan aku pergi?” Mereka menjawab: “Ya!”

Lalu Shuhaib menunjukkan tempat penyimpanan harta di dalam rumahnya di Mekah. Mengetahui hal itu, orangorang Quraisy yang mengejarnya kembali dan mendatangi tempat penyimpanan harta Shuhaib. Mereka membiarkan Shuhaib berangkat menuju Madinah.

Saat ia tiba di Quba, Rasulullah melihat Shuhaib datang. Rasul langsung menyambutnya dengan ramah seraya berkata: “Perdagangan untung, Ya Abu Yahya. Perdagangan untung!” Rasul mengulanginya sampai tiga kali, sebagai isyarat beliau setuju dengan tindakan Shuhaib, menukarkan harta bendanya dengan agama Islam. Shuhaib pun terus berjuang bersama Rasulullah hingga akhir hayat.

M. Muhsin Bahri/sidogiri