Tidak ada seorang muslim yang tidak berharap untuk berjumpa dengan baginda Rasulullah. Bagi orang yang mengetahui besarnya jasa beliau, keinginan untuk bertemu tentu sangat kuat. Namun, Rasulullah telah wafat belasan abad yang lalu. Selain berdoa agar dapat bersua dan berkumpul di surga, satu-satunya kesempatan besar untuk berjumpa di dunia adalah dengan memimpikan beliau. Tentu, bermimpi bertemu Rasulullah tidak dapat disamakan dengan mimpi-mimpi yang lain. Ada sekian perbedaan dan hikmah yang terkandung di dalamnya yang membuatnya istimewa.
Perbedaan terbesarnya, fisik Rasulullah tidak dapat ditiru oleh setan. Jika beliau terlihat dalam mimpi, bisa dipastikan bahwa orang tersebut benar-benar Rasulullah. Hal ini berdasarkan sabda beliau:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي
“Barang siapa melihatku di dalam mimpi maka ia benar-benar telah melihatku karena setan tidak dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhari Muslim)
Sebagaimana penjelasan Imam asy-Syarqawi dalam Fathul-Mubdî-nya, setan sama sekali tidak bisa meniru bentuk fisik Rasulullah dan juga tidak mampu berubah wujud menjadi seseorang lalu mengkhayalkan pada si pemimpi bahwa dirinya adalah Rasulullah. Salah satu hikmahnya agar setan tidak dapat berbohong atas nama Nabi meskipun dalam mimpi. Namun, apakah fisik yang terlihat itu benar-benar fisik Rasulullah semasa hidup ataukah hanya permisalan saja. Mengenai hal ini, ulama berbeda pendapat.
Menurut Imam Ibnul Baqillani, hadis tersebut menunjukkan bahwa mimpi yang dialami merupakan mimpi yang hak, bukan mimpi tanpa arti dan bukan ulah setan. Hal ini diperkuat dengan riwayatlain yang menggunakan kata faqad ra’al–Haqqa. Imam al-Ghazali juga berpendapat serupa, bukan berarti seseorang akan melihat fisik Rasulullah, melainkan akan melihat perumpamaan dari makna yang terkandung dalam mimpi tersebut. Dengan kata lain, orang yang bermimpi tersebut telah melihat perantara antara dirinya dengan diri Rasulullah yang menunjukkan pada suatu perkara hak. Pemahaman ini juga berlaku bagi orang yang mengaku bermimpi melihat Allah. Terlebih lagi, Rasulullah yang terlihat dalam mimpi sering kali berbeda dengan ciri-ciri fisik beliau saat masih hidup. Malah terkadang, ada yang bermimpi melihat beliau di dua tempat berbeda dalam satu waktu. Oleh karena itu, Imam al-Qadhi ‘Iyadh berpendapat, jika fisik yang terlihat sesuai dengan ciri-ciri fisik Nabi, berarti yang terlihat benar-benar Nabi. Akan tetapi, bila tidak sesuai maka mimpi tersebut perlu ditakwil.
Pendapat ini kemudian dibantah oleh Imam an-Nawawi dengan menyatakan bahwa semua bentuk fisik yang terlihat benar-benar Nabi meskipun ada yang tidak sesuai dengan ciri fisiknya. Pendapat ini diperkuat oleh suatu riwayat yang dikutip Imam Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa Rasulullah dapat terlihat dalam segala rupa. Perbedaan fisik yang dilihat bisa disebabkan distorsi dugaan dan khayalan yang berhubungan dengan kebiasaan yang dilihat oleh si pemimpi. Dalam adz-Dzakhâir-nya, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menyebutkan bahwa orang bermimpi melihat Nabi, apa yang terlihat olehnya tergantung pada sifat dan cermin hatinya. Jika cermin hatinya sempurna, maka yang terlihat juga sempurna. Begitu pun sebaliknya. Ibarat kamera, tinggi rendahnya kualitas foto yang diperoleh tergantung kualitas lensa dan kameranya, bukan objek yang difoto. Singkatnya, Rasulullah yang terlihat dalam mimpi itu benar-benar beliau, meski terlihat dengan berbagai rupa.
| BACA JUGA: ORANG MATI DAPAT MENDENGAR DAN MELIHAT (?)
Lantas, apakah manfaat bermimpi Rasulullah? Bagi para pecinta sejati, perjumpaan agung ini sangat bermakna untuk mengobati kerinduan dan menjadi kegembiraan yang tak terkira sehingga menjadi motivasi utama untuk lebih meneladani perilaku beliau. Perasaan ini pernah diungkapkan oleh seseorang kepada Miqdad bin al-Aswad, salah seorang Shahabat Nabi, “Beruntunglah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah. Demi Allah, kami sangat ingin melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan.” Kerinduan ini pun sangat dipahami oleh Rasulullah , sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya termasuk orang yang sangat mencintaiku adalah orang yang hidup setelahku dan sangat ingin melihatku sekalipun ditebus dengan keluarga dan hartanya.” (HR. Muslim)
Selain itu, pertemuan dengan Rasulullah dalam mimpi adalah pertanda akan berjumpa di alam nyata. Jaminan ini berdasarkan sabda Rasulullah:
مَنْ رَآنِي فِي المَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي اليَقَظَةِ، وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي
“Barang siapa melihatku di dalam mimpi maka ia akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga dan setan tidak dapat menyerupaiku.” (HR. al-Bukhari)
Menurut Imam an-Nawawi, terdapat tiga pandangan mengenai pengertian hadis ini. Pertama, orang yang bermimpi tersebut adalah umat pada zaman Rasulullah. Maksudnya, bila terdapat orang yang bermimpi berjumpa Nabi dan belum berhijrah, Allah akan memberinya pertolongan untuk berhijrah sehingga bisa berjumpa dengan Nabi secara langsung. Kedua, orang yang bermimpi tersebut akan melihat kebenaran mimpinya pada saat terjaga. Ketiga, orang tersebut akan melihat Rasulullah dalam keadaan terjaga di akhirat nanti secara khusus, seperti dari jarak dekat, memperoleh syafaat, dan semacamnya.
Menurut Imam Ibnu Abi Jamrah dan sekelompok ulama yang lain, hadis di atas berisi jaminan bahwa si pemimpi akan bertemu Rasulullah dalam keadaan terjaga dan hal ini termasuk salah satu bentuk karamah yang dimiliki para wali. Pernyataan ini diperkuat oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam al–Fatâwâ al-Hadîtsiyyah-nya dengan sedikit perincian. Bagi orang awam, pertemuan dalam keadaan terjaga lumrahnya terjadi sesaat sebelum kematiannya, sedangkan bagi selain orang awam, perjumpaan agung tersebut bisa terjadi sebelum masa sekaratnya, baik dalam jeda waktu yang sedikit ataupun lama, tergantung tingkat kelayakan, keterikatan dan ketekunannya mengikuti sunah Nabi. Tidak mengikuti sunah adalah penghalang utama untuk bertemu Nabi. Namun, bukan berarti orang tersebut akan berpangkat shahabat. Imam as-Suyuthi menegaskan bahwa pangkat shahabat hanya dapat diperoleh di alam dunia sebelum wafatnya Rasulullah.
Walhasil, orang yang bermimpi berjumpa Rasulullah memiliki tiga kelebihan. Pertama, mimpinya adalah mimpi yang benar secara syarak, bukan khayalan ataupun ulah setan. Kedua, apa yang dilihat dalam mimpi betul-betul merupakan wujud Rasulullah. Ketiga, jaminan baginya bahwa ia nantinya akan bertemu dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga saat di dunia. Yang perlu kita renungkan sekarang, seberapa pantas mimpi kita dikunjungi oleh Rasulullah?




