Semua orang pasti pernah bermimpi. Kadang dianggap pertanda baik, kadang juga sebaliknya. Alur mimpinya terkadang jelas, kadang terlalu aneh dan banyak pindah scene yang tidak jelas. Sebagian besar mengandung arti dan berkaitan dengan dunia nyata. Namun, sebagian lagi hanya kembang tidur dan kadang permainan setan. Dalam Islam, ada adab tertentu ketika kita telah bermimpi, baik maupun buruk. Masalah muncul ketika suatu mimpi berisi pesan tertentu yang langsung dianggap sebagai wangsit suci dan harus dilaksanakan tanpa melihat pertimbangan syariat dan akibat buruknya.
HAKIKAT MIMPI DAN ADAB MENYIKAPINYA
Setiap orang pasti pernah bermimpi, baik itu mimpi bagus atau mimpi buruk. Bahkan, ada yang sampai mencari ahli tafsir mimpi untuk menjelaskan mimpinya. Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian mimpi menurut para ulama. Para ulama mengistilahkan mimpi yang disenangi dengan ar-ru’yâ, sedangkan mimpi yang tidak disenangi disebut al-hilm.
Imam Ibnu Mulaqqin dalam Kitabut-Taudhih li Syarhil-Jami’ ash-Shahih mengutip pernyataan Imam al-Marizi bahwa hakikat mimpi menurut Ahlusunah wal Jamaah adalah keyakinan-keyakinan yang diciptakan oleh Allah di dalam hati orang yang sedang tidur, sebagaimana keyakinan-keyakinan yang diciptakan oleh Allah di dalam hati orang yang terjaga. Ketika Allah menciptakan keyakinan-keyakinan tersebut, seolah-olah Allah menciptakan pertanda terhadap hal-hal yang akan terjadi pada masa depan. Jika Allah menciptakan mimpi bisa terbang pada seseorang, padahal dia bukan burung, tentu orang tersebut akan meyakini bahwa mimpi bisa terbang itu tidak menunjukkan terbang secara hakikat, melainkan pertanda terhadap perkara lain, sebagaimana Allah menjadikan mendung sebagai pertanda turunnya hujan.
Pendapat Imamal-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Imam Abdur Rauf al-Munawi dalam Faidhul-Qadir, mimpi termasuk keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dan keindahan-keindahan fitrah manusia. Mimpi termasuk tanda- tanda paling jelas yang menunjukkan alam malakut. Hanya saja, banyak orang yang melalaikannya sebab mereka sering lalai terhadap keajaiban-keajaiban hati dan keajaiban-keajaiban alam. Imam al-Ghazali mengumpamakan hati laksana cermin yang mana di cermin tersebut hakikat-hakikat tampak jelas. Segala takdir sejak awal penciptaan alam hingga akhir zaman telah terukir di lauhul-mahfuzh. Lauhul-mahfuzh sendiri oleh Imam al-Ghazali diibaratkan seperti cermin yang bisa memantulkan berbagai macam gambar. Seandainya salah satu cermin tersebut dihadapkan pada cermin yang lain, niscaya setiap cermin tersebut akan saling memantulkan isinya, dengan catatan tidak ada penghalang di antara keduanya. Hati merupakan cermin yang memantulkan sebagian ilmu, sedangkan lauhul-mahfuzh merupakan cermin yang memantulkan keseluruhan ilmu. Kesibukan hati dalam menuruti syahwat dan keinginan-keinginan pancaindra menjadi penghalang untuk melihat isi dari lauhul-mahfuzh tersebut.
Sebagian ulama membagi mimpi menjadi tiga. Pertama, mimpi yang menjadi kabar gembira dari Allah, yakni mimpi yang baik. Kedua, mimpi yang menjadi peringatan dari setan. Ketiga, mimpi yang merupakan bisikan hati seseorang.
Terkait mimpi yang pertama, yakni mimpi baik yang menjadi kabar gembira dari Allah, Nabi Muhammad ketika menjelaskan firman Allah dalam surah Yunus ayat 64 yang artinya, “Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” Beliau bersabda, “Yang dimaksud berita gembira (dalam ayat di atas) adalah mimpi yang baik yang terlihat oleh orang Muslim atau yang diperlihatkan kepadanya.” (HR Ibnu Majah).
Kedua, mimpi yang merupakan peringatan dari setan adalah mimpi yang batil dan tidak bisa ditafsiri. Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan:
| BACA JUGA: Antara Qada’, Qadar dan Alur Kehidupan
Sesungguhnya salah seorang A’rabi mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi kepalaku terputus lalu aku mengikutinya.” Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang melalui sabdanya, “Janganlah kamu ceritakan permainan yang dilakukan setan kepadamu di dalam mimpi.” (HR Muslim)
Ketiga, mimpi yang merupakan bisikan hati, semisal seseorang mencintai kekasihnya lalu sampai bermimpi, atau sedang takut terhadap sesuatu lalu sampai terbawa mimpi, atau sedang lapar lalu dia bermimpi memakan sesuatu, atau sedang kekenyangan lalu bermimpi muntah, atau tidur di bawah terik matahari lalu dia bermimpi terbakar, atau salah satu anggota tubuhnya sedang sakit lalu dia bermimpi sedang disiksa.
Imam al-Ghazali menjelaskan, mimpi adalah bentuk inkisyaf (terbukanya tabir) yang tidak akan tercapai kecuali dengan hilangnya penutup hati. Oleh karena itu, mimpi tidak bisa dipercaya kecuali mimpinya orang saleh yang jujur. Orang yang banyak berbohong, mimpinya tidak bisa dibenarkan. Orang yang banyak berbuat kerusakan dan kemaksiatan hatinya akan gelap, sehingga mimpinya sebatas mimpi yang kosong. Oleh sebab itu, ketika akan tidur diperintahkan untuk bersuci terlebih dahulu supaya tidurnya dalam keadaan suci.
Ketika seseorang mengalami mimpi baik atau buruk, Rasulullah sudah mengajarkan adab-adabnya melalui beberapa hadis berikut:
“Mimpi baik itu dari Allah. Jika kalian bermimpi sesuatu yang kalian sukai, jangan kalian ceritakan kecuali pada orang yang juga ikut menyukai mimpi tersebut. Jika kalian bermimpi sesuatu yang tidak kalian sukai, maka memohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan dari keburukan setan, meludahlah tiga kali dan jangan kalian ceritakan pada siapa pun. Sesungguhnya mimpi buruk itu tidak akan membahayakan kalian.” (HR al-Bukhari).
Imam Ibnu Mulaqqin menjelaskan alasan seseorang yang bermimpi baik dilarang menceritakannya kecuali kepada orang yang juga menyukai mimpinya sebab orang yang menyukai pasti akan menafsirinya dengan baik, sedangkan tafsir mimpi itu tergantung penafsiran orang pertama, sebagaimana sabda Nabi, “Mimpi itu tergantung orang yang pertama menafsiri.” (HR Ibnu Majah). Tentu orang yang juga menyukai mimpi tersebut tidak akan menafsirinya dengan tafsir yang buruk. Beda halnya jika yang menafsiri adalah orang yang tidak suka, bisa jadi dia menafsirinya dengan tafsiran yang buruk dan terkadang tafsiran itulah yang mencocoki kenyataan.
Dalam hadis lain, ketika seseorang mengalami mimpi buruk juga dianjurkan untuk berpindah posisi tidur.
“Ketika kalian bermimpi yang tidak kalian sukai, meludahlah ke arah kiri tiga kali, memohonlah perlindungan kepada Allah dari setan tiga kali, dan hendaklah kalian berpindah dari posisi tidur semula.” (HR Muslim)
Ada juga perintah Rasulullah agar melaksanakan shalat ketika seseorang bermimpi buruk.
“Mimpi ada tiga. Kata hati, mimpi mengkhawatirkan yang datang dari setan, dan kabar gembira dari Allah. Barang siapa bermimpi sesuatu yang tidak disukai, jangan ceritakan kepada siapa pun, berdiri lalu shalatlah!” (HR al-Bukhari). Adapun adab yang dilakukan ketika seseorang bermimpi baik adalah memuji Allah dan tidak menceritaka mimpinya kecuali kepada orang yang juga menyukainya.
“Mimpi baik itu dari Allah. Jika kalian bermimpi sesuatu yang kalian sukai, pujilah Allah dan jangan kalian ceritakan mimpi itu kecuali kepada orang yang juga menyukainya” (HR Ad-Darimi).




