ULAMA SEKALIGUS PAKAR ZOOLOGI TERKEMUKA
Salah satu ulama Fikih yang juga menjadi pemerhati hewan adalah Syekh Kamaluddin ad-Damiri. Perhatiannya terhadap dunia binatang besar sekali. Berbagai informasi mengenai dunia binatang dikumpulkan olehnya lalu dikodifikasikan dalam bentuk buku yang judul cover-nya Hayâtul-Hayawân al-Kubra. Buku ini adalah sebuah ensiklopedia yang sangat cocok bagi para ahli zoologi, sebab di dalamnya memuat penjelasan sistem taksonomi atau klasifikasi khusus ilmu hewan serta kehidupan mereka.
Kamaluddin ad-Damiri lahir di Kairo pada tahun 742 H (1341 M) dan meninggal tahun 808 H/1405 M. Panggilan Ad-Damiri merupakan nisbat pada desa keluarganya, yakni Desa Damirah, salah satu pedesaan di Mesir dekat kota Dimyath. Setelah bekerja sebagai seorang tukang jahit beberapa waktu di kota kelahirannya, ia memutuskan untuk terjun ke dunia ilmu. Selang beberapa lama, ia pun menjadi seorang ulama Mazhab Syafii dan mengajar di beberapa institusi pendidikan di Kairo.
Beliau hidup di bawah pemerintahan Dinasti Mamluk di Mesir. Kita tahu dalam sejarah, Dinasti Mamluk mengalami gejolak dan konflik dengan negara-negara lainnya berulang kali. Dengan fakta ini, menjadi wajar jika kita dapati dalam biografi Syekh Kamaluddin ad-Damiri bahwa beliau berkali-kali pergi ke Haramain dan tinggal di sana beberapa waktu karena pergolakan politik yang tidak menentu itu. Beliau dijuluki juga “Ash-Shawwabi” karena ketajaman fatwa dan pendapatnya yang hampir selalu benar. Dalam hal kualitas spiritual, beliau dikenal sangat salih, banyak membaca al-Quran, berzikir, berpuasa dan berhaji. Karamahnya dicatat oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab “Dzail ad-Durar al-Kaminah”, di antaranya peringatan-peringatan Syekh Kamaluddin ad-Damiri terkait hal-hal yang akan terjadi dan ternyata benar menjadi kenyataan seperti yang beliau ucapkan.
Dalam bidang ilmu agama, Kamaluddin ad-Damiri belajar kepada sejumlah ulama masyhur, antara lain Imam Jamaluddin al-Isnawi, Imam IbnuAqil, seorang komentator ulung kitab Alfiyah Ibnu Malik, Syekh Bahauddin as-Subki, Ibnul Mulaqqin, dan al-Bulqini. Di bawah asuhan dan bimbingan ulama ulama tersebut, Kamaluddin ad-Damiri mulai meniti jalan dakwah, menyebarkan ilmu-ilmu keislaman dari satu majlis kemajlis yang lain. Salah satu karya Syekh Kamaluddin ad-Damiri dalam bidang Fikih yang populer sampai saat ini kitab An-Najmul-Wahhaj (bintang yang berkilau) yang merupakan komentar terhadap kitab karya Imam An-Nawawi, yakni Minhâjuth-Thâlibîn.
Selain piawai dalam berfatwa dan luas wawasannya dalam bidang agama, Kamaluddin ad-Damiri juga dikenal sebagai pakar dalam dunia binatang, sebab kecintaan, perhatian, dan antusiasmenya dalam meneliti dunia fauna tersebut. Magnum opusnya yang berjudul Hayâtul- Hayawân Al-Kubrâ mengantarkan sang ulama mendapat predikat pakar Zoologi yang tiada duannya pada masanya.
Kitab Hayâtul-Hayawân al-Kubrâ ini menjadi salah satu rujukan utama dalam dunia perbinatangan. Buku ini menjadi buku zoologi terbaik yang dimiliki ilmuwan Muslim sepanjang sejarah. Penerjamahan terhadap buku sudah banyak dilakukan di berbagai negara, di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris & diterbitkan dalam 2 jilid (London, 1906-1908).
| BACA JUGA: MENGENAL LIBERALISME: BERAWAL DARI SEJARAH YANG SALAH
Buku Hayâtul-Hayawân al-Kubrâ mulai ditulis oleh Syekh Kamaluddin ad-Damiri pada tahun 773 H (1271 M). Pada saat itu, dia masih berusia kurang lebih 31 tahun. Ini tentunya merupakan usia yang masih terbilang muda untuk menulis ensiklopedi besar yang dapat mengumpulkan berbagai informasi dari beberapa disiplin ilmu. Syekh Kamaluddin ad-Damiri menuturkan bahwa dia telah mengumpulkan bahan tulisannya dari 560 literatur. Dengan demikian, buku ini merupakan referensi besar yang jarang ditulis oleh para ilmuwan dalam bidangnya.
Syekh Kamaluddin ad-Damiri terus melakukan penyempurnaan terhadap karyanya yang satu ini. Pada tahun 1371-1372, kitab tersebut dilengkapi lagi daftarnya oleh sang penulis. Kitab Hayâtul-Hayawân Al-Kubrâ disusun menurut abjad. Secara garis besar, isinya meliputi pembahasan aspek fisiologi nama binatang, deskripsi hewan plus sifat dan kebiasaanya, sebutan hewan sesuai hadis, aspek hukum mengonsumsi hewan berikut diversitas pendapat ulama, praktik pengobatan melalui instrumen hewan, serta takwil mimpi tentang hewan tertentu.
Dalam penulisan nama-nama binatang, Syekh Kamaluddin ad-Damiri merujuk pada buku karya al-Jauhari dan Ibnu Sayyidih. Kemudian mengenai tabiat hewan, kerangkanya serta keistimewan organ tubuhnya yang berhubungan dengan kedokteran atau lainnya, merujuk kepada buku karangan al-Jahizh dan lainnya. Dalam segi hukum mengonsumsi hewan, merujuk kepada karya ulama Fikih empat mazhab. Kemudian untukpenjelasan takwil mimpi tentang hewan, Syekh Kamaluddin ad-Damiri merujuk kepada kitab Muntakhabul-Kalâm fi Tafsiril-Ahlâm karya Muhammad bin Sirin al-Anshari.
Dalam setiap pembahasannya, Kamaluddin ad-Damiri mengawalinya dengan menyebutkan nama binatang tersebut dari segi bahasa, pengucapan,makna, bentuk jamaknya, dan lain sebagainya. Setelah itu, dia menjelaskan tentang jenis hewan itu, ekosistemnya, karakternya, dan anatomi tubuhnya. Adakalanya Kamaluddin ad-Damiri menyebutkan ini semua secara bersamaan, atau cukup dengan menyebutkan sebagiannya saja sesuai jenis hewannya dan referensi yang ada.
Selain dari itu, Syekh Kamaluddin ad-Damiri juga memberikan tambahan pengetahuan biologi tentang hewan itu yang berasal dari buku-buku besar, seperti buku-buku syair, sastra, cerita, dan kisah lucu dengan tetap menyatukan manfaatnya secara ilmiah dan sastra sehingga enak dibaca dan dapat menghibur pembaca.
Pembahasan selanjutnya mengenai hukum halal dan haram mengonsumsi hewan berikut tafsir atau takwil mimpi tentangnya. Semisal takwil mimpi tentang semut. Semut yang terlihat dalam mimpi menunjukkan orang orang lemah yang tekun. Semut juga menunjukkan tentara, keluarga, dan kehidupan. Apabila ada orang yang bermimpi melihat semut masuk ke suatu desa atau kota, berarti ada tentara yang akan datang.



