Nama Pesantren: Pondok Pesantren Al-Maliki
Alamat: Duren Dawuhan Lor Sukodono Lumajang
Tahun Berdiri: 1958 M
Pendiri: KH. Abdul Malik
Pengasuh sekarang: KH. Taufiq Malik
Jumlah Santri: 400 (mukim) 900 (dengan non-mukim)
Pendidikan: MMU B-62 (Ranting Sidogiri), PAUD Al-Maliki, TK Al-Maliki, SDI Al-Maliki, SMP Al-Maliki, MA Al-Maliki
Pondok Pesantren Al-Maliki mulai dirintis sejak tahun 1956 oleh KH. Abdul Malik pasca pernikahannya dengan Nyai Siti Rohmah (putri Kiai Syarif, Pengasuh Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin Wonorejo Kedungjajang Lumajang). Kala itu mulai mendirikan Madrasah Diniyah yang kemudianberkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Maliki. Mulanya pesantren ini diberi nama Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Namun, sejak tahun 2000 berdasarkan kesepakatan dari Keluarga Pengasuh, pesantren ini berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al-Maliki. Nama ini terus digunakan hingga saat ini. Begitu pun seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Al-Maliki secara resmi menggunakan nama Al-Maliki.
Ranting MMU B-62
Sejak tahun 2012 Al-Maliki telah menginginkan untuk menjadi Ranting Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Pondok Pesantren Sidogiri. Namun keinginan itu baru terealisasi setelah Al-Maliki memiliki Madrasah Aliyah. Saat itu peresmian Pondok Pesantren Al-Maliki sebagai Ranting B-62 dihadiri langsung oleh Mas Aminullah BQ, Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri. Di tahun 2022, Al-Maliki tidak hanya menjadi Ranting Sidogiri tingkat Ibtidaiyah saja, tetapi juga sekaligus menjadi ranting Sidogiri jenjang Tsanawiyah.
Semenjak menjadi Ranting Pondok Pesantren Sidogiri, kegiatan santri Al-Maliki semakin teratur dan kemampuan mereka semakin meningkat. Kegiatan-kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri juga banyak diterapkan di A-Maliki. Selain itu, menurut penuturan Kiai Taufiq, Pengasuh Al-Maliki, berkat menjadi Ranting dari Madrasah Miftahul Ulum, saat ini banyak santri Al-Malikiyang sudah bisa membaca kitab kuning. Bahkan, ke depan Pengasuh merencanakan untuk mendirikan Mahad Aly, agar kemampuan para santri dibidang kitab kuning bisa lebih baik lagi.
Kiai Taufiq juga membeberkan bahwa banyak sekali manfaat yang dirasakan oleh pesantrennya setelah resmi menjadi Ranting Sidogiri. Santri yang dulunya sulit diatur, serta memiliki semangat yangrendah dalam mengkaji kitab kuning berangsur-angsur berubah menjadi jauh lebih baik setelah Al-Maliki resmi menjadi Ranting Sidogiri.
| BACA JUGA: MENU MAKAN RASULULLAH DAN SHAHABAT (2)
Pondok Pesantren Al-Maliki lebih mengedepankan pendidikan agama dibandingkan pendidikan formal. Bahkan ke depan, Pengasuh Al-Maliki juga menginginkan agar para santri juga siap untuk menjadi utusan Al-Maliki dalam kegiatan dakwah keliling di beberapa lembaga yang membutuhkan.
Ada di Tengah Masyarakat
Lokasi Pondok Pesantren Al-Maliki berada di tengah pemukiman masyarakat. Sehingga para santri juga berbaur dengan masyarakat sekitar pesantren. Dalam hal ini, Al-Maliki memiliki beberapa lokasipemukiman santri, pertama Daerah A yang difungsikan sebagai daerah umum, kedua, Daerah B yang dikhususkan untuk yang duduk di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan ketiga Daerah C yang dikhususkan untuk santri yang mengikuti program pembelajaran Bahasa Arab dan Asing (Anggota LPBAA).
Kegiatan Unggulan
Ada beberapa program unggulan yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Al-Maliki. Kebanyakan program unggulan di sini adalah program-program yang diadopsi dari Pondok Pesantren Sidogiri, di antaranya, Program baca kitab kuning Al-Miftah lil-Ulum, Metode Qurani Sidogiri (MQS), dan juga Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Asing (LPBAA). Tidak hanya program, beberapa staf pengajar yang menangani program-program
tersebut juga berasal dari Sidogiri, baik dari unsur Guru Tugas (GT), ataupun alumni. Selain itu, Al-Maliki juga memiliki program Tahfidz Al-Quran yang diperuntukkan bagi santri yang berminat menghafal ayat suci Al-Quran.
Selain program yang berbau pendidikan, Pondok Pesantren Al-Maliki juga membekali santrinya dengan ilmu berwirausaha. Di antaranya A-Maliki memiliki lahan peternakan ikan gurame yang terletak di areal tanah milik pesantren. Selain itu, Al-Maliki juga merintis bisnis kopi bubuk merk “Sae” dan ramuan wedang uwuh (semacam minuman kesehatan berwarna merah cerah yang memiliki rasa manis dan pedas dan aroma harum).
Kegiatan Pesantren
Kegiatan harian santri di Pondok Pesantren Al-Maliki bisa dibilang cukup padat. Dimulai dengan kegiatan shalat Tahajud, lalu dilanjutkan dengan Shalat Subuh berjamaah. Jam 06.15 WIB para santri mengikuti kegiatan pengajian kitab bersama Pengasuh. Seusai pengajian mereka dipersilahkan untuk mengambil jatah makan mereka dan sarapan di pagi hari. Setelah sarapan mereka berangkat ke sekolah dan melaksanakan shalat Duha berjamaah di sana. Pelaksanaankegiatan belajar mengajar formal ini berlangsung hingga waktu shalat Zuhur. Setelah berjemaah Isya’ para santri diwajibkan untuk melaksanakan shalat witir bersama-sama. Dilanjutkan kegiatan Musyawarah, dan ditutup dengan kegiatan Gerak Batin. Seluruh kegiatan di sini usai pada jam 21.30 malam.
Munculnya Al-Maliki 2
Perjalanan Al-Maliki dalam kelembagaannya tidak selalu berjalan mulus. Di tahun 2015,— saat sang pendiri, KH. Abdul Malik masih ada— Al-Maliki terpecah setelah sang kakak meminta izin memisahkan diri sekaligus mendirikan Pondok Pesantren Al-Maliki 2. Mulanya Kiai Malik sebagai muassis hanya menginginkan Al-Maliki tetap satu, tetapi karena kebulatan tekad, sang kakak tetap mendirikan Pondok Pesantren Al-Maliki 2.






