Untuk memiliki buah hati yang baik dan berakhlak mulia, seorang ayah dan ibu harus mendidik buah hatinya dengan didikan yang baik. Salah satunya adalah dengan mengajari anak bertutur kata yang sopan. Ada beberapa kata penting yang harus diajarkan orang tua kepada anaknya semenjak belia. Kata-kata itu adalah kata tolong, maaf, dan terima kasih. Tiga kata ini memang sederhana, tetapi mampu mengantarkan seorang anak tumbuh dengan akhlak yang mulia. Berikut uraiannya:
Tolong
Kata tolong adalah kata yang harus terus diajarkan oleh seorang ayah dan ibu kepada buah hatinya semenjak belia. Sebagai seorang anak yang memiliki keterbatasan dalam segala hal, tentu mereka kesulitan atau bahkan mungkin tidak bisa meraih apa yang mereka inginkan. Padahal di sisi lain, di usia usia mereka itulah, banyak hal yang mereka inginkan. Nah tentunya, karena mereka tidak bisa mewujudkannya dengan dirinya sendiri maka jalan satu satunya adalah meminta bantuan kepada orang lain. Beruntung jika yang mereka mintai tolong adalah ayah dan ibunya sendiri. Bayangkan jika seandainya anak tersebut meminta tolong kepada orang lain. Tentu saja permintaan anak tersebut merepotkan orang lain. Belum lagi kalau cara memintanya pakai rewel dulu, cerewet juga, atau bahkan ngamuk–ngamuk dan memaksa dengan nada bicara yang meninggi.
Nah, di sinilah, menurut Elly Risman Musa, psikolog spesialis pengasuhan anak, mengajarkan kata ‘tolong’ kepada anak semenjak dini dapat membantu mereka tumbuh dengan karakter yang baik dan memiliki tingkat sopan santun yang tinggi. Tentu saja, seseorang yang dimintai tolong untuk mengambilkan air yang ada di atas meja misalnya, akan respek dan segera mengambilkan air tersebut dengan senyum yang paling ramah, sebab si anak yang meminta diambilkan air tersebut mengawali permintaannya itu dengan kata ‘tolong’.
“Om, Ahmad minta tolong, ya. Ambilkan air di atas meja itu. Ahmad haus” ucap seorang bocah kepada orang yang tidak ia kenali sebelumnya. Resapi komunikasi barusan dan bayangkan dalam kehidupan Anda. Begitu sopan dan penuh tatakrama. Hati siapa yang tidak respek kepada bocah yang beretika demikian?!
Apabila orang lain saja merasa bahagia dengan kesopanan yang ditunjukkan oleh si anak tersebut, lantas bagaimana bahagianya ayah dan ibunya yang tiap hari bertatap mukadan bercengkerama dengan dirinya. Kata ‘tolong’ yang senantiasa diajarkan kepada anak akan membentuk karakter rendah hati. Pendidikan ini serupa dengan pendidikan adab-adab berdoa. Itu artinya, ketika seorang anak terlatihuntuk meminta sesuatu dengan diawali kata ‘tolong’ maka saat meminta sesuatu ia akan bersikap butuh, penuh sopan, dan tentunya tidak ada tanda-tanda congkak atau pun angkuh lagi sombong.
Kita langsung teringat pesan ayah ibu dan guru-guru madrasah dulu, “Muhammad, Aisyah, dan Fatimah, kalau berdoa yang sopan, ya. Kalian itu posisinya meminta kepada Allah. Jadi harus khusyuk dan beretika”.
Nah, bagaimana? Bagi Anda yang kebetulan jadi orang tua bisa Anda coba cara mendidik ini kepada buah hati Anda.
| BACA JUGA: ZIKIR ALPAMU TIDAK SIA-SIA
Maaf
Kata selanjutnya yang akan menyempurnakan karakter baik seorang anak adalah kata ‘maaf’. Tentu, sebagai makhluk yang hidup di dunia ini, manusia tidak akan pernah lepas dari salah da dosa. Selama nyawa dikandung badan, luput dan keliru pasti akan dilakukan. Entah itu sengaja maupun tidak sengaja. Lebih-lebih bagi seorang anak yang kerap melakukan kesalahan dan keteledoran akibat masih labil dan belum teguh dalam berpendirian. Untuk itu, Mohamma Fauzil Adhim, seorang pakar parenting menyampaikan bahwa mengajari anak untuk selalu ‘meminta maaf’ ataskesalahannya akan menumbuhkan benih-benih kedewasaan. Selain itu, meminta maaf ini juga bisa menjadi terapi kejiwaan.
Seorang anak sebagaimana kita tahu, ia tumbuh dan bersikap apa adanya; polos dan tampil dengan sejujurnya. Nah, dari sikap itulah, seorang anak banyak yang tidak mengerti soal sakit hati dan kecewa yang bercokol di hati orang lain sebab ulahnya yang menyinggung hati mereka. Seperti, misalnya, orang yang membantunya mengambilkan air di atas meja tersebut adalah orang yang gendut dan pendek. Tanpa ada angin sebelumnya, setelah si anak meminum air yang telah diambilkan tersebut, tiba-tiba mulutnya yang mungil dan polos itu menceletuk, “Om kamu kok gendut dan pendek sih”. Bagaimana? Bisa dibayangkan sendiri bagaimana sebal dan gusarnya orang tersebut. Sudah membantunya mengambilkan air, eh tahu-tahu dikatai seenak perutnnya.
Oleh karena itu, mengajarinya sopan dengan berkata ‘meminta tolong’ saja tidak cukup, orang tua juga perlu mengajari buah hatinya meminta maaf, agar setelah merepotkan dan membuat kesalahan kepada orang lain, kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut si anak tersebut adalah kata maaf. Seperti, misalnya, ia berkata kepada orang yang berjasa mengambilkan air tersebut “Maaf ya, Om, Ahmad sudah merepotkan Om. Lain kali Ahmad akan mengambilnya sendiri”. Tentu, respon untuk perkataan yang pertama dan kedua berbalik 180 derajat.
Terima kasih
Terakhir, kata ‘terima kasih’. Kata ini adalah kata pamungkas. Ibarat menu makan, kata ‘terima kasih’ adalah dessertsnya. Jika kata pembuka dan isinya baik maka kata penutupnya punharus juga baik. Nah, bisa kembali Anda bayangkan, setelah dimulai dengan meminta tolong dan meminta maaf karena telah merepotkan, buah hati Anda berkata “Om, terima kasih ya, sudah maumengambilkan air ini untuk Ahmad”. Anda sebagai orang tua yang berada di sisinya, yang kemudian mendengar dan melihatnya, tentu akan diliputi rasa bahagia yang luar biasa, telah dianugerahi seorang buah hati yang baik dan berakhlak mulia.
Seorang anak yang terdidik mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang berjasa kepada dirinya niscaya ia akan terbiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang ia terima. Mulutnya yang mungil dan polos pun akhirnya terbiasa berzikir kepada Allah Ta’ala. “Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah”.
Nah, dengan uraian di atas ini, kita menjadi tahu bahwa tiga kata sederhana ini dapat menjadi bahan ajar yang dapatmendidik anak tumbuh dengan beretika. Hubungan pendidikan antara orang tua dan anak ini merupakan representasi dari Hadis Nabi yang menjelaskan sikap saling menyayangi dan menghormati. Nabi bersabda; “Bukanlah termasuk golongan dari kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami.” (HR. At-Tirmidzi).



