SENJA KALA DUA IMPERIUM ADIDAYA
Kali ini kita kembali melanjutkan ulasan sejarah era Khulafa’ Rasyidun. Kajian terakhir–yang membahas penaklukan Syam pada masa Khalifah Umar, terhenti sudah cukup lama (edisi 137), meski sempat ditambah kajian spesifik mengenai Perang Yarmuk di edisi 160-161.
Kajian berikut adalah sajian pembuka mengenai latar belakang sejarah dua imperium adidaya sebagai lawan utama gerakan futuhat umat Islam yang dilancarkan secara massif pada periode Khulafa’ Rasyidun.
***
Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Imperium Persia adalah penguasa dunia dalam rentang waktu nyaris 4 abad. Di awal kemunculan Islam pada awalabad ke-7 M, dua kekaisaran adidaya ini sedang dalam puncak persaingannya. Mereka berebut menjadi kekuatan nomor 1 dunia, terutama di Timur Tengah, wabil– khusus kawasan Levant (Syam) yang menjadi perlintasan tiga benua.
Benar bahwa Bizantium-Sassaniyah adalah dua negara super power dunia, tapi keduanya sebenarnya tergolong “baru” di kancah politik internasional. Meski dekat dengan rahim peradabanmanusia di Mesopotamia, bangsa Persia di Iran selatan baru mengkonsolidasikan kekuatan politiknya pada 728 SM, lalu tak lama kemudian Deioces (Diokis, atau Dahyu-ka) membangun kekaisaran pertama yang berpusat di Hamadan (Ecbatana), 360 km barat daya Teheran.
Adapun cikal bakal Kekaisaran Bizantium adalah Kerajaan Romawi kuno, sebuah kerajaan kecil yang muncul pada tahun 753 SM, ketika Romulus menyatukan komunitas rakyatnya di bukit Palatium di Roma.
Sekitar 509 SM, kerajaan ini beralih menjadi negara republik dengan 2 konsul sebagai pemegang otoritas tertinggi. Sempat redup oleh pengaruh Hellenisme yang dibawa Aleksander dari Macedonia, tetapi pada abad terakhir era Sebelum Masehi, Republik Roma bangkit menjadi kekuatan baru yang disegani. Pada tahun 44 M, saat Gaius Julis Caesar didaulat menjadi diktator seumur hidup– beberapa pekan sebelum nyawanya dihabisi Markus Yunius Brutus di rumah Senate, sistem republik dibubarkan.Pendapat lain menyatakan bahwa sistem ini resmi berakhir ketika anak tiri Julis Caesar, Augustus Caesar naik takhta pada 27 SM dan mengubah Republik Roma menjadi imperium.
Di tangan kaisar pertamanya ini (27 SM-14 M), Imperium Romawi semakin maju dan berkembang. Puncaknya, di masa Kaisar Trajan (98-117 M), wilayah Kekaisaran Romawi membentang dari Kepulauan Britania di Barat hingga ke Mesopotamia Irak di ujung timur. Nyaris seluruh daratan Eropa dikuasai, Semenanjung Iberia, begitu pula pesisir utara Afrika hingga ke Mesir. Luasnya wilayah imperium ini mendorong pemisahan wilayah barat dan timur pada tahun 395 M, pasca meninggalnya Kaisar Theodosius I.
Memasuki abad ke-5, Kekaisaran Romawi Barat mengalami disintegrasi. Banyak wilayahnya lepas dan pengaruhnya semakin merosot drastis hingga runtuh pada tahun 480 M–belum sampai seabad setelah pemisahan. Sebaliknya, Kekaisaran Bizantium terus bangkit dan memperluas kawasannya. Beberapa wilayah bekas Romawi Barat berhasil direbut kembali oleh Kaisar Justinian I (527-565), meski Semenanjung Italia tidak lama kemudian lepas direbut bangsa Lombards (568 M).
***
Sementara itu, Imperium Sassaniyah merupakan dinasti bangsa Iran keempat yang menguasai kawasan Irak, Iran dan sekitarnya. Kemunculan dinasti-dinasti ini menggeser peradaban-peradaban kuno sebelumnya, seperti Babilonia, Assyiria dan Sumeria.
| BACA JUGA: MAZHAB POLITIK ULAMA KITA
Kekaisaran pertama Iran adalah Media, Madaya atau Medes. Mereka berkuasa pada periode 728-549 SM, dipimpin oleh 4 kaisar, mulai Kaisar Diokisdan berakhir ketika Astyages ditaklukkan dalam pemberontakan yang digalang oleh Cyrus II atau Khoresh Agung. Kekaisaran ini dipercaya memegang peranan penting dalam percaturan politik di kawasan Timur Tengah, sayangnya bangsa ini tidak memiliki sumber tertulis yang bisa dibuat untuk merekonstruksi sejarah mereka. Referensi tentang peradaban Media berasal dari sumber-sumber eksternal dari Assyria, Babilonia, maupun Yunani. Setelah runtuh akibat revolusi Akhemeniyah, kawasan Media tetap menjadi provinsi penting hingga berabad-abad kemudian.
Berikutnya Kekaisaran Akhemeniyah atau Hakhamanis. Imperium Persia pertama dalam sejarah, sekaligus dinasti Iran yang kedua. Dibangun oleh Khoresh–sosok yang kerap diyakini sebagai Dzul Qarnain yang diceritakan dalam al-Quran–pada tahun 559 SM dan berakhir ketika Darius III dikalahkan oleh Aleksander Agung pada tahun 334- 330 SM.
Kekuasaan Akhemeniyah berpusat di area antara sungai Tigris dan teluk Persia. Pada puncak kejayaannya, kekaisaran ini menguasai wilayah seluas 8 juta km 2, membentang dari Pakistan dan Afganistan di timur, sebagian Rusia di utara, Thrakia (kelak menjadi Konstantinopel), dan Makedonia di ujung barat, serta semua pusat pemukiman di Mesir kuno hingga ke Ethiopia.
Kekaisaran ini terkenal karena emansipasi terhadap perbudakan, terutama pembebasan orang-orang Yahudi yang dibuang pada era Nebukadnezar ke Babilonia. Mereka membangun infrastruktur semimodern seperti sistem pos dan transportasi, serta penggunaan bahasa resmi di seluruh wilayah kekaisaran. Inilah alasan mengapa bahasa Medes menjadi punah sepenuhnya, meskipun mereka berkuasa selama 1,5 abad lebih.
Kehebatan lainnya, Akhemeniyah menerapkan administrasi birokratis yang terintegrasi dan memiliki pasukan militer profesional yang ditopang pasukan wajib militer yang besar, mengilhami perkembangan serupa di kekaisaran- kekaisaran lain pada masa selanjutnya.
Pada tahun 334 SM, sepak terjang Aleksander III dari Makedonia menghabisi nyaris seluruh wilayah kekuasaan Akhemeniyah. Pada tahun 323 SM, Aleksander meninggal dalam usia muda, tanpa penerus. Akan tetapi, ia telah menempatkan jenderal-jenderalnya di seluruh daerah taklukkannya. Merekalah yang melanjutkan dominasi peradaban Helen hingga 1-2 abad selanjutnya.
Periode ini menandai vakumnya peradaban Iran dan Persia, dengan mayoritas bekas wilayah mereka dikuasai oleh Kekaisaran Seleukia yang berpusat di Tigris dan Kerajaan Ptolemaik (berpusat di Mesir).
Di abad ke-3 SM, tepatnya tahun 247 SM, kepala suku Aparni bernama Arsak membangun sebuah imperium besar di sebelah tenggara Laut Kaspia. Kekaisaran ini lebih dikenal sebagai Kekasairan Partia atau Partawa, merujuk nama daerah yang menjadi pusat pemberontakan Arsak melawan Kekaisaran Seleukia di timur laut Iran.
Kaisar-kaisar Parthia menyandang gelar “Syahansyah” atau raja diraja untuk mencitrakan diri sebagai penerus sah Dinasti Akhemeniyah yang lebih melegenda serta untuk menggugah nasionalisme rakyat Iran. Namun demikian, lebih dari setengah periode awal Partia, mereka lebih banyak mengadopsi unsur-unsur peradaban Yunani (Helenisme) warisan Seleukia, termasuk menjadikan bahasa latin sebagai bahasa resmi.
Pada tahun 224 M, kaisar Partia terakhir, Artabanos IV, ditaklukkan oleh penguasa Estakhr, Ardashir I dan menandai berdirinya Dinasti Persia kedua, yaitu Kekaisaran Sassaniyah.
Bersambung.




