Selain unik karena pulaunya, Sumenep juga menjadi salah satu kota di Pulau Madura yang menyiratkan berdirinya kerajaan-kerajaan pada masa silam. Adanya bukti fisik berupa asta atau bhuju’ (makam auliya atau raja yang dikeramatkan), keraton, dan beberapa monumen kuno merupakan bukti nyata bahwa Sumenep memiliki sejarah kerajaan yang sangat panjang. Dalam berbagai sumber tertulis, wilayah Sumenep mulai dikenal sejak akhir keruntuhan Kerajaan Singasari. Bukti kerajaan tersebut bisa kita lihat dengan adanya maqbarah (kuburan) para raja-raja seperti di tempat yang satu ini, Asta Tinggi.
Ya! Asta Tinggi merupakan salah satu pilihan wisatawan ketika mengunjungi destinasi wisata religi yang ada di Kabupaten Sumenep.
ASTA TINGGI
Asta Tinggi sendiri merupakan tempat peristirahatan terakhir raja-raja dan keluarga bangsawan Keraton Sumenep. Letaknya berada di atas perbukitan, di daerah Temor Lorong, Kebunagung, Sumenep.
Kompleks makam berada sekitar 2,5 kilometer arah barat dari Keraton Sumenep. Dalam bahasa Madura, Asta Tinggi disebut sebagai Asta Raja yang maknanya adalah makam para Pangradja atau para pembesar kerajaan. Asta berarti makam atau kuburan, dan tinggi di sini menunjukkan lokasi makam yang berada di daerah perbukitan. Jadi, Asta Tinggi merupakan kompleks pemakaman bagi raja-raja Sumenep beserta keluarganya di dataran tinggi.
Di lokasi, para peziarah tidak dipungut biaya apapun ketika hendak memasuki Asta Tinggi. Tetapi ada kotak amal untuk memberikan sejumlah infak atau sedekah. Biasanya peziarah yang bersama dengan rombongan diharuskan untuk mendaftar dulu. Ada beberapa ketentuan yang harus ditaati, seperti peziarah diharuskan melepas sepatu. Selain itu panitia biasanya mengimbau kepada peziarah untuk tetap menjaga wudhu dan memperbaiki niat.
Para peziarah juga akan menemukan nama-nama raja yang disemayamkan di Asta Tinggi. Nama-nama tersebut terpampang jelas di papan yang berada di pintu masuk, “Pasarean Raja-Raja Sumenep di Asta Tinggi: 1. Pangeran Pulang Jiwa, 2. Pangeran Jimat, 3. Temenggung Tirtonegoro (Bindara Saod), 4. Panembahan Notokoesoemo (Mohammad Saleh)”. Lalu ada larangan untuk mengubah bentuk bangunan dan menempati kuburan baru di ruangan kubah, serambi, ataupun pendopo.
SEJARAH SINGKAT PEMBANGUNAN
Asta Tinggi mulai dibangun sejak awal abad 17 (sekitar tahun 1750- an), dan baru selesai tiga generasi kemudian. Kawasan pemakaman Asta Tinggi rencana awalnya dibuat oleh Panembahan Sumala dan dilanjutkan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I yang tidak lain adalah putra Panembahan Sumala sendiri. Kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Panembahan Natakusuma II.
| BACA JUGA: TERAPI PSIKOLOGI AL-QURAN MENYENANGKAN
Pada awalnya, Asta Tinggi tidak memiliki pagar, hanya rimba belantara dan batuan terjal. Kawasan itu dahulu tak berpenghuni. Menurut kisah sesepuh Sumenep, di sana kerap dijadikan tempat menyepi para tokoh-tokoh Sumenep. Hingga pada suatu ketika, untuk menghormati Pangeran Anggadipa dan istrinya, Pangeran Rama yang ketika itu menjabat sebagai Adipati Sumenep membangun pagar dengan batu-batu yang disusun rapi. Raden Mas Pangeran Anggadipa sendiri adalah seorang Adipati yang makamnya pertama kali ada di Asta Tinggi. Di samping Pangeran Anggadipa, terdapat pula makam istrinya, R. Ayu Mas Ireng yang merupakan putri dari Penambahan Lemah Suwir.
ARSITEKTUR BANGUNAN
Asta Tinggi sendiri memiliki dua bagian; bagian barat memiliki corak Jawa, dan di bagian timur sendiri lebih dominan corak China, Eropa, Arab dan Jawa. Luas kompleks makam berukuruan 112,2 meter x 109,25 meter, dan dikelilingi tembok yang hanya terdiri dari batu kapur yang tersusun rapi tanpa adukan semen dan pasir.
Arsitektur makam dalam kompleks ini sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan yang berkembang pada masa Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari penataan kompleks makam dan beberapa batu nisan yang cenderung berkembang pada masa awal Islam berkembang di tanah Jawa dan Madura. Selain itu, pengaruh-pengaruh dari kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro, makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan makam Pangeran Pulang Djiwo.
Selain itu, pengaruh arsitektur Eropa mendominasi bangunan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan makam Patih Mangun yang ada di luar asta induk. Dalam kawasan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, seluruh bangunnannya dipengaruhi gaya arsitektur klasik.
Bangunan bagian barat terdiri atas tiga kubah. Di setiap kubah atau pesarean tersebut terdapat makam Raja Sumenep yang berjejer dengan keluarga keraton atau tokoh penting lain pada masanya. Tentu untuk memudahkan peziarah, makam yang ada dalam diberi papan nama yang bisa dilihat oleh peziarah. Kubah pertama, disemayamkan R. Ayu Mas Ireng, Pangeran Anggadipa, Pangeran Seppo, Pangeran Rama, R. Ayu Artak, dan Pangeran Panji Polang Jiwa. Kubah kedua, terdiri dari makam Ratu Ari, Pangeran Jimat, dan R. Aria Wiranegara. Sedangkan untuk kubah ketiga, terdapat makam R. Bindara Saod, R. Ayu Dewi Rasmana, dan lain-lain.
Kendati demikian, di Asta Tinggi terdapat makam petinggi kerajaan yang tidak diberi papan nama. Hal itu belum banyak diketahui oleh publik. Padahal makam tokoh itu sudah berpuluh tahun tidak bernama. Makam tersebut terletak di sebelah makam Pangeran Panji Pulang Jiwo. Bila dilihat dari kanan ke kiri, di sana berjejer makam Pangeran Panji Pulang Jiwo, R. Rayu Arta, Pangeran Rama, Pangeran Wirosari, Pangeran Anggadipan dan terakhir makam tanpa nama. Makam ini memang tidak memilki asal usul yang jelas. Bahkan dalam buku sejarah dan silsilah Raja Sumenep yang dihimpun oleh pengelola Asta Tinggi tidak pernah membahas mengenai makam tersebut.
UPAYA PENGEBOMAN PENJAJAH
Dalam buku Perjalanan dari Soengenep ka Batawi, karya Raden Sastro Soebrata terbitan Balai Pustaka tahun 1920 disebutkan bahwa, kawasan makam Asta Tinggi pernah dilakukan pengeboman jarak jauh (dari atas kapal laut di Kalianget) oleh tentara Inggris karena mengira bahwa bangunan tersebut adalah istana kerajaan. Namun, pengeboman tersebut tidak sampai menghancurkan Asta Tinggi karena jatuh di luar kawasan.




