Di dalam kitab Kawâsyifuz-Zuyûf, Syekh Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani menjelaskan bahwa, didalam ajaran agama Islam, setidaknya membutuhkan tiga sumber data untuk menetapkan kebenaran suatu perkara. Pertama, melalui potensi panca indra. Kedua, menggunakan daya akal. Dan yang ketiga, melalui al-Quran dan Hadis. Cara yang nomor tiga inilah yang menjadi garis pembeda antara Islam dan agama lainnya. Oleh sebab itu, dalam beberapa kasus tertentu, seperti kasus perkara gaib, umat Islam langsung beriman bahwa seluruh perkara gaib, termasuk alam barzakh, yang disinggung oleh al-Quran dan Hadis merupakan sebuah kebenaran yang nyata.
Berangkat dari fakta ini, tentu, umat Islam juga beriman bahwa di alam barzakh sana terdapat kehidupan yang nyata. Dan kehidupan tersebut bersifat berbeda-beda sesuai dengan derajat dan amal perbuatan saat berada di alam dunia. Menanggapi hal ini, menurut Sayid Abuya Muhammad bin Alawi al-Maliki, kehidupan alam barzakh menjadi berbeda sederhananya disebabkan oleh faktor keimanan. Nah, dari keimanan ini kemudian lahirlah derajat yang berbeda-beda dan terpetak menjadi beberapa tingkatan. Dan dari tingkatan-tingkatan tersebut, Allah memberi keistimewaan tersendiri yang berbeda satu sama lain. Tingkatan-tingkatan tersebut terklasifikasi sebagai berikut. Tingkat pertama adalah kenabian. Kedua adalah syuhada. Ketiga adalah hamba yang shalih. Adapun Muslim pendosa dan orang-orang yang tidak beriman maka masuk pada golongan orang-orang yang celaka. Orang-orang kafir dan para munafik, Allah kekalkan di dalam neraka dan dimulai dengan beragam siksaan di alam barzakhnya. Sementara Muslim pendosa, maka keadaan mereka di alam barzakh akan disiksa terlebih dahulu dan siksa mereka berbeda-beda sesuai perbuatan dosa mereka di alam dunia.
Dalam kajian kali ini, penulis akan menyebut beberapa keistimewaan tersebut sesuai dengan tingkatan di atas.
KEISTIMEWAAN PARA NABI
Sebagaimana disinggung di atas bahwa kehidupan alam barzakh adalah nyata. Dan sesungguhnya setiap manusia yang sudah berada di alam barzakh semuanya bisa mendengar, merasakan, dan mengetahui, baik itu Muslim maupun non-Muslim. Hanya saja, khusus bagi para nabi, Allah memberi beberapa keistimewaan. Di antaranya, pertama, kehidupan yang sempurna, bahkan tercatat lebih sempurna daripada para syuhada. Alasan paling masuk akal yang dikemukakan oleh para ulama mengapa mereka memiliki derajat yang lebih sempurna daripada para syuhada setidaknya mengerucut pada dua hal. Pertama, karena derajat tertinggi yang dimiliki oleh hamba Allah adalah derajat kenabian. Kedua, karena para nabi itulah yang mengajak para syuhada agar tergerak hati membela agama Allah. Adapun yang dimaksud dengan kehidupan yang sempurna adalah kehidupan yang penuh dengan rasa bahagia.
Kedua, jasad para nabi tetap.Maksudnya adalah tubuh para nabi tersebut utuh, tanpa sedikit pun dimakan oleh cacing ataupun tanah. Nabi bersabda “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas bumi memakan jasad para nabi”. (HR. Ibnu Majah). Mengenai hal ini, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Syekh Abu Bakar al-Baihaqi menganggit risalah khusus yang mengurai hadis dan beragam keterangan bahwa jasad para nabi benar-benar dijaga oleh Allah dari cacing dan tanah. Ketiga, tetap bisa beribadah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi bersabda bahwa“Para nabi itu hidup di alam kuburnya dalam keadaan menunaikan shalat”. Hadis ini oleh banyak ulama dijadikan argumentasi bahwa
| BACA JUGA: GEN MULIA
meskipun para nabi sudah wafat, di alam berzakhnya, mereka tetap bisa melaksanakan amal ibadah layaknya mereka masih hidup di dunia. Keempat, tidak mendapat pertanyaan kubur. Di dalam kitab ‘Aunul-Murîd Syarh Jauharatit-Tauhîd dijelaskan bahwa para nabi dikecualikan dari pertanyaan kubur. Mereka semua lolos dari pertanyaan kubur. Dengan keterangan ini, maka ulama bersepakat bahwa kehidupan para nabi di alam barzakh sangatlah nikmat dan aman. Dan tentunya, alam barzakh mereka tak lain adalah satu taman dari taman-taman surga.
KEISTIMEWAAN PARA SYUHADA
Satu tingkat di bawah derajat kenabian adalah para syuhada, yakni mereka yang syahid dunia dan akhirat. Alasan yang dipilih oleh ulama mengapa mereka memiliki derajat yang prestise adalah karena mereka benar-benar membela agama Allah, sampai rela terbunuh demi tegaknya syariat Islam. Oleh karena itu, ada banyak keistimewaan yang Allah berikan kepada mereka pasca wafat. Beberapa keistimewaan tersebut sebagian kecil sama dengan keistimewaan yang dimiliki oleh para nabi di atas, seperti para syuhada tetap bisa beribadah, lolos dari pertanyaan kubur, dan kehidupannya sempurna, yakni penuh dengan rasa bahagia. Namun, mengenai rating nikmat dan karunianya, keistimewaan para nabi jauh lebih sempurna.
Selain itu, ada keistimewaan lain yang bersifat khusus yang hanya dimiliki oleh para syuhada. Antara lain, pertama, al-Quran menegaskan bahwa mereka sejatinya tidak mati, tetapi tetap masih hidup. Kedua, ruh mereka senantiasa mendapatkan anugerah rezeki dari Allah. Namun, mengenai bagaimana kondisi kehidupannya dan bagaimana menikmati rezekinya, hanya Allah lah yang Maha tahu. Ketiga, Allah meletakkan ruh mereka di tempat yang spesial, yakni berkendara di atas burung yang terbang membawa mereka menyusuri kenikmatan-kenikmatan surga.
KEISTIMEWAAN HAMBA SALIH
Di dalam kitab Mafâhîm Yajibu an Tushahhah, Sayid Muhammad bin Alawi menulis keterangan bahwa, keistimewaan-keistimewaan alam barzakh yang dimiliki oleh para nabi dan para syuhada di atas juga bisa dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang shalih. Namun, perbedaannya ada dua. Pertama, derajat keistimewaannya berada di bawah keistimewaan para nabi dan syuhada. Kedua, keistimewaan yang dimiliki oleh mereka ini tidak bersifat mutlak, yakni tidak merata kepada semua hamba yang shalih. Dengan kata lain, hanya berlaku kepada sebagian saja. Terserah Allah, mana dari hamba-hamba-Nya yang shalih tersebut yang Dia pilih mendapatkan keistimewaan sebagaimana keistimewaan-keistimewaan para nabi dan syuhada di atas.
Namun yang jelas, dalam karya Al–Maut wa ‘Âlamul-Barzakh, Syekh Mahir Ahmad Sufi berkata bahwa kehidupan alam barzakh para hamba yang shalih tersebut penuh dengan rahmat dan ampunan Allah. Berkenaan dengan hal ini, Nabi Muhammad bersabda, “Hamba yang mukmin (saat wafat) ia beristirahat dari lelahnya dunia, menuju kekalnya rahmat Allah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ulama memaknai hadis ini sebagai bukti kuat bahwa Allah ridha kepada mereka.




