Tarsus, juga tak jauh dari tepi sungai Jihun. Bertetangga dengan Mopsuestia. Ibrahim duduk di tepi sungai untuk mulai berkemas pergi ke daerah tujuan yang baru. Belum lagi dia mengayunkan langkah kaki, tiba-tiba seseorang datang menyapanya. Ia mencari tenaga pekerja, sebagai tukang kebun.
Ia menawari Ibrahim. Ibrahim setuju dan bersedia. Berangkatlah Ibrahim membuntuti orang itu. Menuju sebuah kebun delima yang luas. Tugasnya merawat dan menjaga.
Ibrahim bin Adham melalui hari-harinya di kebun itu. Tekun, rutin dan disiplin. Hingga berkali-kali musim panen.
Syahdan, suatu ketika, si pemilik kebun datang. Tidak sendiri. Bersama dengan beberapa orang temannya.
“Ibrahim…! Carikan untukku delima paling bagus yang engkau tahu!”
Dengan sigap Ibrahim mencarinya. Lalu menyuguhkan kepada si majikan. Majikan mencicipi. Buah pertama, sangat kecut. Buah kedua, tak kalah kecut.
“Sudah sekian lama engkau berada
di kebun ini. Kau makan buah-buahan dan delima kami. Tapi, mengapa kau belum bisa membedakan mana yang manis dan mana yang kecut!?”
“Demi Allah, aku tidak pernah
memakan buah-buahan yang ada di sini. Karena itulah aku tak tahu mana yang manis, mana yang kecut,” sahut Ibrahim.
Simajikan terperangah. Ia menepukkan tangan ke tubuh teman-temannya. “Tidakkah kalian mengagumi ucapan tukang kebun ini!?”
*****
Kisah tentang kejujuran itu membuat si tukang kebun mulai menjadi buah bibir di mana-mana. Orang-orang di masjid mulai banyak bercerita mengenai kejujuran dan kezuhudannya. Dari mulut ke mulut. Popularitas selalu menebarkan rasa penasaran. Menjadikan sesuatu tampak lebih menarik dan semakin diminati.
Hingga tibalah satu hari kemudian, kebun delima itu menyedot banyak pengunjung. Mereka datang berbondong- bondong memasuki area perkebunan itu. Ibrahim bin Adham bersembunyi menghindari mereka. Semakin banyak yang datang, Ibrahim semakin terdesak. Akhirnya melarikan diri.
*****
Kali ini ia mengembara, menjadi buruh dan kuli dari satu tempat ke tempat yang lain. Banyak orang ingin bertemu, maka ia pun semakin misterius. Sangat sulit ditelusuri. Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sangat sulit dibedakan dengan para kuli dan buruh-buruh yang lain.
Suatu ketika, ia terlihat di Beirut. Seorang ulama masyhur, Imam al-Auza’i, pernah melihatnya di sana. Ia sedang memanggul tumpukan kayu bakar di pundaknya. Al-Auza’i mengenali wajahnya.
“Abu Ishaq, apa yang engkau bawa!? Cukup teman-temanmu saja yang memanggulnya,” sapa al-Auza’i.
“Biarkan aku, Abu Amr! Aku pernah mendengar, bahwa orang yang bersusah payah dalam mencari rezeki halal, maka ia wajib masuk surga.”
Suatu hari, ia terlihat berada di Asqalan. Juga menjadi buruh di sana. Buruh tani.
| BACA JUGA : HUKUM TELUR AYAM YANG SUDAH BERUBAH
Kampung Halaman
Suatu ketika, di tengah perjalanan menuju Mopsuestia. Seseorang berteriak, “Siapa yang bisa menunjukkan Ibrahim bin Adham kepadaku?”
Baqiyah bin al-Walid yang menemani perjalanan Ibrahim memberi isyarat, menunjuk Ibrahim bin Adham.
“Assalamu Alaik wa Rahmah?”
“Wa alaikas-salam, siapa engkau?”
“Aku datang dari Balkh. Membawa
berita bahwa ayahmu meninggal dunia. Meninggalkan harta warisan yang sangat banyak. Aku sendiri adalah si fulan, sahaya milik Anda. Bigal ini milik Anda. Aku juga membawa sepuluh ribu dirham untuk bekal perjalanan pulang Anda ke Balkh. Harta warisan Anda dititipkan di Qadi Balkh.”
Ibrahim bin Adham terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, ia angkat bicara, “Kalau ucapanmu itu benar, maka engkau merdeka. Bigal ini jadi milikmu. Uang itu juga untukmu, untuk segala kebutuhanmu.”
Ibrahim menoleh Kali ini pandangannya ditujukan kepada Baqiyah. “Bersediakah kau menemaniku?”
“Bersedia.”
*****
Kota tua Hulwan. Dulu kala, Yezdgerd III, Raja Terakhir Persia itu sempat bersembunyi di sini. Ia lari dari istana, beberapa saat setelah pasukannya dikalahkan kaum Muslimin dalam perang besar Qadisiyah. Ketika Panglima Besar Saad bin Abi Waqqash berhasil merebut Madain, ibukota Persia, istana itu sudah kosong.
Pegunungan Zagros, di dekat kota tua Hulwan, merupakan jalan terjal yang harus dilalui oleh para musafir dari Syiria untuk mencapai Balkh di Khurasan Raya. Ibrahim bin Adham melintasinya untuk pulang ke kampung halaman. Masih separuh perjalanan yang sudah dilalui, setelah melintasi Damaskus dan Shiffin.
Kabut menyelimut tebal, cuaca
begitu dingin. Ibrahim bin Adham dan al-Baqiyah masih tangguh untuk melanjutkan perjalanan itu.
“Baqiyah, mungkin perutmu lapar?”
“Benar sekali.”
“Masuklah ke hutan ini, ambillah sesuka hatimu.”
Tanpa bertanya, al-Baqiyah langsung bergegas, meski hatinya sedikit merasa aneh. “Dalam cuaca berkabut seperti ini, mana mungkin ada buah yang bisa didapat,” pikir al-Baqiyah. Tapi, al-Baqiyah tak menghiraukan pikiran itu. Ia masuk saja ke dalam hutan.
Baru saja memasuki hutan, al-Baqiyah langsung menemukan pohon persik. Ia segera membuka kantong bekal. Memenuhinya dengan buah persik.
Sekembalinya dari hutan.
“Apa isi kantong itu?”
“Buah persik.”
“Oh, betapa kecil keyakinanmu.
Bagaimana bisa kau melakukan hal ini! Apa yang kau pikirkan? Seandainya keyakinanmu tinggi, niscaya kau bisa memakan buah kurma basah di tengah musim dingin, seperti halnya Maryam binti Imran.”
*****
Bergegas meninggalkan Hulwan, ke arah matahari terbit. Menaklukkan jalan-jalan terjal yang berbatu di lembah pegunungan yang berderet-deret. Anehnya, Ibrahim bin Adham menempuhnya dengan tanpa alas kaki, hingga tiba di tempat tujuannya di Balkh. Sepanjang perjalanan hati al-Baqiyah ‘didera’ oleh rasa takjub yang bertubi-tubi. Bukan perjalanan biasa, tapi perjalanan yang yang penuh dengan pelajaran spiritual, juga kenangan dan kekaguman yang tak kan terlupakan.




