ULAMA BOGOR YANG MELAHIRKAN BEBERAPA ULAMA
BOGOR tidak hanya dikenal sebagai kota penghasil teh terbesar di Indonesia, tetapi di juga melahirkan tokoh-tokoh ulama yang mendunia. Salah satunya adalah Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bughuri. Al-Bughuri sendiri merupakan nisbat kepada kota kelahirannya, yakni Bogor Jawa Barat. Syekh Mukhtar lahir pada 14 Syaban 1278 H/14 Februari 1861 M. Ayahandanya bernama KH. Atharid yang juga dikenal dengan panggilan Raden Aria Natanagara.
Sebagaimana maklumnya anak seorang kiai yang dari kecil sudah ditempa ilmu pengetahuan keagamaan sebagai bekal dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi, demikian juga dengan Syekh Mukhtar. Sejak kecil Syekh Mukhtar sudah mengenyam pendidikan keagamaan dari orang tuanya. Berbagai kitab dasar fikih, gramatika Arab, tauhid, akhlak dan lainnya dipelajarinya dari waktu ke waktu.
Berbekal keuletan belajar dan kecerdasan, sejak usia dini Syekh Mukhtar sudah mampu menghafal dan memahami kitab-kitab dasar tersebut, seperti Nadzam ‘Imrithî, Alfiyah Ibnu Mâlik, Fathul-Qarîb al-Mujîb, Fathul Mu’în, serta kitab-kitab dasar lainnya. Dengan berbekal pengetahuan dasar itu, Syekh Mukhtar kemudian melanjutkan studinya, mengaji kepada beberapa ulama terkemuka kala itu.
Sebelum Syekh Mukhtar mengaji kepada sejumlah ulama di tanah kelahiran Islam, beliau sempat berguru kepada ulama Betawi kala itu, yakni kepada Sayid Abdullah bin Aqil bin Yahya, abah Sayid Utsman Mufti Betawi. Dari guru inilah Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bughuri mendapatkan beberapa sanad kitab kitab yang dipelajarinya.
| BACA JUGA : URGENSI TASAWUF DI ERA FITNAH
Pada tahapan berikutnya, Syekh Mukhtar berangkat ke Makkah dengan dua tujuan, pertama menunaikan rukun Islam kelima, kedua, mendulang ilmu agama kepada para ulama di sana, baik ulama dari negara lain maupun ulama Nusantara yang menetap di sana. Juga mengaji kepada ulama-ulama Hijaz.
Guru-guru Syekh Mukhtar yang berasalah dari Nusantara adalah Syekh Mahfudz at-Tarmasi Tremas Pacitan, Jawa Timur, Syekh Jum’an bin Makmun Tangerang, Syekh Zainuddin bin Badawi Sumbawa Nusa Tenggara Barat, sedangkan guru beliau yang dari negara lain adalah Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, Syekh Sa’id Babashil yang masyhur sebagai pakar Hadis, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayid Husain bin Muhammad al-Habsyi, Syekh Muhammad bin Jakfar al-Kattani, Syekh Mushthafa al-Afifi dan Syekh Abdul Karim an-Naji.
Usai mengaji dan mendalami ilmu-ilmu agama dari para ulama tersebut, Syekh Mukhtar dipercaya menjadi tenaga pengajar sekaligus pendidik di daerah itu. Selain mengajar di Makkah dan Madinah, Syekh Mukhtar juga membuka majelis ilmu di kediaman sendiri. Majelis taklim ini banyak dihadiri oleh putra-putra ulama besar saat itu, yang kemudian hari juga menjadi ulama besar dan berpengaruh.
Beberapa santri Syekh Mukhtar yang kemudian menjadi ulama besar adalah Syekh Sulaiman as-Samdani, Syekh Abdurrahman bin Yusuf al-Madarisi yang konon berasal dari Pulau Garam, Madura, Syekh Abdussattar ad-Dahlawi, Haji Abdullah Fahim (Mufti Pulau Pinang), Tengku Mahmud Zuhdi Selangor, Sayid Muhsin bin Ali al-Masawi, Syekh Ahmad Dimyathi bin Abdullah at-Tarmasi (adik Syekh Mahfuz at-Tarmasi), KH. Hasyim al- Asy’ari, KH. Manshur bin Abdur Rahman al-Batawi, Sayid Muhammad Ahyad bin Idris Bogor (menantu Syekh Mukhtar), dan Tuan Guru Haji Muhammad Zain bin Tama Kajang.
| BACA JUGA : KETIKA BARAT MENCIPTAKAN TUHANNYA SENDIRI
Selain sibuk mencurahkan semua ilmunya kepada santri-santrinya, Syekh Mukhtar juga meluangkan waktunya untuk menuangkan ilmunya dalam bentuk karya tulis, agar tetap bisa dibaca oleh calon ulama pada masa mendatang. Dalam catatan sejarah, ada beberapa kitab yang telah berhasil ditulis oleh Syekh Mukhtar dalam berbagai bidang keilmuan. Berikut daftar kitab karya Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bughuri yang bisa kita baca sekarang, baik yang menggunakan bahasa Arab Pego (bahasa Melayu ditulis Arab) maupun bahasa Arab asli. Di antaranya:
Ushûluddin I’tiqâd Ahlusunah wal–Jamaah, yang membahas tentang akidah sifat 20, Ash-Shawâ’iq al-Mukhriqah lil-Auhâm al-Kâdzibah fî Bayâni Hillil Bâlut wa Raddi ‘alâ Man Harramahu, mengupas seputar kehalalan belut yang menjadi perbincangan ulama kala itu, Ithâfu Sadatil-Muhadditsîn bi Musalsalatil Ahâdits al-Arba’în, menjelaskan berbagai sanad/silsilah keilmuan dan amalan, Mukhtashar Kitab ad-Durril Munîf fi Syarh al-Wirdil al-Lathîf, Taqrîbul-Maqshad fil ‘Amali bir Rub’il Mujayyab, berisi tentang ilmu falak/astronomi, Risâlatul-Wahbah al-Ilâhiyyah fî Bayâni Isqâthi mâ ’alal-Mayit minal-Huqûq wa Shiyâm wa Shalâh yang membicarakan fidyah shalat, puasa dan hal-hal terkait dengan orang yang sudah meninggal.
Salah satu karya Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bughuri yang viral di kalangan santri adalah Ash-Shawa’iq al-Mukhriqah yang mengupas tuntas persoalan belut yang kala itu menjadi medan perdebatan di kalangan ulama. Kitab belut karya Syekh Mukhtar ini menjadi saksi akan prestasi yang ditorehkan oleh ulama Nusantara dalam kancah keilmuannya secara global melalui media Haramain.
Kehadiran kitab tersebut berangkat dari perdebatan yang muncul di kalangan ulama Nusantara, menyikapi persoalan ini. Sebagian kalangan menghukumi haram belut, tetapi tak sedikit pula, termasuk Syekh Mukhtar, menegaskan bahwa belut boleh dikonsumsi. Syekh Mukhtar menegaskan, belut adalah hewan air yang tidak keluar ke darat, kendati terkadang keluar untuk keperluan dan waktu tertentu saja, tidak permanen, dengan demikian, belut tidak termasuk kategori hewan yang hidup di dua alam, dan hukumnya halal.
Demikianlah kiprah Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bughuri dalam bidang keilmuan, mengajar, mengaji dan mengkaji. Oleh sebab itu, tak heran jika majlis taklim Syekh Mukhtar banyak disinggahi oleh para pendulang ilmu agama. Kendati karya beliau tidak begitu banyak, tetapi Syekh Mukhtar telah mencetak beberapa ulama besar yang memiliki karya buku dan kitab yang melimpah.




