Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq wafat pada 21 Jumadal Akhirah tahun 13 H, setelah menderita sakit selama 15 hari. Wafat pada sore hari, jenazah beliau langsung dishalatkan malam itu juga, dengan khalifah yang baru, Umar sebagai imam shalat.
Sebagai khalifah baru, Umar sebisa mungkin meneladani kepemimpinan Baginda Rasul serta shahabat terdekatnya ash-Shiddiq. Pada mulanya, ia bergelar “Khalifatu Khalifati Rasulillah”, berarti pengganti khalifah Rasulillah. Namun karena dirasa gelar ini bisa menjadi semakin panjang di kemudian hari, maka dibuatlah gelar baru untuk pimpinan tertinggi umat Islam, yaitu “Amirul Mukminin”. Adalah Shahabat al-Mughirah bin Syu’bah ats-Tsaqafi, yang pertama kali menyematkan gelar tersebut kepada Khalifah Umar.
***
Penaklukan Syam
Tugas pertama yang menanti Khalifah Umar adalah melanjutkan operasi militer di dua kawasan, yaitu Syam dan Irak. Keputusan menyerang ke Syam menghadapi imperium super power Romawi, ditetapkan oleh Khalifah Abu Bakar usai kekalahan pasukan Khalid bin Sa’id bin al-‘Ash di Taima’.
Empat batalion dikirim, masingmasing berkekuatan sekitar 8.000 pasukan. Pasukan pertama dipimpin oleh Syurahbil bin Hasanah menuju lembah Jordan, pasukan kedua dikomando oleh Yazid bin Abi Sufyan bin Harb menuju Damaskus, ketiga dipimpin oleh Abu Ubaidah bin alJarrah dengan sasaran kota Homs, serta pasukan Amr bin al-‘Ash dengan tujuan Palestina.
Mendengar pasukan Romawi datang dengan kekuatan yang luar biasa besar, pasukan Islam yang sedang berada di Yarmuk meminta pasukan bantuan kepada Khalifah Abu Bakar di Madinah. Oleh sang khalifah, Khalid yang sedang berada di Irak diperintahkan agar segera menuju Syam.
Dengan kedatangan Khalid, semua pasukan dijadikan satu dibawah komando panglima legendaris dari Bani Makhzum tersebut. Perang pertama yang dihadapi bersama Khalid berkecamuk di Ajanadain, dekat Ramalla di Palestina. 100 ribu pasukan Romawi luluh lantak oleh pasukan Khalid, pada waktu yang berdekatan dengan wafatnya Khalifah Abu Bakar.
Memecat Khalid
Begitu menjabat, Khalifah Umar langsung membuat keputusan besar dengan mengangkat Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai pimpinan pasukan, menggantikan Khalid bin al-Walid.
Keputusan ini agak mengherankan, mengingat Khalid adakah sosok sentral di balik mayoritas operasi militer yang dilancarkan oleh Khalifah Abu Bakar, terhitung mulai penumpasan kaum murtad dan kelompok anti-zakat, operasi awal di kawasan Irak menghadapi imperium Persia, sampai ketika Khalid dipindahtugaskan ke wilayah Syam menghadapi Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur).
“Tidaklah aku memecat Khalid karena kebencian ataupun pengkhianatan darinya, akan tetapi orang-orang telah terpedaya oleh kehebatan Khalid. Aku kuatir mereka terlalu mengandalkan Khalid. Maka aku ingin menegaskan bahwa Allah lah yang Maha Membuat segala sesuatu.”
Sejarawan berbeda pendapat mengenai kapan surat pemecatan tersebut diterima Abu Ubaidah. Versi Ibnu Ishaq menyebutkan Rajab 14 H, di tengah-tengah pengepungan Damaskus.
Surat ini sengaja dirahasiakan hingga selesainya penaklukan Damaskus. Versi kedua dilontarkan oleh Saif bin Umar at-Tamimi yang mengatakan bahwa surat perintah tersebut diterima kemudian dijalankan pada perang Yarmuk tahun 15 H.
Baca juga; Umar Pada Masa Khilafah Abu Bakar
Rentetan Futuhat
Berikut rentetan peperangan dan prestasi penaklukan pasukan Islam di bumi Syam pada era Khalifah Umar, khususnya pasca Perang Ajnadain.
– Perang Fahl di kota kuno Baisan, Palestina, di jalur utama Jordania menuju Damaskus.
– Perang Marjur-Rum (sekarang lembah Biqa‘ di Lebanon)
– Pengepungan kota Damaskus, yang berakhir dengan penaklukan dengan jalan perang dari sebelah timur oleh Khalid bin al-Walid , serta penaklukan dengan cara damai oleh Abu Ubaidah di sisi barat.
– Penaklukan kota Baalbak, Lebanon.
– Penaklukan kota Homs, Suriah.
– Penaklukan Qinnisrin, Suriah.
– Penaklukan Halb (Aleppo), Suriah.
– Penaklukan Hama, Suriah.
– Penaklukan Antokia (Antioch), Turki.
– Perang Yarmuk, perang terbesar yang melibatkan kekuatan 36.000 pasukan Islam menghadapi 240.000 prajurit Romawi. Terjadi pada 5 Rajab 15 H, di dekat sungai Yarmuk, Jordania.
– Penaklukan desa-desa di ujung utara Syam yang berbatasan dengan Anatolia (Asia Kecil)
– Penaklukan di sepanjang garis pantai Lebanon dan Palestina.
– Penaklukan kota suci Baitul Maqdis, Jerusalem.
– Penaklukan Kaesarea, kota kuno di Palestina, sekaligus menyempurnakan kekuasaan di seluruh wilayah Jordania pada tahun 19 H.
Seluruh proses tersebut dilakukan dalam jangka waktu 6 tahun, terhitung pertengahan tahun 13 H s.d 19 H.
Dari rentetan penaklukan di atas, Amr bin al-‘Ash kemudian melanjutkan gerakannya ke Mesir. Amr berhasil mengukir namanya sebagai penakluk negeri bersejarah tersebut, termasuk kota-kota penting di sekitarnya seperti Iskandariyah dan Heliopolis, diakhiri dangan negeri Nubah di perbatasan Sudan.
Bersambung…
Moh. Yasir/sidogiri




