Kisah ini diceritakan di dalam kitab al-Bidâyah wan-Nihâyah, (VIII/119). Ketika pelik pertikaian antara Sayidina Ali dengan Sayidina Muawiyah memuncak, Romawi mencari kesempatan untuk bisa kembali menaklukkan Syam yang saat itu dipimpin oleh Sayidina Muawiyah.
Realitanya, Sayidina Muawiyah memang sedang fokus menyiapkan pasukan Shifin untuk berperang dengan
Sayidina Ali. Dan sedikit mengabaikan perseteruannya dengan Romawi. Namun, ketika beliau mendengar desas-desus pasukan Romawi akan menyerangnya, beliau langsung berkirim surat mengancam raja Romawi.
“Saat ini aku memang sedang fokus berperang dengan Ali. Tapi jangan coba coba kamu mengambil kesempatan untuk menyerangku! Bila tidak, aku akan datang berbaiat kepada Ali, menjadi pasukannya, lalu menjadi orang terdepan yang akan meluluhlantahkan kerajaanmu.”
Romawi tertegun, mereka kembali dan menggagalkan rencana menyerang Syam (Suriah). Benar memang, konsepnya adalah ‘musuh dari musuhmu adalah teman’. Sayidina Muawiyah memang sedang bermusuhan dengan Sayidina Ali. Tapi Romawi tetap menjadi musuh utama dan musuh bersama mereka berdua. Maka jangan sampai Romawi coba-coba mengambil kesempatan.
Konsep ini harusnya bisa dipahami dan diaktualisasikan dengan baik dalam percaturan politik bangsa Indonesia di kancah dunia. Utamanya bagi mereka para pemegang kekuasaan yang tengah mengatur arah kemajuan Indonesia.
Utamanya di dunia maya. Dunianya para netizen. Dunia yang saat ini Bangsa Indonesia tengah berada di posisi ‘paling’ baik secara kuantitas. Meski tercatat ‘paling’ buruk secara kualitas.
Bayangkan! Indonesia mempunyai lebih dari 69,2 juta pengguna aktif Instagram, 52,4 juta pengguna aktif Twitter serta 140 juta pengguna aktif Facebook. Mereka semua siap menjatuhkan bom komentar dengan kekuatan 2700 klik per detik, dengan jangkauan jelajah seluruh dunia, yang secara sistematis, terstruktur dan masif dapat meluluhlantakkan mental dan menghancurkan psikis serta melenyapkan musuh secara permanen di dunia maya.
|BACA JUGA : APAKAH NABI PERNAH SESAT?
Sayangnya kekuatan besar ini tidak disertai kualitas yang sepadan. Tidak heran bila laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia, menunjukkan netizen Indonesia paling ‘barbar’ se-Asia Tenggara.
Sudah banyak yang membuktikan kebarbaran netizen Indonesia. Yang terbaru, adalah hilangnya akun allenglandofficial dari Instagram. Padahal akun bulu tangkis dunia tersebut sudah centang biru. Netizen Indonesia marah mengapa skuad ‘Merah Putih’ dipaksa mundur setelah diminta isolasi selama 10 hari usai berada dalam satu pesawat dengan orang positif corona. Akhirnya mereka me-report massal akun tersebut.
Sebegitu luar biasa kekuatan netizen Indonesia bila sudah diusik ke Indonesiaan-nya. Mereka bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa mereka lakukan di dunia nyata. Masih ingat dengan kasus Dayana, selebgram asal Kazakhstan? Ketika dia menuduh yang ‘tidak-tidak’, netizen Indonesia rame-rame memblokir akun TikTok-nya. Selesai!
Sayangnya, kekuatan ini tidak banyak dipakai secara produktif untuk kepentingan bangsa sendiri. Malah yang terjadi adalah sebaliknya, netizan Indonesia selalu ribut dengan isu-isu tidak produktif untuk kemajuan bangsa. Karenanya, untuk memaksimalkan kekuatan alamiyah netizen Indonesia, beberapa hal perlu diperbaiki oleh pemerintahan kita.
Pertama, jangan lagi ada buzzer buzzer liar. Netizen Indonesia itu bergerak secara alamiyah dalam jagat virtual. Jangan sampai kekuatan mereka habis melawan buzzer kontra produktif sarat kepentingan. Bila mau jujur, keberadaan buzzer sangat potensial memecah belah bangsa. Identitas mereka fiktif, namun ujaran mereka sangat tidak bertanggung jawab.
Kedua, terus diedukasi para netizen dengan hal-hal yang positif. Jangan sampai mereka dipancing dengan kail SARA, yang akhirnya hanya menghasilkan keributan tanpa jeda. Masih banyak kail kail ‘nasionalisme’ yang bisa diberikan. Mereka akan semakin solid tanpa perlu bayaran.
Ketiga, revisilah pasal-pasal karet UU ITE yang selama ini dipakai pemerintah. Saya yakin beberapa pasal UU ITE itu kurang produktif di negara kita yang demokratis. Yang ada malah kepercayaan rakyat kepada pemerintah semakin berkurang. Itu semua karena mereka dikekang dengan ancaman-ancaman. Bila semua keributan internal ini sudah teratasi, maka netizen kita akan menjadi netizen soldier yang sangat disegani.
Insyaallah!




