Apakah benci Arab berarti benci kepada Islam? Barangkali tidak semutlak itu. Namun demikian, setidaknya ada dua hal yang sangat patut dikhawatirkan. Pertama, kebencian terhadap Arab berpotensi besar berubah haluan menjadi kebencian terhadap Islam. Karena itulah Rasulullah berpesan agar jangan sampai membenci Arab. Sebab, meskipun Islam dan Arab adalah dua hal yang berbeda, tapi keduanya sangat sulit untuk dipisahkan. Bagaimana tidak, Arab adalah latar belakang Islam sejak kelahiran hingga perkembangannya. Beda jauh dengan agama Nasrani dan Yahudi. Meskipun kedua agama itu lahir di Timur Tengah, namun perkembangannya terjadi di luar Timur Tengah.

Ikatan Islam dengan Arab jauh lebih erat dibandingkan dengan ikatan seseorang dengan kampung halamannya; bahkan lebih erat daripada ikatan mendiang dengan pusaranya. Bahkan, dalam sebuah Hadis, Rasulullah  justru seolah-olah ‘mengidentikkan’ dirinya dengan kata “Arab”.

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا سَلْمَانُ ، لاَ تُبْغِضْنِي فَتُفَارِقَ دِينَكَ. قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ , وَكَيْفَ أُبْغِضُكَ وَبِكَ هَدَانَا اللهُ؟ قَالَ : تُبْغِضُ الْعَرَبَ فَتُبْغِضُنِي.

Dari Salman, dia berkata: Rasulullah r bersabda kepadaku, “Wahai Salman, jangan sampai engkau membenciku, (jika demikian) maka engkau meninggalkan agamamu.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku membencimu, padahal kami mendapat petunjuk dari Allah dengan sebabmu!?” Beliau bersabda, “(Jika) engkau membenci Arab, maka engkau membenciku.” (HR Ahmad dan Tirmidzi, status: Hadis Hasan).

Dalam Hadis ini, tentu saja maksud beliau bukan memposisikan dirinya sebagai representasi dari Arab. Sama sekali tidak. Visi dakwah beliau sangat universal, dan sangat jauh dari fanatisme suku. Tujuan beliau menyatakan demikian karena mengantisipasi kemungkinan terjadinya sentimen anti Arab, sebab hal itu pasti akan berubah menjadi sentimen anti (ajaran) Islam. Salman al-Farisi sendiri adalah orang Persia, sehingga Rasulullah memberikan pesan itu secara secara khusus kepadanya. Sepanjang sejarah pra Islam, orangorang Persia memandang Arab dengan sebelah mata karena menganggapnya sebagai bangsa terbelakang.

Kedua, ada kemungkinan bahwa penolakan terhadap hal-hal yang berbau Arab merupakan kalimat ‘pelarian’ dari penolakan terhadap hal-hal yang sebenarnya merupakan ajaran Islam. Alurnya begini: ada pihak yang memperjuangkan hal-hal yang diajarkan Islam, seperti hijab dan lain-lain, lalu ada pihak lain yang tidak setuju. Akan tetapi, dia tidak mungkin menyatakan ketidaksetujuan itu dengan secara terus terang, sebab konsekwensi sosial dan politiknya sangatlah berat. Akhirnya, dia mencari bahasa lain, yaitu dengan menganggap ajaran tersebut sebagai budaya Arab. Mekanisme sikap seperti ini sangatlah berbahaya, karena sudah berbentuk penyimpangan terhadap paham keagamaan.

Di luar dua kemungkinan di atas, ada kemungkinan ketiga, yaitu menjauhi ‘nuansa Arab’ karena tuntutan strategi dakwah, yaitu strategi berbaur dan menghindari tampilan-tampilan yang eksklusif. Hal ini sangatlah baik asalkan memenuhi beberapa syarat. Di antaranya: (a) Tujuannya memang betul-betul ingin membaur dengan obyek dakwah, agar mudah diterima di kalangan mereka; (b) Tidak ada rasa kebencian sedikit pun terhadap ‘nuansa Arab’ tersebut; (c) Sebatas hal-hal yang tidak diharamkan dalam syariat.

Pandangan Islam Tentang Arab

Mengenai bagaimana ajaran Islam meletakkan bangsa Arab, Quraisy, Bani Hasyim, dan keluarga Nabi? Mari kita runut kerangka berpikirnya.

Pertama, Islam bukan agama yang mengajarkan fanatisme suku. Fanatisme suku dilarang keras dalam agama Islam. Hal itu dijelaskan dengan sangat tegas dalam salah satu khutbah ‘paripurna’ Rasulullah r di saat hari Tasyriq dalam momen Haji Wada’. Beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian satu, sesungguhnya moyang kalian satu, ingatlah tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas non Arab; bagi orang non Arab atas orang Arab; juga bagi yang berkulit merah atas yang berkulit hitam; dan bagi yang yang berkulit hitam atas yang berkulit, kecuali dengan sebab ketakwaan.” (HR Ahmad)

Kedua, dari sisi bahwa Arab merupakan tempat lahirnya Islam, bangsanya Nabi Muhammad, bahasanya dipakai sebagai bahasa al-Qur’an, dan lain sebagainya, maka tidak bisa dipungkiri bahwa di mata Islam, Arab memiliki keistimewaan dibandingkan yang lain. Bukan karena Arabnya, tapi karena ikatan eratnya dengan Islam. Ibaratnya seperti tanah. Pada dasarnya, semua tempat di dunia ini memiliki ‘nilai kemuliaan’ yang sama dari segi hakikat tanahnya. Akan tetapi, sebuah tanah tersebut bisa menjadi istmewa karena adanya sesuatu yang istimewa di dalamnya. Masjid lebih mulia daripada tempat lain, bukan karena faktor tanahnya, tapi karena faktor masjidnya.

Logika yang sama bisa kita terapkan kepada budaya Arab yang dipraktekkan oleh Rasulullah, misalnya budaya memakai jubah, sorban dan ridâ’ (selendang). Kalaupun misalnya ada orang yang beranggapan bahwa hal itu murni budaya Arab (bukan ajaran Islam), maka tetaplah budaya tersebut memiliki keistimewaan dibandingkan yang lain. Faktor keistimewaannya adalah karena digunakan oleh Rasulullah. Dengan memakainya, berarti Rasulullah telah memberikan justifikasi yang sharîh bahwa pakaian tersebut baik, lebih sharîh daripada justifikasi beliau terhadap jenis pakaian yang lain.

Nah, ketika seseorang mencintai Rasulullah, maka kecenderungan dia adalah meniru hal-hal yang dilakukan oleh beliau. Dan, dalam hal ini, dia tidak bisa ‘dimentahkan’ dengan fakta bahwa hal tersebut juga dilakukan oleh Abu Jahal dan Abu Lahab. Sebab, motivasi dia adalah meniru Nabi, bukan meniru Abu Jahal dan Abu Lahab. Sebagaimana telah lumrah kita ketahui, bahwa nilai dari hal-hal yang bersifat umum (baca: mubah) ditentukan melalui motivasi dan niat. Jika baik, maka menjadi baik; jika buruk, maka menjadi buruk.

Ibaratnya seperti thawaf di Kakbah. Faktanya, yang melakukan thawaf bukan hanya Nabi, tapi juga Abu Jahal, Abu Lahab dan gembonggembong musyrikin yang lain. Akan tetapi, kita tidak boleh mengatakan bahwa thawaf merupakan pekerjaan Abu Jahal dan Abu Lahab. Bahkan, jika kata-kata itu disertai dengan maksud melecehkan, maka bisa menyebabkan terlepasnya status keislaman.

Sama halnya dengan orang yang mengatakan “Allah, Tuhan Sang Pencipta monyet dan babi”. Meskipun kenyataannya monyet dan babi itu memang diciptakan oleh Allah, namun kita tetap tidak dibolehkan mengatakan demikian karena kata-kata tersebut mengandung unsur pelecehan. Filosofinya adalah: “Tidak semua kenyataan boleh dinyatakan.”

Ketiga, logika bahwa memeluk agama Islam tidak harus menjadi Arab, merupakan logika yang benar asalkan memenuhi syarat yang telah diuraikan dalam ‘strategi dakwah membaur’ di atas. Sayangnya, kalimat ini seringkali dilontarkan untuk tujuan yang salah. “Kalimatu haqqin urîda bihâ bathilun,” sebagaimana didawuhkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib.

Ahmad Dairobi/sidogiri