TEKA-TEKI DARI BIRKA DAN GAMLA UPPSALA
Dari sekian banyak riwayat tentang orang-orang utara, apa yang ditulis oleh Ahmad bin Abbas Ibnu Fadhlan, sejarawan abad ke-4 H/abad ke-9 M tampaknya menjadi yang paling luas dan komprehensif. Sejarawan Abbasiyah yang pernah diutus ke Bulgar Volga tahun 310 H itu menggambarkan orang-orang
Eropa utara sebagai sosok manusia dengan fisik yang sempurna: bertubuh tinggi, berambut pirang dan kemerah merahan.
Sejarawan maupun navigator lain, semisal Yahya bin al-Hakam al-Ghazzal (156-250 H/772-866 M), al-Ya’qubi (w 284 H/897 M), Ibnu Khurradadzbih (820-910 M), Ibnu Rustah al-Isfahani (w 300 H/912 M), al-Mas’udi (283-346 H/896-956 M), Ibnu Hauqal an-Nushaibi (w 367 H/977 M), al-Maqdisi (336-380 H/940-991 M), Miskawaih (320-421 H/932-1030 M), Abu Bakar ath-Tharthusyi (451-520 H/1059 1127 M), Muhammad al-Idrisi (493-559 H/1100-1166 M), Yaqut al-Hamawi (574-626 H/1179-1229 M), Ibnul Atsir al-Jazari (555-630 H/1160-1233), dan al-Maqqari (986-1160 H/1578-1632 M) juga menyinggung bangsa Viking meski tidak banyak.
Walaupun tidak spesifik, bangsa yang digambarkan sejarawan sebagai ”orang-orang berambut pirang dari Eropa Tengah, Timur dan Utara” pastinya mencakup bangsa Viking yang sepanjang abad ke-9 hingga ke-11 telah menjelajahi sepanjang pantai Eropa barat hingga ke semenanjung Iberia; serta menjangkau Eropa bagian timur dan negeri-negeri Turkistan di Asia Tengah.
Pada 2 abad pergantian milenium pertama Masehi, Viking adalah satu satunya kekuatan dari era kegelapan Eropa yang memiliki kekuatan militer yang tangguh.
Dan meskipun tidak sampai membangun peradaban yang mentereng dan telah terusir dari Eropa Barat dan Timur, namun populasi bangsa Viking di wilayah Islam di kawasan Eropa disebutkan “jumlahnya melebihi prediksi”.
“Mereka (Viking) bukanlah kaum barbar yang bodoh. Mereka tahu persis strategi militer dan tekanan atas ideologi yang mereka hadapi,” ujar arkeolog Norwegia, Bjørn Myhre.
Omar Mubaidin dalam artikelnya, Tentative Global Timeline of Contacts between the World of Islam and Western Europe: 7th-20th Century di situs muslimheritage.com, menceritakan bahwa armada Viking pernah menenggelamkan armada Muslim di Lisbon, Sevilla, Cadiz, serta Algeciras di Keamiran Cordova dan Asilah di Maroko.
|BACA JUGA : IMAM AL-QOFFAL TIGA ULAMA SATU JULUKAN
Dalam sebuah serangan balik, pasukan Cordoba membuat perangkap di Sungai Guadalquivir. 30 kapal viking dan seribu pasukan Viking tewas dalam pertempuran itu.
Jika di pesisir Eropa Barat Viking menebar ancaman dengan armada lautnya yang ganas, sebaliknya di Eropa Timur, Viking lebih dikenal sebagai komunitas pedagang budak dan pakaian musim dingin, khususnya topi dan mantel yang terbuat dari bulu rubah hitam.
Hal itu karena etnis Turki lebih dominan di kawasan tersebut, seperti di Khazar dan Bulgar. Selama ribuan tahun, mereka terkenal dengan pasukan kavalerinya yang tangkas dan cepat.
Di pusat-pusat perdagangan seperti Kiev dan Novgorod, yang termasuk bagian dari rute perdagangan Volga, orang-orang Viking membangun relasi bisnis dengan pedagang-pedagang Muslim.
Koin dari Abbasiyah maupun Umayyah Andalusia telah jamak dipakai sebagai alat tukar bangsa Viking. Begitu pula koin perak Skandinavia, juga banyak beredar di pasar-pasar tersebut.
Hal yang sama terjadi ketika mereka datang ke kawasan Timur Tengah. Menurut sejarawan University of Wales, Jonathan Clements dalam bukunya, A Brief History of the Vikings: The Last Pagans or the First Modern Europeans?, “Mereka (Viking) mungkin telah menjadi perampok di rute akhir perdagangan Eropa, tapi ketika tiba di Timur Tengah, mereka adalah pedagang.”
“Saya telah melihat Rus (Viking), datang untuk berdagang dan kemudian berkemah,” tulis Ibnu Rustah.
Sejak Kapan Memeluk Islam?
Salah satu bukti paling klasik yang merekam kislaman bangsa Viking dicatat oleh ahli geografi Persia dari abad ke-16, Amin Razi. “Mereka (Viking) sangat menyukai babi. Bahkan mereka yang telah masuk Islam pun masih menyukai daging babi,” ujarnya.
Omar Mubaidin menambahkan, “Viking sering menyerang negara-negara Muslim maupun Kristen di Semenanjung Iberia. Sementara itu komunitas Viking yang menetap di sana dan kemudian masuk Islam di Sevilla, menjadi terkenal karena memasok keju ke Cordoba dan Sevilla.”
Dalam film dokumenter BBC oleh Andrew Marr, History of The Worlds episode 4: Into the Light (tayang 14 Oktober 2012), Marr mengangkat segmen pembahasan A Viking Raid on Kiev and the Foundation of Kievan Rus’ 882 AD. Di situ dijelaskan bagaimana upaya Viking di Rusia yang hampir masuk Islam beserta raja mereka, yang disebut tidak mampu memutuskan memilih agama yang sesuai dan terbaik untuk mereka.
Penemuan Baru
Sebuah makalah penelitian yang terbit pada 23 Februari 2015 mengungkap temuan cincin perak dengan hiasan batu ungu dari makam seorang perempuan Viking yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M. Sedangkan cincin itu sendiri ditemukan pada akhir abad ke-19.
Penemuan ini menjadi trending topik dan lumayan mengejutkan karena cincin itu memuat ukiran lafal jalalah ‘Allah’. Hal ini mengundang tanda tanya besar, apakah cincin itu harta jarahan perang? Pemberian dari Muslim? Atau apakah dia mualaf? Para arkeolog sendiri belum bisa memastikan karena jasad itu telah membusuk, sehingga sulit untuk dipastikan etnis maupun keyakinannya. Yang jelas, perempuan itu tampaknya memakai pakaian tradisional Skandinavia lengkap dengan perhiasannya.
Saat ini cincin tersebut disimpan di The Swedish History Museum, Stockholm. Dua tahun kemudian, para peneliti di Swedia menemukan tulisan Arab pada kostum pemakaman perahu orang-orang Viking. Sebuah kain berbahan sutra dan perak menggunakan desain tenun bertuliskan ‘Allah’ dan ‘Ali’.
Padahal, pakaian khas pemakaman Viking dari abad ke-9 dan 10 itu sempat diabaikan dalam ruang penyimpanan selama lebih dari 100 tahun. Benda-benda itu ditemukan dari hasil penggalian di wilayah Birka dan Gamla Uppsala, Swedia, pada akhir abad ke 19 dan awal abad 20.
|BACA JUGA: RECONQUISTA: SEJARAH TERBANTAINYA UMAT ISLAM DI SPANYOL
Penemuan tulisan itu terungkap dalam kajian yang dilakukan pakar arkeologi tekstil, Annika Larsson dari Universitas Uppsala.
Awalnya, Annika tertarik dengan potongan-potongan itu setelah menyadari barang-barang tersebut berasal dari Asia Tengah, Persia dan Cina. Menurutnya, desain geometris yang mungil dengan tinggi tak lebih dari 1,5 centimeter, tak sama dengan yang biasa dia temukan di wilayah Skandinavia.
“Saya tidak dapat memahaminya dan kemudian saya ingat di mana saya pernah melihat desain yang serupa, yaitu di Spanyol, pada tekstil Moor.” Istilah Moor adalah sebutan orang Eropa kepada umat Islam Andalusia dan Maroko.
Annika menyadari itu sama sekali bukan rancangan orang-orang Viking, melainkan tulisan Arab Kufic kuno, yaitu dua kata yang terus berulang, yaitu ‘Allah’ dan ‘Ali’.
Annika menemukan nama-nama setidaknya pada 10 dari 100 potongan yang dikajinya, dan kata itu selalu muncul berdampingan. “Kemungkinan bahwa beberapa orang yang dikubur merupakan Muslim tidak sepenuhnya terungkap,” ujarnya. “Kami mengetahui dari ekskavasi makam Viking yang lain bahwa analisa DNA menunjukkan sejumlah orang dikuburkan di dalamnya berasal dari Persia, di mana Islam merupakan agama dominan.”
“ Bagaimanapun, tampaknya penemuan itu menunjukkan bahwa kostum pemakaman masa Viking dipengaruhi oleh gagasan Islam seperti kehidupan abadi di surga setelah kematian.”
Sampai saat ini nama ‘Allah’ dan ‘Ali’ seringkali ditampilkan dalam pola-pola misterius di dalam kuburan dan buku sekte mistik Syiah seperti Alevis dan Bektashis, tetapi selalu didampingi dengan nama ‘Muhammad’. Kadang ditulis dalam huruf yang menyerupai pantulan cermin. Ketika tidak didampingi nama ‘Muhammad’, bisa jadi itu berasal dari pemeluk Syiah ekstrem (ghulat) yang meyakini sifat ketuhanan Ali.
Laporan mengenai penemuan baru ini dilaporkan dalam sebuah artikel pada laman thelocal.se, Oktober 2017, bertajuk Why these Viking burial Clothes had insciption to ‘Allah’ and ‘Ali’. Artikel serupa ditulis oleh Tharik Hussain di laman BBC dengan judul Why did Vikings have ‘Allah’ embroidered into funeral clothes?




