Banyak hadis yang menggambarkan zaman semakin “belakang”, semakin pula memburuk. Antara lain, sabda Rasulullah:
“Generasi awal umat ini ialah generasi terbaik. Generasi terakhir adalah seburuk–buruknya generasi, lantaran silang pendapat dan perpecahan.”
Hadis serupa juga sangat berjibun, mulai dari hadis yang mengisahkan Nabi Sulaiman mengikat setan di dasar laut dan setan tersebut akan keluar pada akhir zaman (HR. Muslim), hingga hadis akhir zaman banyak orang yang mengada-ada informasi (HR. Muslim). Semua hadis tersebut dicantumkan oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Rasâlatu Ahlis–Sunnah wal-Jamâ’ah sebagai pengingat akan kegentingan masa-masa akhir umat Islam.
Jika kita menyadari hal tersebut, tentu sebagai makhluk yang berakal, kita harus mempersiapkan alat untuk mengantisipasinya. Seperti halnya jika kita telah menyadari bahwa banyak malware yang siap menyerang perangkat, kita harus mempersiapkan antivirusnya.
Lantas, protektor apakah yang mesti kita persiapkan? Jawabannya: mendalami akidah. Imam as-Sanusi dalam mukadimah Syarh Ummil-Barâhîn mengatakan:
“Hal yang terpenting untuk disibukkan oleh orang yang cerdas pada zaman yang semrawut ini ialah berusaha terhadap sesuatu yang menyelamatkan dirinya dari kekekalan di neraka. Hal itu tidak lain adalah dengan menguasai akidah tauhid sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ulama Ahlusunah yang arif dan bijaksana.”
Tentu yang kami maksud dengan mendalami akidah bukanlah sekadar belajar hal dasar saja, melainkan belajar akidah tingkat lanjut. Mempelajari dasar, itu malah kewajiaban perdana setiap orang. Hal ini sebagaimana dalam nazam Zubad Ibnu Ruslan yang sudah sangat masyhur yang artinya:
“Hal yang pertama diwajibkan kepada manusia secara umum ialah makrifat kepada Tuhannya dengan meyakini-Nya.”
Tentunya yang dimaksud dalam nazam tersebut adalah akidah-akidah dasar yang hukum mempelajarinya adalah fardhu ain. Akidah dasar tersebut bukanlah anti-virus, melainkan operasi sistem (OS) yang memang harus ada di semua perangkat.
| BACA JUGA: RAGAM BENTUK PAHALA SEDEKAH
Nah, untuk melindungi “OS” dalam diri kita, ialah dengan menginstal software tambahan yang berupa antivirus. Antivirus dalam hal ini adalah mendalami akidah hingga sampai pada titik di mana ia bisa menolak syubhat-syubhat yang ada pada zaman akhir.
Sebenarnya, untuk mempelajari akidah sampai pada titik tersebut, Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulûmiddin menjelaskan bahwa perlu peninjauan dulu. Penafsilannya tergantung situasi dan kondisi. Ulama yang bergelar hujjatul–Islâm ini menganalogikan pengajar ilmu kalam seperti dokter:
“Seharusnya pengajar ilmu kalam harus seperti dokter yang ahli dalam menggunakan obat dosis tinggi. Ia tidak menggunakannya kecuali pada tempatnya, pada saat dibutuhkan, sesuai kadar kebutuhannya.”
Selanjutnya, Imam al-Ghazali menuturkan setidaknya belajar-mengajar akidah terbagi menjadi tiga meninjau dari situasi dan kondisi. Kondisi pertama, ia hidup di tempat yang minim bidah. Kondisi kedua, ia berada di tempat yang terdapat bidah. Kondisi ketiga, bidah sudah tersebar luas.
“Seseorang yang hidup dalam lingkungan yang minim sekali kebidahan, dan tidak ada silang pendapat antar mazhab, maka cukuplah di wilayah tersebut untuk menjelaskan keyakinan dasar Islam, sebagimana yang telah kami tuturkan. Tidak perlu juga menuturkan dalil dan menunggu munculnya bidah.
Apabila kebidaahan muncul, maka sampaikanlah dalil-dalil sesuai kebutuhannya. Akan tetapi, bila kebidahan sudah merajalela dan khawatir menjangkiti anak kecil maka tidak masalah mempelajari ilmu kalam yang selevel dengan kitab ar-Risâlah al-Qudsiyyah agar hal tersebut menjadi ‘antivirus’ dari perdebatan ahli bidah jika menimpa kepada mereka.”
Dari tulisan ini sebenarnya kami tidak mengatakan bahwa semua tempat saat ini sudah terjangkiti kebidaahan. Namun, kebanyakan tempat memang sudah terjangkiti. Jika Anda hidup di tempat yang bisa mengakses internet, di sana pula kebidahan tersebar luas, sehingga hampir keseluruhan tempat sudah tergolong pada kondisi ketiga. Sudah selayaknya mempelajari akidah yang selevel dengan ar-Risâlah al-Qudsiyyah, sebagai bekal menghadapi zaman yang semrawut.




