Hidup di zaman akhir seperti sekarang ini, bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik adalah anugerah ilahi yang harus disyukuri, lebih-lebih bagi seorang Muslimah yang jumlahnya semakin banyak tidak terkalkulasi. Anugerah ilahi ini tentu harus dijaga agar sifatnya lebih berkah dan bisa lebih abadi. Di antara cara menjaganya ini adalah dengan memahami agama sesuai dengan ajaran dan tuntunan Baginda Nabi. Tidak condong ke kanan, juga tidak condong ke kiri.
Alhamdulillah, bersyukur sekali rasanya, belakangan ini, banyak kita jumpai beberapa komunitas Muslimah yang berkumpul dalam hal kebaikan. Perkumpulan-perkumpulan ini amat beragam. Ada yang tertarik lewat konten youtube, tiktok, dan instagram, hingga saling mengenal dan berkumpul di grup whatsapps dan telegram. Ada pula yang sampai saling bertatap muka, berkumpul menggelar majelis pengajian, dan saling bernasihat mengajak yang lain guna bersemangat dalam meningkatkan mutu kebajikan. Mereka semua berspirit mengamalkan hadis Nabi, “Agama adalah nasihat.” (HR Muslim)
Sebagaimana lazimnya, hati seorang wanita yang cenderung lebih lemah dan baperan, berjumpa dengan komunitas Muslimah yang lagi menjamur bak di musim hujan ini, tentu hatinya akan tergugah dan tertarik mengikuti komunitas tersebut. Sehingga, semakin ke belakang, mata kita kian terbuka melihat semakin banyaknya komunitas-komunitas yang ada. Mereka menamainya dengan komunitas “Muslimah Berhijrah”.
Bersyukur jika komunitas Muslimah Berhijrah yang diikutinya tersebut adalah komunitas yang kulit dan isinya baik. Sayangnya, tidak semua komunitas terdapat mentornya, mentor yang memang betul-betul memahami ajaran agama yang benar, yakni ajaran Ahlusunah wal Jamaah. Dan ironisnya, kini yang banyak adalah komunitas-komunitas Muslimah yang tidak dipandu oleh mentor yang berakidah Ahlusunah wal Jamaah. Tentu saja hal ini amat disayangkan. Semacam tidak ada keseimbangan antara semangat ingin berbuat baiknya dengan apa yang mereka dapatkan. Maka berhati-hatilah wahai Muslimah, berhijrah jangan sampai salah arah.
Yang pada awalnya tidak berhijab, suka berpacaran, dan gemar melontarkan kata-kata kotor, sebab mengikuti komunitas Muslimah Berhijrah tersebut akhirnya perlahan ia berubah menuju haluan kebaikan. Mulai berhijab dengan rapi, meninggalkan hubungan haramnya, dan memperbaiki cara berbicaranya. Tentu saja hal ini amat bagus, mereka benar-benar berhijrah dari perbuatannya yang buruk menuju amal yang baik. Hal ini senada dengan sabda Nabi, “Hakikat hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Namun sayangnya, karena para Muslimah tersebut salah komunitas di dalam berhijrah, akhirnya di satu sisi ada kerusakan akidah yang tidak mereka sadari. Kesalahan akidah itu terus merangsek ke alam bawah sadarnya, hingga mengubah cara pandang dan pola pikirnya. Kasus ini tentu berangkat dari kedangkalan pemahaman ilmu agama yang mereka miliki, ditambah kurang jeli saat tertarik dan masuk menjadi anggota komunitas tersebut. Ketidak jelian ini sebenarnya tidak terlalu heran, sebab memang dari sononya, tabiat seorang wanita kerap mengedepankan perasaannya, tidak kritis dengan akal pikirannya, apakah komunitas ini berpaham Ahlusunah wal Jamaah atau tidak. Hanya bermodal baper melihat banyak teman-teman sejawatnya yang ikut dan nimbrung ke komunitas tersebut, akhirnya ia ikut-ikutan juga masuk ke komunitas yang sama.
| BACA JUGA: PROBLEMATIKA PUASA WANITA ISTIHADZAH
Sehingga, karena berhijrah salah arah ke komunitas Muslimah Wahabi, yang mula-mula welcome pada amalan-amalan kaum Sunni, akhirnya teperdaya oleh cacatnya akidah kaum Wahabi. Yang dulunya bersemangat mengikuti istigasah, tahlil, lengkap dengan tawasulnya, pada puncaknya menolak, membidahkan, atau bahkan mengkafirkan Muslimah lain yang tidak sejalan dengan cara pandang ala komunitasnya. Atau bukan salah arah ke komunitas Muslimah Wahabi, tetapi salah arah ke komunitas Muslimah Islam Liberal. Akibatnya, sebelum berhijrah mereka adem ayem menerima nash al-Quran yang menerangkan bahwa bagian hak waris laki-laki lebih banyak ketimbang perempuan, juga menerima bahwa dalam al-Quran lelaki boleh menikahi lebih dari satu wanita, akhirnya mereka angkat suara dan menggugat nash al-Quran yang sudah ada. Tidak hanya menggugat, sebagian komunitas Muslimah Islam Liberal tersebut juga berani berkampanye bahwa al-Quran tersebut tafsirnya perlu direvisi. Bahkan yang ekstrem, sebagian dari mereka ada yang berpikir bahwa tafsir al-Qurannya tersebut harus dikontekstualisasikan dengan era dan masa kini. Mereka menuntut agar kaum lak-laki dan perempuan sama dalam segala hal dan lini. Bagi mereka, dalam hidup tidak boleh ada yang namanya patriarki.
Tentu saja hal ini masuk pada urusan yang darurat dan bersifat bahaya. Apabila dibiarkan maka akan menjurus pada jurang petaka. Beruntung misal mereka segera insaf, beristigfar, dan menyesali kesalahan beragamanya tersebut. Yang kasihan dan celaka adalah apabila mereka terus tersemu dan terus tidak tahu bahwa ternyata mereka sedang berada di dalam akidah yang salah. Maka sekali lagi, bagi Anda wahai Muslimah, harus ekstra hati-hati dalam berhijrah, berhijrah jangan asal berhijrah, dan berhijrah jangan sampai salah arah. Harus benar-benar tahu bahwa komunitas hijrahnya adalah komunitas yang bersyariat, bertasawuf, dan berakidah Ahlusunah wal Jamaah.
Sehingga dari uraian ini, kita sekarang sama-sama mengerti bahwa PR terbesar bagi seorang Muslimah yang ingin benar-benar total di dalam berhijrah adalah memastikan bahwa komunitas hijrah yang hendak mereka ikuti adalah komunitas Muslimah Ahlusunah wal Jamaah.
Dengan demikian maka semua yang mereka dapati adalah kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan Nabi. Sehingga, mereka akan santun dalam berucap, bijak dalam bertindak, dan elok dalam berwatak. Maksudnya, saat bertutur kata, mereka selalu memilih diksi yang baik, sopan, dan penuh kelembutan, sehingga tutur katanya tidak sampai menyakiti hati dan perasaan orang lain, apalagi sampai mengkafirkan Muslimah lain yang tidak sepemikiran, atau menggugat kandungan isi al-Quran yang tidak sejalan. Tidak, mereka tidak akan sampai begitu. Demikian pula saat bertindak, mereka semua akan bijak. Toh seandainya teledor kebawa emosi misalnya, maka akan banyak patner hijrah yang akan meredam emosinya dan menasihatinya agar tetap bijak dalam bertindak. Sehingga sekalipun misalnya ia dikhianati, ditipu, dan dikecewakan, kawan-kawannya di dalam komunitas hijrah Muslimah Ahlusunah wal Jamaah tersebut akan memberi petuah agar ia tetap sabar dan tidak membalasnya.
Nah, begitulah kira-kira jika arah hijrahnya tidak salah, yakni berhijrah di atas pondasi Ahlusunah wal Jamaah. Semangat berhijrah ya!




