Nama Pesantren: Pondok Pesantren Bustanul Ulum
Alamat: Jl. KH. Abdullah Yaqien, Mlokorejo, Kec. Puger, Kab. Jember, Jawa Timur.
Tahun Berdiri: 1943 M
Pendiri: KH. Harun
Pengasuh sekarang: KH. Syamsul Arifin
Jumlah Santri: 1.471
Pendidikan: RA Al-Musthofa, MI, SMP, SMA, Madrasah Diniyah Awwaliyah, Wustho, Ulya, dan MQA
Bermula pada pertengahan abad ke-19 di Desa Mlokorejo berdiri sebuah tempat yang dijadikan sebagai pusat pembelajaran al-Quran dan kajian ilmu agama Islam. Tempat ini didirikan oleh penyiar agama Islam yang bernama KH. Harun bersama istrinya Ny. Hj. Khodijah, salah seorang pedagang dari Madura.
Singkat cerita, putri KH. Harun yang bernama Habibah atau yang lebih dikenal dengan Ny. Hj. Maimunah di kemudian hari dinikahkan dengan pemuda yang bernama Hasyim atau KH. Irsyad Hasyim, salah satu santri Syaichona KH. Moch. Kholil Bangkalan. Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimiliki, serta kepandaian dan keistikamahannya, KH. Irsyad Hasyim terus berupaya mengembangkan tempat pengajian tersebut hingga terwujud sebuah pesantren.
Dari perkawinannya dengan Ny. Hj. Maimunah tersebut, KH. Irsyad Hasyim dikaruniai empat putra dan tiga putri. Salah satu putri KH. Irsyad Hasyim yang bernama Ny. Hj. Hamidah Hasyim menikah dengan KH. Abdullah Yaqien atas saran dari KH. Ali Wafa (Pengasuh PP. Al Wafa Tempurejo) yang tidak lain adalah guru KH. Abdullah Yaqien sendiri. Karena dianggap mampu mengemban pesantren, akhirnya KH. Irsyad Hasyim memasrahkan sepenuhnya kepemimpinan pesantren kepada menantu beliau tersebut. Ketelatenan dan keuletan KH. Abdullah Yaqien dalam mendidik dan mengajari para santri, menjadikan pesantren ini lambat laun semakin maju dan berkembang.
Seiring dengan bertambahnya para santri dan semakin banyaknya santri yang berminat untuk menetap, pada tahun 1940 M, atas saran KH. Ali Wafa, KH. Abdullah Yaqien kemudian memberi nama pesantren dengan nama Pondok Pesantren Bustanul Ulum. Setelah itu, pesantren mulai membuka sekolah formal pada tahun 1950 M.
Pada tahun 1996 M, KH. Abdullah Yaqien wafat. Setelah wafatnya beliau, kepengasuhan di pesantren ini sempat kosong selama beberap bulan. Namun kemudian atas kesepakatan keluarga pesantren, KH. Syamsul Arifin (putra KH. Abdullah Yaqien) akhirnya ditunjuk untuk menggantikan KH. Abdullah Yaqien sebagai pengasuh berikutnya.
Setelah pucuk kepemimpinan dipegang oleh KH. Syamsul Arifin, pesantren memiliki perubahan yang sangat signifikan. Pasalnya, sesuai arahan beliau, lembaga pendidikan formal di lingkungan Pondok Pesantren Bustanul Ulum dinonaktifkan. Alasan utama yang melatarbelakangi KH. Syamsul Arifin menonaktifkan lembaga formal untuk mengembalikan pesantren ini pada bidang salaf, dengan harapan para santri menjadi generasi yang tafaqquh fiddin yaitu generasi yang menjalani kehidupan beragama sesuai dengan syariat Islam.
| BACA JUGA: MEMBANGUNKAN NYALI HIJRAH
Namun seiring dengan perkembangan zaman, karena dirasa belum cukup,akhirnya para sesepuh, pengurus, dan wali santri mengajukan kembali pengadaan pembelajaran formal kepada pengasuh. Setelah melalui proses musyawarah yang panjang, dan pengasuh melihat keberminatan santri yang semakin tinggi terhadap ilmu formal, akhirnya pada tahun 2000 M didirikan beberapa sekolah formal kembali.
AKTIVITAS HARIAN SANTRI
Kegiatan para santri dimulai dengan persiapan shalat Tahajjud pada pukul 02.30-03.00 WIB. Selanjutnya pada pukul 03.00-04.30 WIB, semua santri diwajibkan untuk mengikuti kegiatan shalat Tahajjud yang dilanjut denganshalat Subuh berjamaah. Dilanjutkan ngaji sorogan kitab kuning. Barulah pada pukul 05.45-06.30 WIB seluruh santri wajib mengikuti pengajian kitab Fathul–Qarib, Bidayatul-Hidayah, Tafsir Jalalain, dan Ihya Ulumiddin kepada pengasuh.
Setelah pengajian selesai, para santri diwajibkan untuk mengikuti kegiatan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di jenjang formal sesuai dengan tingkatan kelasnya masing-masing pada pukul 07.00-1215 WIB. Santri kemudian diberi waktu selama 15 menit untuk persiapan shalat Zuhur berjamaah. Pelaksanaan shalat Zuhur pukul 12.30-12.50 WIB. Setelah itu para santri dipersilakan untuk istirahat sekaligus persiapan Sekolah Diniyah. Sekolah Diniyah jam pertama dimulai pada pukul 14.00-15.15 WIB.Pada jam istirahat, kegiatan para santri adalah shalat Ashar berjamaah. Setelah pelaksanaan shalat selesai, para santri melanjutkan aktivitasnya di madrasah pada jam kedua. Kegiatan KBM selesai pada pukul 17.00 WIB.
Pada pukul 17.30-18.15 WIB seluruh santri mengikuti kegiatan berupa shalat Maghrib berjamaah yang kemudian dilanjut dengan kegiatan MQA (Madrasah Quran Al-Lailiyah). Shalat Isya berjamaah dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB. Seusai shalat Isya, seluruh santri wajib mengikuti kembali pengajian kitab kepada pengasuh. Kegiatan berakhir pada pukul 21.15 WIB. Kegiatan berikutnya adalah pendalaman bahasa Asing yang dilaksanakan pada pukul 21.15-22.00 WIB. Barulah setelah itu para santri bisa beristirahat di asrama masing-masing hingga kegiatan berikutnya.
MENGAYOMI UMAT
Kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Ulum tidak hanya dirasakan oleh para santri, namun juga kepada masyarakat sekitar, khususnya di daerah Mloko sendiri. Hal ini bisa dirasakan dengan adanya partisipasi pesantren dalam menyediakan kebutuhan umat.Seperti yang dilakukan oleh KH. Abdullah Yaqien pada awal pendirian pesantren. Beliau membuka lembaga dari yang paling rendah yaitu Roudatul Athfal sampai lembaga yang paling tinggi pada saat itu, Pendidikan Guru Agama (PGA).
Setelah berbagai lembaga formal didirikan, pada tahun 1956, KH. Abdullah Yaqien mendirikan Yayasan Wakaf Pendidikan Islam (YWPI). Pendirian yayasan ini dimaksudkan untuk memayungi berbagai lembaga formal dan nonformal yang berada di Pondok Pesantren Bustanul Ulum.
Sejak didirikannya Yayasan Wakaf Pendidikan Islam (YWPI), perjalanan Pondok Pesantren Bustanul Ulum semakin berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan dukungan beberapa cabang madrasah atau sekolah, serta beberapa pesantren yang berada di luar Pondok Pesantren Bustanul Ulum. Sebagai Ketua Yayasan, KH. Abdullah Yaqien ketika itu mempunyai keinginan tinggi agar yayasan tidak hanya mengurus pendidikan di pesantren saja, melainkan juga turut berkiprah dan mensejahterakan masyarakat khususnya di sekitar pesantren.






