Syuaib menangkis ayunan pedang itu dengan tongkat yang biasa dia gunakan untuk menggembala. Sang kakak benar-benar hendak membunuhnya gara-gara dia melarikan diri. Sungguh di luar dugaan, pedang itu patah. Sang kakak terheran-heran.
“Saudaraku, sekarang pergilah ke manapun kau suka!” kata sang kakak.
Syuaib adalah putra bungsu. Yatim sejak masih kecil. Mendapat warisan domba, sangat banyak. Begitu pulapara kakaknya. Semuanya menjadi penggembala domba, bersama-sama. Syuaib seringkali dipaksa. Diberi tugas penggembalaan kambing, nyaris tanpa istirahat. Hingga larut malam sekalipun. Seringkali disuruh begadang untuk menjaga gembalaan, sementara kakak-kakaknya istirahat dan tidur.
Waktu kecilnya habis untuk menggembala. Nyaris tak memperoleh pendidikan agama sedikitpun, bahkan walau sekadar tata cara bersuci, shalat dan mengaji al-Quran. Untungnya, Syuaib tampak berbeda dari anak-anak sebaya dan ‘seprofesinya’. Suka merenung dan berpikir. Suka sekali berada di samping orang yang shalat atau membaca al-Quran. Memperhatikan mereka dengan penuh impian dan menyimak dengan penuh perenungan. Selanjutnya, ia tampak sedih dan murung, karena merasa tak bisa melakukan hal yang sama. Ingin sekali mengaji dan menuntut ilmu.
Ia sempat mengutarakan keinginan kuatnya itu kepada saudara-saudaranya. Mereka keberatan, bahkan menghalangi. Alasannya, tak ada lagi yang sanggup begadang jika Syuaib pergi. Maka, semakin hancur hati Syuaib dirundung kesedihan. Semakin redup rona wajahnya dilanda kemurungan.
Tibalah suatu ketika, tekad Syuaib tak bisa terbendung lagi. Ia pergi. Menghilang tanpa pamit. Salah seorang kakaknya mengejar. Tak tanggung-tanggung, ia membawa pedang. Ketemu. Ia mengayunkan pedangnya. Syuaib menangkis dengan tongkat gembalanya. Di luar dugaan, pedang itu patah. Sangat ajaib!
Peristiwa mendebarkan itu terjadi di Cantillana. Di tepi utara sungai Guadalquivir. Kaum muslimin menyebutnya al-Wadi al-Kabir (sungai besar). Ditranslate oleh orang-orang Spanyol modern menjadi Sungai Guadalquivir. Itulah sungai terbesar kedua di daratan Andalusia. Dulu, di masa kejayaan Islam, merupakan salah satu jalur transportasi air yang cukup sibuk, karena menghubungkan dua kota niaga paling ‘metropolitan’ di Semenajung Iberia pada zaman itu: Cordoba (Qurthubah) dan Sevilla (Asybiliyah).
Cantillana sebenarnya hanyalah kota kecil, termasuk bagian dari wilayah Sevilla. Tidak terlalu jauh dari pusat kota. Hanya 15 mil di timur lautnya. Orang Arab menyebutnya Qathniyanah. Tidak terkenal. Seandainya seorang pemuka sufi besar tidak terlahir di sini, mungkin orang Arab di masa itu tak akan mengenalnya. Dan, sejarah pun barangkali takkan menghiraukannya.
Waktu itu, sudah lebih dari 400 tahun kaum Muslimin menaklukkan Andalusia. Sudah tiga dinasti: Umayyah, lalu dinasti-dinasti kecil (Thawaif), lalu Murabithun. Pada masa Murabithun itulah, Syuaib bin Husain lahir, menghabiskan masa kanak-kanak, masa remaja dan sebagian masa mudanya. Tahun lahirnya: 510 H (1115 M). Kelak ia akan dikenal di seluruh dunia Islam, dengan nama Syekh Abu Madyan al-Ghauts.
Syekh Abdul Halim Mahmud dalam Syaikhusy-Syuyûkh menuturkan bahwa peristiwa pedang patah itu membuat Abu Madyan muda semakin mantap dengan jalan yang ingin ditempuhnya. Abu Madyan meninggalkan Cantillana. Melangkah ke selatan, melintasi Sevilla, hingga tiba ke tepi pantai bagian timur Samudera Atlantik Utara yang sangat luas. Dulu, kaum Muslimin menyebut samudera ini dengan Bahruzh-Zhulumât (Laut Kegelapan). Di situ, beliau berjumpa dengan sekelompok orang yang tinggal di sebuah tenda. Kebetulan ada seorang Syekh. Abu Madyan berbincang cukup lama dengannya. Menceritakan kisah hidupnya dulu dan tujuan hidupnya kini: ibadah dan mujahadah.
| BACA JUGA: REVITALISASI FIKIH MINORITAS
“Pergilah terlebih dahulu ke wilayah-wilayah yang berperadaban maju untuk mendalami ilmu agama. Beribadah kepada Allah itu haruslah dilandasi dengan ilmu,” saran syekh itu.
Tekad yang kuat menuntun Abu Madyan untuk melanglangbuana, mencari guru spiritual sekaligus guru intelektual yang tepat. Beliau memutuskan untuk meninggalkan Andalusia yang menjadi masa lalunya. Menelusuri tepi pantai, mengikuti arah matahari terbit, lalu menyeberangi selat Gibraltar. Kelana spiritual-intelektualnya tertambat di Fez, pusat peradaban dan ilmu pengetahuan terpenting di ujung barat Afrika di waktu itu. Beliau mengikuti berbagai pengajian yang disampaikan oleh sekian banyak syekh di Masjid Jamik Qurawiyin. Tradisi keilmuan di masa lalu, seringkali bermula dari masjid jamik. Terus tumbuh, terus berkembang. Akhirnya, dari jâmi’ lambat laun menjadi jâmi’ah, sebutan orang Arab untuk pusat ilmu pengetahuan (universitas).
Dari sekian banyak syekh di sana, hanya ada satu guru yang paling berkesan bagi Abu Madyan muda: Syekh Ibnu Harazim (Ibnu Hirzihim). Ahli Fikih, ahli Tafsir dan ilmu-ilmu zhâhir yang lain. Akan tetapi, yang paling menonjol dari beliau adalah kedalaman tasawuf dan ilmu-ilmu batinnya.
“Berbagai ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh para syekh tak satupun yang tertancap kuat di hatiku. Hingga akhirnya, aku mengaji kepada seorang syekh (Ibnu Harazim). Setiap untaian kata dari beliau selalu menancap di hatiku, tak lekang dari ingatanku.”
Selesai mengaji, Abu Madyan sowan kepada beliau. “Ya Syekh, aku telah mengikuti banyak sekali majelis ilmu, tapi tak ada satupun yang menancap di hati. Sedangkan Panjenengan, apapun yang aku dengarkan, aku selalu mengingatnya.”
Apa kata beliau? “Mungkin mereka berbicara dengan ujung lidah, sehingga ucapan itu sebatas masuk ke telinga. Sedangkan aku berbicara karena Allah, sehingga ucapanku benar-benar keluar dari hati.”
Syekh Ibnu Harazim sendiri dikenal sebagai pengamal setia tasawuf Imam al-Ghazali. Beliau pengagum berat Ihyâ’Ulûmiddîn. Awalnya beliau termasuk pembenci Imam al-Ghazali. Bahkan, beliau merupakan tokoh utama yang menginisiasi gerakan pembakaran kitab Ihyâ’ di Afrika Barat. Dalam kajian mentahnya, Ihyâ’ dianggap sebagai lumbung bid’ah.
Sikapnya berubah 180 derajat. Tepat pada malam hari sebelum aksi pembakaran yang direncanakan, beliau bermimpi: Imam al-Ghazali melaporkan Ibnu Harazim kepada Rasulullah. Di situ ada Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar.
Imam al-Ghazali menyodorkan kitab Ihyâ’ kepada Rasulullah: Benarkah seperti yang dituduhkan Ibnu Harazim?. Beliau membacanya lembar demi lembar. Lalu bersabda: “Kitab ini bagus.” Beliau memberikannya kepada Abu Bakar, lalu Umar. Keduanya juga menyatakan bagus.
Maka, Rasulullah memerintahkan agar melucuti pakaian Ibnu Harazim dan mencambuknya 80 kali, karena telah menfitnah Imam al-Ghazali. Lima kali cambukan, Abu Bakar usul agar dihentikan. “Ya Rasulallah, Ibnu Harazim melakukan hal itu sebagai bentuk ijtihad atas sunnahmu.” Rasulullah mengabulkan.
Bangun tidur, Ibnu Harazim membalikkan punggungnya. Sakit dari cambukan itu masih sangat terasa,bahkan hingga satu bulan penuh. Demikian menurut penuturan Imam Tajuddin as Subki dalam Thabaqâtusy-Syâfi’iyah. Sejak itulah, Ibnu Harazim berubah haluan. Dari ulama fikih Mazhab Maliki menjadi pemuka tasawuf al-Ghazali. Dari polesan tangannya, lahir banyak murid-murid yang menjadi tokoh sufi terkemuka




