Di balik laki-laki hebat, pasti di belakangnya ada wanita hebat pula. Begitulah slogan yang tidak asing di telinga kita. Bagaimana tidak? Di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada sumbangsih besar dari sosok wanita. Terutama sosok wanita yang satu ini, yaitu seorang ibu. Ibu merupakan sosok yang sangat penting dalam pendidikan anak, karena ibu adalah madrasatul ula bagi anak-anaknya.
Hal yang sama juga dialami oleh Imam Syafii, bintang terang yang menyinari seluruh penjuru dunia dengan ilmu. Sosok alim dan salah satu imam dari empat mazhab Fikih. Bahkan mayoritas masyarakat Indonesia memilih pendapat beliau sebagai mazhab utamanya.
Abu Hurairah meriwayatkan :“Sesungguhnya setiap seratus tahun sekali Allah mengutus seorang pembaharu yang akan membaharui agama umat ini.”
Berkenaan dengan hadis Abu Hurairah di atas, Imam Ahmad bin Hambal menyatakan: “Jika kami perhatikan, tokoh pembaharu pada seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz, dan pada seratus tahun kedua adalah Muhammad bin Idris asy-Syafii.”
Dari usia 7 tahun Imam Syafii kecil telah berhasil mengkhatamkan hafalan al-Quran dengan fasih. Tidak cukup sampai di situ, kitab Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas juga berhasil dihafal. Kemudian pada umurnya yang ke 15, beliau telah diangkat menjadi mufti dan telah diizinkan untuk mengeluarkan fatwa.
Namun, berangkat dari pencapaian-pencapaian Imam Syafii yang luar biasa tersebut, tidak lepas dari peran utama sang ibunda yang selalu menyirami beliau dengan embun tarbiyah. Namanya adalah Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah. Beliau berasal dari suku al-Azd di Yaman. Beliau adalah wanita yang sangat hati-hati, sabar, tawakal, serta cerdas dalam mendidik putranya. Beliau merupakan teladan sejati yang telah menyerahkan jiwa dan raga anaknya untuk menuntut ilmu di jalan Allah. Berikut kisah-kisahnya mulai dari mengandung, mengasuh dan mendidik Imam Syafii seorang diri, hingga bertahun-tahun mengikhlaskan kepergiannya dalam menuntut ilmu, yang pada akhirnya Imam Syafii matang menjadi ulama besar.
Sejak sang putra belum terlahir ke dunia, Fathimah telah mempersiapkan segalanya. Bagi Fatimah, untuk mengajari sesuatu yang baik pada seorang anak itu, harus sudah dibiasakan sejak anak itu masih berada dalam kandungan. Sebelum mengharapkan seseorang anak menjadi anak yang shalih dan shalihah, tentulah sebagai orang tua harus memberikan teladan langsung tentang upaya keshalihan itu sendiri. Maka dari sini, ibunda Imam Syafii sangat menjaga kehalalan nafkah yang ia berikan. Bahkan sebelum sang putra terlahir ke dunia, beliau tidak membiarkan secuil barang syubhat pun menyentuh Imam Syafii meski hanya seujung kuku.
Ketika sang bayi sedang menetek, sang bunda selalu dalam keadaan punya wudhu. Di dalam suatu riwayat, ketika beliau menyusukan di sebelah kanan, beliau membaca surah Luqman ayat 16, ketika menyusukan di sebelah kiri, beliau membaca surah Luqman ayat 17, dan ketika bersendewa, beliau membaca surah Luqman ayat 18-20 atau zikir ketika sendawa.
| BACA JUGA : KISAH ISLAMNYA PUTRA-PUTRI PRABU SILIWANGI
Pada suatu hari, ibunda Imam Syafii pergi ke pasar untuk keperluan, sedang Imam Syafii kecil sedang tidur di rumahnya. Maka ketika bangun dan tidak mendapati sang ibu tidak di sisinya, Syafii kecil pun menangis sejadi- jadinya. Suara tangisan tersebut didengar oleh tetangganya. Melihat kejadian tersebut, sang tetangga berusaha menenangkan Imam Syafii dengan menyusuinya. Sesampainya di rumah, Fathimah merasa khawatir kalau saja ada perkara haram yang masuk ke tubuh Imam Syafii. Tanpa berfikir panjang sang bunda langsung memasukkan jari telunjuknya ke mulut Imam Syafii hingga ke pangkal kerongkongan, mengangkat tubuhnya kemudian mengguncang -guncang perutnya. Semua susu yang masuk ke tubuh Imam Syafii seketika dapat dimuntahkan kembali.
Pada usia 2 tahun, ayah Imam Syafii meninggal dunia. Fatimah harus membesarkan putranya seorang diri. Pada saat itu, Fatimah ingin hijrah dari Gaza Palestina menuju kota Makkah, dengan maksud ingin mempertemukan kembali Imam Syafii dengan keluarganya yang berasal dari suku Quraisy. Fatimah juga mengirim sang putra ke sebuah suku yang bernama Hudzail, untuk belajar bahasa Arab murni. Dalam suatu riwayat, suku Hudzail memang terkenal dengan bahasanya yang fasih pada zaman itu. Hal tersebut memberi dampak yang sangat besar terhadap Imam Syafii, di samping terkenal dengan ketinggian ilmunya, beliau juga terkenal dengan bait-bait syairnya yang indah.
Meski Fatimah hidup seorang diri dan serba kekurangan, tapi tidak lantas menyurutkan semangatnya dalam mendidik Imam Syafii. Dalam hal ini, Imam Syafii menuturkan kisahnya sendiri. “Aku tumbuh sebagai seorang yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Ketika itu guruku sudah merasa cukup dengan aku menggantikannya ketika beliau pergi.”
Hingga suatu ketika, Imam Syafii meminta izin untuk menuntut ilmu keluar kota Makkah. Tanpa berfikir panjang, Fatimah langsung mengiyakan hal tersebut, meski ia sadar bahwa jika Imam Syafii pergi meninggalkannya, tentu ia akan merasakan kerinduan yang sangat dalam. Akan tetapi sang ibunda tidak menghiraukan hal itu, ia tahu ini merupakan keputusan terbaik untuk masa depan Imam Syafii.
Ibunda Imam Syafii percaya bahwa Allah akan menjaga dan melindunginya. Bahkan jauh-jauh hari sebelum Imam Syafii berangkat ke Kota Madinah untuk belajar kepada Imam Malik, beliau sempat berpesan untuk tidak terlalu hawatir terhadap dirinya yang tinggal sendirian. Fatimah berpesan agar putranya tidak pulang sebelum ia menjadi orang yang mendalami ilmu agama. Beliau berkata: “Kelak kita berjumpa di akhirat saja.”
Sangat luar biasa. Semoga kita para muslimah diberi kemampuan oleh Allah untuk meneladani budi pekerti beliau yang mulia, sehingga dikaruniai anak-anak yang shalih dan shalihah. Amin.




