TENTU saja tanda kiamat di atas benar-benar sedang terjadi di zaman kita saat ini, dan akan semakin menjadi-jadi di zaman anak cucu kita nanti. Dari tanda-tanda yang sangat beragam ini, setidaknya ada satu benang merah yang bisa kita tarik dari sana, yaitu semakin gigihnya umat manusia terhadap hal-hal duniawi dan semakin lenyapnya semangat mereka terhadap hal-hal ukhrawi.
Benang merah itu cukup jelas, kecuali untuk “merajalelanya pena”. Ini menjadi fenomena akhir zaman yang paling unik lantaran cukup sulit untuk diikatkan dengan benang merah di atas. Apa maksudnya, apa pula kaitannya dengan keruntuhan spiritualitas umat manusia di akhir zaman?
Tentu saja maksud “pena” itu bukan sekadar alat dan sarana tulismenulis, melainkan simbolisasi tentang canggihnya sarana tulis menulis serta meningkatnya keterampilan dan kegiatan baca-tulis secara global. Inilah gambaran utuh dari era informasi dengan segala perangkatnya: media cetak, media elektronik dan media online. Banjirnya aplikasi percakapan dan media sosial membuat komunikasi menjadi sangat mudah. Semuanya ditulis, semuanya diposting. Kata-kata bijak hingga sumpah serapah. Pemikiran serius hingga
celotehan lebay.
| BACA JUGA : MAKAN-MAKAN DI MASJID
Maka, canggihnya sarana komunikasi itu juga melahirkan dampak yang sangat mengkhawatirkan justru bagi nilai-nilai esensial dari kehidupan manusia. Perang pemikiran berkembang menjadi perang opini, dan akhirnya menjadi perang caci maki. Tidak hanya terjadi di tingkat elite, tapi sudah merata hingga ke sudut-sudut kecil ruangan rumah tangga.
Di hadis yang lain, Rasulullah juga menyebut “hilangnya ilmu” sebagai tanda kiamat. Apa kaitannya dengan “merajalelanya pena”? Sepintas tampak saling bertentangan. Nyatanya, sangat kompromistis untuk menjadi fenomena akhir zaman. Maksudnya: Tanda kiamat itu adalah gemar menulis, tapi yang ditulis justru hal-hal yang penuh kebodohan.
Kalaupun yang ditulis itu tentang pengetahuan , maka bukanlah pengetahuan agama. Karena yang dimaksud “ilmu yang hilang” itu adalah ilmu agama. Kalaupun misalnya yang ditulis adalah ilmu agama, maka adalah ilmu agama yang telah diselewengkan. Bisa karena disesatkan pengertiannya,
atau karena diselewengkan tujuannya: ilmu agama yang disalahgunakan untuk kepentingan duniawi. Al-ilmu al-yauma mazhlûm. Saat ini, ilmu agama sedang ditindas. Disia-siakan, ditelikung dan disalahgunakan.
Karena itulah, ada ulama yang menafsiri “merajalelanya pena” itu dengan zhuhûrun-nisyân, merajalelanya lupa. Umat manusia mudah hilang ingatan, terutama terhadap ajaran-ajaran agama, maka mereka sangat bergantung pada tulisan. Ingatan manusia sudah tidak bisa dipercaya. Dulu, seribu tahun yang lalu, kaum Muslimin mengandalkan hafalan. Semuanya dihafal. Puluhan bahkan ratusan ribu hadis dan sanadnya. Pun pula kitab-kitab tebal. Sekarang, semuanya tinggal cerita-cerita sejarah.
Mengapa bisa menghafal hingga sehebat itu? Bukan semata-mata karena memori otaknya yang super atau kecerdasan nalarnya yang luar biasa. Kalau soal otak, seharusnya manusia modern lebih kuat dan lebih tajam, karena nutrisinya lebih lengkap.
| BACA JUGA : EUFORIA PENDIDIKAN PESANTREN
Yang lebih menentukan daripada “otak” adalah perasaan. Orang-orang dulu menjadikan agama sebagai suatu yang sangat penting, sebagai tujuanhidupnya. Karena itulah mereka mudah mengingatnya. Nah, perasaan itu sudah sangat pudar dari hati manusia modern, karena tujuan hidupnya sudah bertolak belakang. Hati, pikiran, perasaan, benak, ingatan dan memori ingatannya full dengan hal-hal duniawi. No available space untuk hal-hal ukhrawi.
Kembali kepada hadis di atas. Sebelum menyebut “merajalelanya pena” sebagai tanda akhir zaman, Rasulullah menyebut beberapa fenomena yang intinya adalah menipisnya ukhuwah, merajalelanya bisnis, perpecahan, hoaks dan bungkamnya suara kebenaran. Wa–shadaqa ar-Rasûl. Apa kaitannya dengan “pena”? Anggaplah pena akhir zaman itu adalah media cetak, media elektronik dan media online saat ini. Konten apakah yang mendominasi di sana? Ternyata memang tidak jauh-jauh amat dari lima fenomena tadi.
Caci maki, hoaks, penipuan bisnis, hingga opini-opini palsu tentang sebuah peristiwa telah menjejali dunia informasi kita. Selanjutnya menjejali benak, pikiran dan perasaan kita. Selanjutnya lagi, mempengaruhi budaya dan pandangan hidup kita dan anak cucu kita.
Jika dibiarkan, ulah pena itu akan menjadi petaka yang sangat mengerikan. Negara harus hadir untuk mengawasi, menghalau, lalu mengamputasi bagian-bagian yang buruk itu. Sekali lagi, yang kita butuhkan adalah kehadiran negara, bukan politisi. Kehadiran pemerintah yang berlaku adil, bukan penguasa yang tebang pilih. Apapun itu, marilah kita mulai dari diri sendiri. Tulislah hal-hal yang baik. Ingatlah, jejak digital kita akan hidup lama, mungkin akan jauh melampaui usia kita.
Ibnu Qutaibahad – Dinawari . Cendekiawan yang produktif menuliskan banyak karya dalam berbagai tema. Sempat menjadi qadhi di Dinawar, Kurdistan. Beliau menulis kitab Adabul–Kâtib (etika penulis) pada pertengahan abad ketiga hijriah. Waktu itu, penulisan kitab dalam peradaban Islam sudah mulai dilakukan secara massif. Beliau menulis dalam pendahuluan kitab itu, “Aku ingin orang yang menerima ilmu dan mengikuti kitab-kitab kami agar melatih jiwanya sebelum melatih lidahnya; memperbaiki moralnya sebelum memperindah ucapannya; menjaga kehormatan dirinya dari hinanya gibah; menjaga keahliannya dari noda kedustaan; dan sebelum menjauhi kesalahan tata bahasa, jauhilah kesalahan bicara, jauhilah candaan-candaan yang hina.




