ADA pembangunan opini dan citra buruk terhadap ulama-ulama yang tegas dalam amar makruf nahi munkar. Mereka disebut sumbut pendek. Konotasinya negatif; kagetan, meledak-meledak, cenderung radikal, tak kenal toleransi, anti kebhinekaan, dan tudingan miring lainnya. Sedangkan ulama yang adem ayem dikatakan nyegoro, bijak, sejuk dan dielu-elukan. Di sinilah kemudian umat dibuat bingung. Bagaimana kita harusnya bersikap? Berikut pandangan Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf melihat fenomena ini saat diwawancara oleh Alil Wafa, dari Sidogiri Media.

Ada upaya masif membentuk citra negatif para ulama, mereka seolah dibentur-benturkan satu sama lain, menurut Habib?

Untuk zaman sekarang ini, selain kita mengoreksi diri sendiri, kita juga harus sambil mencermati keadaan luar, karena ada upaya-upaya keras dari musuh Islam untuk berusaha menekan umat Islam lewat ulamaulamanya. Dibangun opini seakan-akan ulama-ulama yang mengacaukan negeri ini. Padahal kalau mau melihat sejarah bangsa ini, justru para ulama yang punya andil besar membebaskan negeri ini dari para penjajah.

Mereka berupaya untuk menghilangkan kesan bahwa negeri ini pernah diacak-acak oleh paham komunis. Masih ingat enggak dulu, setiap ada kejadian tidak baik, pasti orang langsung bilang ini adalah gerakan PKI. Tapi akhir-akhir ini, sudah tidak ada yang seperti itu. Malah dialihkan kepada isu gerakan terorisme, sampai dibentuk Densus 88 untuk menangani. Padahal lebih berbahaya dan lebih terkoordinir gerakan PKI. Mereka pernah separatis dan pernah mau menggulingkan negeri ini. Mau menerapkan paham komunis. Mau meruntuhkan pancasila.

Sekarang tanda-tanda kebangkitan PKI mulai muncul lagi. Tapi tidak pernah tuh dari pemerintah wacana membentuk pasukan khusus untuk menangani. Padahal bahaya yang mengancam NKRI adalah PKI. Kita harusnya meminta pemerintah membuat pasukan khusus untuk memberantas PKI, karena sekarang sudah berani muncul lagi. Kalau pemerintah tidak mau buat pasukan khusus, ya kita buat pasukan sendiri. Harusnya ulama begitu.

Seakan-akan di sini pemerintah mau memojokkan ulama dengan isu teroris, kemudian melupakan pengalaman PKI. Teroris diopinikan bagian dari kita umat Islam. Padahal tindakan terorisme itu juga ada dari orang-orang kafir. Amerika yang menggempur Irak itu juga teroris, Israel yang menghancurkan Palestina itu juga teror, kemudian Libya dihancurkan oleh teroris. Makanya sekarang ulama harus kompak, harus dalam satu barisan, menyuarakan bersama bahwa sekarang PKI adalah ancaman serius terhadap NKRI.

Ketika tegas dikatakan ulama sumbu pendek, malah yang soft dan adem ayem dikatakan nyegoro?

Kalau menurut saya yang adem ayem itu, dia tidak punya sumbu, bukan nyegoro. Begini, ada saraf yang masih berfungsi ada saraf mati. Ketika Islam diganyang, kalau saraf Islam dan imannya itu masih ada, pasti dia merasa perih. Tapi kalau Islam diganyang dia diam, berarti saraf Islam dan Imannya sudah mati. Bukan nyegoro yang seperti itu.

Jadi jangan sok makrifat lah. Itu bukan makrifat, malah semakin tidak kenal dengan Allah. Kenapa para shahabat berjibaku membela agama Allah? Nabi pun juga menghadapi banyak tantangan dengan begitu banyak resikonya, sampai berdarah-darah. Itu semua untuk membela agama Allah. Apakah mereka para shahabat itu kalah dengan orang-orang yang sok nyegoro tadi itu, itu saraf Islam dan imannya yang mati. Tidak merasa perih ketika Islam diganyang.

Jadi gak masalah meskipun dikatakan sumbu pendek?

Ya tidak ada masalah, biarkan saja apa kata orang, gak usah didengarkan, sudah biasa seperti itu. Mendengarkan kata-kata orang bisa gak ada benarnya nanti.

Ketika karakter ulama beda-beda seperti itu, otomatis membingungkan umat?

Ulama itu siapa sih?

Nah itu yang perlu diperjelas Habib?

Apakah ulama itu yang banyak ilmunya tapi berani maksiat? Ulama itu bukan diukur dari banyaknya ilmu, tapi nilai khasyyah-nya dengan ilmu itu. ruhnya ilmu itu khasyyah (takut) kepada Allah. Bukan ruhnya ilmu itu jara’ah kepada Allah, berani kepada Allah. Ulama itu oleh Allah di dalam al-Quran dibahasakan sebagai orang yang takut kepada Allah. Kalau gak ada khasyyah jangan disebut ulama. Penekanannya di situ, bukan karena banyak illmunya. Ahlul-Khasyyah hum ahlul ‘ilmi, banyak ilmu tapi mereka ahli maksiat bukan ulama. Jangan dikatakan ulama, Al-‘ilmu khasyyah kulluh, yu’rafu bidzâka ahluh. Ilmu semuanya 100 % mengajak kita khasyyah kepada Allah. Makanya ahlul-‘ilmi sama dengan ahlul-khasyyah, bukan orang yang omongannya berani maksiat kepada Allah. Termasuk mereka yang gak kelihatan ngelakuin maksiat tapi bela maksiat.

Orang yang berbuat maksiat tapi merasa dirinya dosa, itu lebih baik dari pada orang yang setuju atau mendukung perbuatan maksiat. Orang yang mabuk dia merasa berdosa lebih baik dari pada tidak mabuk tapi membuat pabrik bir. Atau mendukung adanya pabrik bir, mendukung perzinahan, itu lebih berbahaya. Yang dikhawatirkan kalau dia tadi itu sampai istihlal, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, bisa kufur, batal semua ibadahnya.

Jadi karena itu para kiai kompak harus tegas menyatakan jangan ikuti dia, karena dia itu bukan kiai, karena kiai itu kriterianya harus begini dan begini. Adalagi yang pakai nama gus, padahal bukan kapasitasnya, jangan disebut gus, diprotes saja, gak ngerti apa-apa kok dipanggil gus.

BACA JUGA: MUI MELURUSKAN, MENGAMANKAN DAN MENGARAHKAN