Masjid Wapauwe merupakan masjid yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umur masjid yang berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala ini sudah mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1441 M. Masjid yang saat ini masih berdiri dengan kokohnya, menjadi bukti sejarah Islam di Maluku pada masa lampau.
Lokasi Masjid
Masjid Wapauwe terletak di Desa Kaitetu, Kabupaten Maluku Tengah. Di sekitar masjid, lebih tepatnya 150 meter ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda yang telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon pada tahun 1999 M lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua ‘New Amsterdam’. Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji (gedung besar) Portugis ini, terletak di bibir pantai dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu.
Rute Menuju Masjid
Untuk mencapai Desa Kaitetu di mana Masjid Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Desa Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arahkiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalanan, orang yang hendak menuju Masjid Wapauwe bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang kadang-kadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkih dan pala hijau menyejukkan mata.
Sebelum mencapai Kaitetu, terlebih dahulu bertemu Desa Hitu, sebuah ruas jalan yang menurun dan terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Pada ruas jalan tersebut Anda akan disuguhi panorama pesisir pantai utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau.
Setibanya di simpang empat Hitu, bagi Anda yang membawa kendaraan harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir utara Desa Hitu. Baru setelah menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, maka Anda akan menemukan Desa Kaitetu, lokasi di mana Masjid Wapauwe berada.
Sejarah Awal
Mulanya, masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane; yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly. Namun pada tahun 1580 M, ketika Belanda menginjakkan kakinya di Tanah Hitu, dan penduduk setempat merasa tidak aman dengan ulah Belanda, maka pada tahun 1614 M, masjid ini dipindahkan ke Kampung Tehala yang berjarak 6 kilometer sebelah timur Wawane.
Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan di mana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.
| BACA JUGA: MENCARI TITIK TEMU KARAKTER NEGARA DALAM ISLAM
Arsitektur
Masjid Wapauwe adalah masjid yang memiliki arsitektur indah bergaya mirip bangunan Jawa yang bernama Joglo. Masjid ini tidak memiliki kubah dan sekilas bentuknya mirip dengan Mssjid Agung kota Demak. Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitekturaslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia.
Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.
Renovasi
Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464 M, tanpa mengubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 M dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid.
Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959 M, atap masjid mulai menggunakan semen yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu padabulan Desember 1990 M sampai Januari 1991 M dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993M dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom utama.
Pada tahun 1997 M, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak mengubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini.
Mushaf Tertua di Indonesia
Hal lainnya yang bernilai sejarah dari masjid ini yakni tersimpan dengan baiknya mushaf al-Quran yang konon termasuk yang tertua di Indonesia. Ada dua mushaf; pertama yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 M dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590 M, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.
Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 M dan 1995 M.



