Axienty (kecemasan) merupakan gangguan kesehatan mental yang sering dialami generasi Milenial dan Gen Z saat ini. Sepanjang 2020 saja, Kemenkes menyebutkan ada sekitar 18.373 rakyat Indonesia mengalami ganggua kecemasan. 23.000 di antaranya depresi dan 1.193 lainnya pernah mencoba bunuh diri.
Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Mulai dari faktor ekonomi, kegagalan, hatespeech di sosial media serta beberapa pengaruh luar lainnya seperti Covid-19 dan pertengkaran politik yang setiap tahun semakin memanas. Segala tuntutan tersebut telah menekan mental sebagian besar orang. Akibatnya, orang-orang yang mentalnya belum siap akan mengalami depresi atau bahkan bunuh diri.
Ada satu pesan Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari yang perlu direnungkan oleh generasi milenial dan Gen Z saat ini. Ibnu Athaillah berkata:
لِيَقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ
“Semakin sedikit hal yang membuatmu bahagia, semakin sedikit pula hal yang akan membuatmu sedih.”
Tanpa kita sadari hal-hal yang membuat kita bahagia, secara tidak langsung akan menjadi faktor utama kekecewaan yang kita alami. Seseorang yang bahagianya menunggu kaya, secara tidak langsung mengalami kekecewaan yang tinggi terhadap kemiskinan yang sedang ia alami. Dan seandainya ia gagal, ekspektasi tadi yang akan menjadi boomerang dan menghancurkan mentalnya. Hal seperti ini juga berlaku untuk keinginan-keinginan kita yang lain. Keinginan untuk sukses, keinginan untuk selalu dianggap baik oleh orang lain dan keinginan untuk terus sehat.
Kita juga harus sadar bahwa di dalam kehidupan ini, ada sesuatu yang berada di bawah kendali kita dan ada yang tidak. Memperoleh kekayaan, kesuksesan, pendapat orang lain, dan kondisi lingkungan yang ada di sekitar kita merupakan sesuatu yang tidak berada di bawah kendali kita. Jika kita menggantungkan kebahagiaan pada semua hal tersebut, maka secara tidak langsung kita telah menjerumuskan diri kita pada lembah kekecewaan. Karena faktanya, saat ini kita belum menggapainya.
| BACA JUGA: KISAH AL-QURAN HANYA DONGENG?
Yang seharusnya kita lakukan adalah fokus pada hal-hal yang ada di bawah kendali kita, sembari bersyukur dan menikmati apa yang kita punya. Dan jika suatu hal itu berada di luar kendali kita, kita tidak perlu sibuk memikirkannya. Sebagai contoh, seorang pebisnis yang fokus pada kualitas dan kinerja penjualan (hal yang bisa ia kendalikan) memiliki potensi lebih kecil untuk depresi daripada pebisnis yang terus-menerus berfikir kapan ia bisa kaya. Dan seandainya pebisnistadi suatu saat tidak mencapai target penjualan, ia akan terus mengevaluasi kesalahan tanpa menyalahkan sesuatu yang tidak berada di bawah kendalinya (kegagalan). Di dalam surat Yunus ayat 62 Allah menyebutkan bahwa ciri-ciri kekasih Allah adalah mereka yang selalu bersyukur dan tidak gampang kecewa. Allah berfirman yang artinya:
“‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih.”‘
Seandainya generasi milenial dan gen Z memiliki prinsip ini, tentu mereka tidak lekas mengalami depresi.
Ada cerita seorang pemuda yang mengalami kecelakaan. Di usia mudanya, kakinya mengalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan, sehingga setiap hari ia hanya bisa berjalan dengan kursi roda. Ketika ia ditanya apakah terkurung di kursi roda membuatnya merasa sulit, ia menjawab, “Saya bukan terkurung di kursi roda ini, saya merasa terbebaskan oleh kursi roda ini. Kalau bukan karena kursi roda ini, saya akan tetap di ranjang dan tak pernah bisa meninggalkan rumah.




