Suatu ketika, Habib Ahmad al-Habsyi bercerita sambil menangis tersedu-sedu. Beliau bercerita bahwa suatu hari, ada sepasang suami istri yang hidup glamor.
Bertahun-tahun keduanya jarang makan di rumah. Nyaris setiap hari, mereka keluar dan makan di restoran-restoran ternama. Pekerjaan sang suami yang terbilang sukses membuatnya kerap mengajak si istri dan anak-anak berjalan-jalan dan berbelanja. Hingga pada suatu ketika, saat mereka berdua duduk di sebuah rumah makan, sang istri melihat perempuan tua renta yang mengemis melas di tepi jalan. Hatinya tersentuh dan teringat pada ibu mertuanya. Selama 21 tahun, ia baru sadar bahwa selama itu juga sang suami tidak pernah pulang dan mengajak sang ibu keluar berjalan-jalan.
Tak tega melihat sang ibu mertua sendiri di rumah dan tidak pernah diajak berjalan-jalan, ahirnya ia berusaha mengingatkan sang suami “Wahai suamiku, apakah kamu hari ini tidak ingin keluar dengan seorang wanita?” ucap si istri. Mendengar ucapannya, sang suami kaget “Istri aku cuma kamu, kenapa kamu malah memerintah aku keluar dengan seorang wanita. Apa maksud kamu?” ucapnya terkejut. “Maksud aku, kamu enggak kepingin keluar bersama ibumu? Sudah berapa lama kamu tidak mengajak ibumu? Keluarlah sana bareng ibumu, kau ajak dia makan. Yang ada, kamu hanya mengajak diriku, diriku, dan diriku. Hanya istrimu satu-satunya wanita yang ingin kamu bahagiakan. Ibumu yang mati-matian melahirkan dan mengasuh dirimu tidak pernah engkau ajak keluar untuk makan”.
Mendengar nasihat sang istri yang jujur dan mendalam, ia menelan ludah penuh sesal. Melihat sang suami yang tampak sedih, si istri kemudian memegang tangannya. Ia berkata “Mas, keluarnya dirimu dengan ibumu itu membikin hati ibumu bahagia. Kalau ibumu bahagia maka pintu surga-Nya terbuka. Keridhaan Allah akan kamu dapatkan juga”. Maka sang suami kaget, “Ya Allah sudah 21 tahun semenjak aku menikah, aku tidak pernah lagi ingat kepada ibu di rumah.” Maka ia langsung menelepon ibunya “Buk siap-siap, besok malam, aku jemput ibu keluar makan malam”.
Saking bahagianya sang ibu, di perjalanan, sebelum sang anak sampai, dia sudah siap dengan pakaian yang paling bagus duduk di depan rumah. Sesampainya di rumah, sang anak berkata, “Hari ini aku tidak pernah melihat wanita yang lebih bahagia daripada ibuku.” Ketika mau diajak ke dalam mobil, sang ibu bilang, “Wahai anakku, tak satu orang pun di kampung ini melainkan mereka semua tahu kalau hari ini anakku mau mengajak ibu pergi makan malam”. Saking bahagianya, dalam hati sang ibu menjerit, “Anakku kembali setelah 21 tahun menghilang. Ibu tak pernah digubris, ibu tak pernah dijenguk, tetapi tiba-tiba diajak keluar makan malam”. Sampai di rumah makan, sang anak lupa ketika menjulurkan menu makan, penglihatan sang ibu sudah tidak sesempurna dahulu kala. Akhirnya sang anak membacakan menu makan satu persatu dengan sabar. Hingga tak terasa, sang ibu meneteskan air mata sebab teringat saat dia mengajak anaknya di waktu kecil belum bisa membaca, lalu dia membacakan menu makan satu persatu dengan penuh sabar pula.
Sehabis makan, sang anak merasa bahagia karena telah berhasil membuat ibunya bahagia. “Buk, kapan kita bisa makan malam lagi?” tanyanya. “Nanti, ibu yang bikin jadwal. Hari ini kamu traktir ibu. Nanti ibu traktir kamu dan anak-istrimu. Kamu ajak mereka keluar bersamamu, ya!” jawab sang ibu bahagia.
| BACA JUGA: LEBIH BAIK MANA: BERHIJAB HATI JAHAT ATAU TAK BERHIJAB HATI BAIK?
Selang beberapa malam, takdir berkata lain, sang ibu sakit, masuk rumah sakit, dan meninggal dunia. Selesai pemakaman, sang anak mendapat telepon dari suatu rumah makan mewah. Dia mendapat undangan jamuan makan malam. Maka pasangan suami-istri itu pun pergi ke rumah makan dan menyantap semua pesanan makan malam itu. Selesai makan, berniat untuk membayar, sang kasir berkata “Tidak perlu dibayar, Mas. Ini semua sudah dibayar oleh seorang nenek lanjut usia. Dia mengaku sabagai ibu Mas. Menu makan dan tempat duduk VIP ini sudah lama beliau booking khusus untuk anak dan keluarganya.”
Mendengar penjelasan sang kasir, dia menangis sejadi-jadinya. Ibunya yang sempat 21 tahun terlupakan tidak pernah lupa kepada dirinya. Bahkan sang ibu masih sempat menepati janjinya. Sampai datang jauh-jauh ke restoran mewah tersebut hanya untuk membooking tempat VIP beserta menu makannya yang mahal. Bahkan dia sudah lunas membayarnya. Sambil menjerit, dia berkata, “Maafkan aku, Wahai Ibu. Maafkan anakmu yang tak tahu berterima kasih ini kepada dirimu,” ucapnya menyesal.
Dari cerita ini, kita bisa memetik beragam pelajaran. Antara lain bahwa, kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang penting demi menjalin hubungan yang nyaman dan tentram, tetapi kebersamaan dengan orang tua pasca menikah adalah sesuatu yang jauh lebih penting, lebih-lebih kepada seorang ibu yang sudah lanjut usia sendirian di rumah sebagaimana kisah di atas.
Kisah di atas adalah renungan bagi kita semua betapa mahalnya sebenarnya kebersamaan kita dengan orang tua. Sampai kapan pun orang tua tidak akan pernah lupa kepada anaknya. Mereka tidak akan pernah lupa kepada kita. Ayah yang banting tulang mencari penghidupan demi anak makan dan sekolah nyaman, jerihnya tidak akan pernah terbalas meski segudang emas kita berikan kepadanya. Ibu yang nyaris meninggal karena kehabisan napas saat melahirkan, sakitnya tidak akan pernah terbayar meski segunung berlian kita berikan kepadanya. Maka mau dengan alasan apa lagi? Sibuk? Tidak punya waktu? Dan bal-bla-bla lainnya? Sampai tega melupakan orang tua yang amat berharap bisa bertemu dengan anaknya. Sungguh, yang mereka harap adalah jumpa dan duduk bersama, bukan harta dengan segala perangkatnya.
Terbukti, pada kisah di atas, kita mendapat tamparan keras betapa menyesalnya sang anak karena sangat lama mendiamkan sang ibu di rumah sendirian. 21 tahun menghilang tanpa kabar, padahal sang ibu sangat rindu berjumpa dengan anaknya. Maka teruntuk kita yang masih lengkap memiliki orang tua, tanamkan dalam jiwa, bahwa senyum yang mengembang di pipi mereka karena bisa bahagia menatap dan berjumpa dengan kita adalah anugerah luar biasa yang tidak akan pernah bisa kita tukar dengan harta apa saja. Sebab kita sadar, pada masanya kita akan menjadi orang tua. Jika kita peduli dengan orang tua kita, pada saatnya kita juga akan dipedulikan oleh anak-anak kita kelak di masa lanjut usia. Sebaliknya, jika kita sudah tidak peduli dengan orang tua kita, niscaya sikap anak-anak kita kelak akan sama atau bahkan lebih buruk kepada kita. Naudzubillah.
Habib Ahmad al-Habsyi berpesan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban sepanjang masa. Salah satunya adalah menanyakan kabar dan menemuinya. Maka ingat baik-baik dan jangan sampai lupa. Artinya, meskipun kita sudah menikah, kita tetap tidak boleh lupa kepada orang tua yang ada di rumah. Selalu menanyakan kabarnya, menemuinya, dan sesekali mengajaknya berjalan bersama anak dan istri kita.
Semoga kita selalu diberikan keteguhan jiwa, sehingga selalu bisa berbelas kasih kepada orang tua layaknya mereka yang berbelas kasih kepada kita di sepanjang masa.




