AREK LANCOR
Arek lancor adalah salah satu monumen perjuangan yang merupakan tugu peringatan kepahlawanan rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Bentuk monumen menggambarkan kobaran api nan tak kunjung padam yang terpancar dari perpaduan senjata tradisional rakyat Madura. Arek Lancor sebagai lambang dinamika yang menyala-nyala dari perjuangan rakyat Madura. Monumen Arek Lancor berdiri tegak di atas landasan yang kokoh melukiskan keteguhan dan kesiap-siagaan rakyat Madura dalam menghadapi setiap tantangan.
LETAK MONUMEN
Monumen Arek Lancor terdapat di salah satu kabupaten di Madura, tepatnya di Kota Pamekasan. Monumen tersebut berbentuk lima celurit (senjata khas Madura) yang berdiri tegak di jantung Kota Pamekasan dan diapit oleh pusat ibadah dua agama terbesar di dunia, yaitu Masjid Agung asy-Syuhada, yang merupakan tempat ibadah umat Islam di sana, dan juga Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul yang merupakan pusat ibadah umat Kristen terbesar di Pamekasan.
Di sekitar monumen, Anda akan menemukan taman kota yang biasanya didatangi oleh masyarakat sekitar atau bahkan yang berasal dari luar Pulau Madura. Karena letaknya yang berada di tengah kota, masyarakat dan wisatawan dengan mudahnya bisa berkunjung. Di taman ini, Anda bisa mengajak keluarga, sanak famili, ataupun teman Anda untuk sekadar bersantai di bangku-bangku yang telah disediakan sembari menikmati suasana tengah kota yang ramai terutama pada saat sore dan malam hari.
AREK LANCOR DAN KUBURAN SYUHADA
Dalam buku Pamekasan dalam Sejarah, ada sebuah kisah heroik sekaligus mengharukan yang pernah terjadi di Kota Pamekasan, lebih tepatnya di sekitar Alun-Alun Pamekasan (Arek Lancor saat ini). Dalam buku tersebut disebutkan bahwa pada tanggal 4 Agustus 1947 M, bertepatan dengan pertengahan bulan Ramadhan, tentara Belanda kala itu sudah menguasai penuh Kota Pamekasan. Akhirnya para pejuang yang tergabung dari beberapa kelompok seperti Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin Kiai Amin Jakfar, Pasukan Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO) yang dipimpin oleh R. Soedomo, Pasukan Ikatan Pemuda Indonesia yang dipimpin R.A. Latif, dan Pasukan Palang Merah Indonesia (PMI) pimpinan Aris Suhada berkumpul dan menyiapkan pasukan untuk menyerang tentara Belanda. Perkumpulan tersebut terjadi pada tanggal 16 Agustus 1947 M. Pada waktu itu juga disepakati untuk mengincar para Marinir Belanda yang sedang berkonsentrasi di sekitar alun alun. Mereka menyiapkan serangan dari segala penjuru mata angin, dari arah utara, selatan, barat, dan timur.
Serangan ini dimulai sebelum terbitnya fajar. Para pejuang berbaris sambil mengumandangkan tahlil. Tidak sedikit dari mereka yang melewati gorong-gorong bawah tanah. Ketika sudah berhadapan dengan tentara Belanda, mereka memekik suara takbir. Peperangan berkecamuk, pecah selama hampir dua jam lamanya. Dengan kesabaran dan kesemangatan para pejuang, akhirnya mereka dapat memukul mundur pasukan Belanda. Meski begitu, para pejuang harus menelan banyak korban. Tercatat ada 600 pejuang yang mati syahid. Pagi itu juga, para syuhada tersebut dikebumikan di area yang sekarang menjadi Monumen Arek Lancor.
| BACA JUGA: 23 JANUARI 1948 TERBENTUKNYA NEGARA MADURA
Atas peristiwa bersejarah tersebut, masyarakat Pamekasan kemudian membangun sebuah monumen yang sampai sekarang dikenal dengan Arek Lancor. Mudahnya, monumen ini menjadi simbol penghargaan masyarakat Pamekasan atas jasa para pahlawan yang telah mengorbankan dirinya melawan penjajah yang ada di Madura secara umum, ataupun Pamekasan secara khusus.
ARTI TUGU
Arek Lancor sendiri merupakan bentuk frase yang terdapat dua suku kata, yaitu arek dan lancor. Dalam KKBI, ‘arek’ berartikan celurit, sedangkan ‘lancor’ berarti arit.
Terdapat lima simbol yang bertengger tegap di puncak tugu monumen berwarna putih melengkung tajam menatap langit. Lima simbol tersebut berbentuk kobaran api yang saling berhadapan yang menambah kesan keras, tegas, dan berani masyarakat Pamekasan.
Sedangkan secara filosofi ketuhanan, simbol tugu Arek Lancor juga memiliki arti bahwa warga di Kabupaten Pamekasan sangat sungguh-sungguh dalam menjunjung nilai-nilai agama, khususnya agama Islam yang menjadi agama mayoritas di Kabupaten Pamekasan.
Pembangunan Arek Lancor juga dimaksudkan agar para generasi muda Pamekasan tidak akan pernah lupa bagaimana beratnya perjuangan para pahlawan di masa lampau. Bertempur dengan seluruh raga dan kemampuan demi masa depan yang cerah untuk generasi berikutnya.
KEUNIKAN MONUMEN
Salah satu keunikan dari monumen ini adalah jalan sekitar yang sekilas berbentuk lafaz Allah. Hal ini mengandung makna yang sangat mendalam, bahwa kemerdekaan yang telah diraih oleh Indonesia secara umum atau rakyat Madura secara khusus merupakan rahmat Allah, Yang Maha Kuasa. Betapapun para pejuang dengan bersenjatakan bambu runcing dan senjata tradisional lainnya dapat merebut dan mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
MASJID AGUNG ASY-SYUHADA
Ketika Anda mengunjungi Arek Lancor, kurang pas rasanya jika Anda tidak mengunjungi masjid yang satu ini, ya, Masjid Agung Asy-Syuhada. Masjid yang lebih akrab disebut dengan Masjid Jami ini merupakan salah satu wisata religi yang harus dikunjungi saat berwisata di Pamekasan. Masjid Agung Asy-Syuhada beralamatkan di Jalan Mesigit Nomor 23, Pamekasan, Madura. Tepat di depan monumen.
Masjid Agung Asy-Syuhada merupakan masjid terbesar dan termegah di Kabupaten Pamekasan. Dulunya, masjid ini disebut dengan sebutan Maseghit Rato pada abad ke- 16, namun pada tanggal 25 Agustus 1940 M, masjid ini diresmikan dengan nama ‘Masjid Agung Asy-Syuhada’.
Di masjid inilah semua kalangan masyarakat berbaur menjadi satu, tidak ada lagi yang namanya kesenjangan sosial, karena mereka saling menghormati. Masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran. Memiliki tiga lantai, dengan serambi yang sangat luas di setiap lantainya yang mampu menampung ribuan jamaah.




