Seorang lelaki pulang ke rumahnya dalam keadaan bahagia. Pasalnya dia mendapatkan bonus dari direktur di perusahaannya karena semua pekerjaannya sesuai dengan deadline yang telah ditetapkan oleh direkturnya. Bukan hanya itu, dia juga mendapatkan cuti beberapa hari agar bisa beristirahat sejenak setelah menyelesaikan pekerjaan berat dan penting
Dia telah membeli hadiah spesial untuk istrinya yang telah ikut serta membantu dalam menyelesaikan tugasnya. Sesampai di rumah, dia langsung memeluk istrinya dan memberi hadiah tersebut. Melihat hal itu, sang istri bahagia dan bertanya, “Ada apa tiba-tiba saja kamu memberi aku hadiah seindah ini?” spontan sang suami menjawab sambil tersenyum lebar, “Aku mendapat bonus dari perusahaan karena pekerjaanku selesai tepat waktu. Anggap saja ini adalah ucapan terima kasihku kepadamu yang telah membantu dan memberi semangat kepadaku.”
Sang istri pun ikut bahagia mendengar penuturan dari suaminya. Namun, sesaat setelah itu sang istri berkata, “Apakah kamu tidak mau memberi hadiah kepada ibumu. Pastinya ibumu selalu mendoakan kesuksesan untuk anaknya.” Sang suami terdiam. Wajahnya tertunduk. Tak terasa air matanya menetes. “Terima kasih lagi telah mengingatkan aku. Besok kita berkunjung ke ibu.” Sang istri mengangguk sambil tersenyum.
Sungguh, kisah di atas merupakan rumah tangga yang menjadi idaman setiap orang. Harmonis, kompak, dan saling memberi pengertian. Terlebih lagi sikap istri yang tidak hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri, menjadikan keadaan rumah semakin sejuk.
Seorang suami memiliki peran dan tanggung jawab besar, di antaranya adalah tanggung jawabnya kepada istrinya. Karena seorang istri sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab suami. Namun demikian, seorang suami tetap berkewajiban birrul-walidain, bahkan menafkahi orang tuanya ketika orang tua dalam kondisi tidak mampu, karena orang tua adalah tanggung jawab anak laki-laki, lebih-lebih sang ibu yang telah lanjut usia.
Suatu hari Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya.” Kemudian Aisyah bertanya lagi, “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya,” (HR. Muslim)
|BACA JUGA: DUA HAMBA PILIHAN
Mengenai sabda Rasulullah di atas, seorang istri tidak perlu khawatir bahwa suaminya akan menelantarkannya. Jika seorang suami bisa berbakti kepada ibunya dengan baik, pastinya dia akan memperlakukan istrinya dengan baik pula, karena dia telah memahami bagaimana menghargai seorang wanita dengan cara yang benar.
Keberadaan seorang istri adalah sebagai penyejuk bagi suaminya. Sudah sepantasnya sang istri mengingatkan terhadap kewajiban suami yang terlupakan. Salah satunya adalah berbakti kepada ibunya, karena surga sang suami berada di bawah telapak kaki ibunya.
Dari Abu Hurairah RA dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah sambil berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari-Muslim)
Terkadang, kesibukan suami yang begitu banyak, membuat dia lupa untuk berbakti kepada ibunya. Dan saat itulah, seharusnya seorang istri hadir sebagai pengingat suaminya untuk tidak melupakan haknya sebagai anak kepada ibunya, karena keberadaan istri bukan hanya sebagai pendamping hidup.
Kemudian, seorang istri tidak perlu cemburu terhadap bakti sang suami kepada ibunya, karena suatu saat nanti Allah akan membalas kebaikan sang istri dengan menjadikan sang buah hati berbakti kepadanya, meskipun dia sudah menikah. Baik dan buruknya buah hati secara garis besar mengikuti tingkah laku ibunya. Begitu juga berbakti kepada orang tua adalah kewajiban besar yang diperintahkan Allah.
Allah berfirman yang artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra : 23)
Ayat di atas menunjukkan sesuatu yang jelas bahwa Allah memerintahkan kepada anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Jadi, seorang istri seyogyanya menyadari kewajiban suaminya untuk berbuat baik kepada orang tuanya.
|BACA JUGA: AKU BUKAN SITI NUR BAYA
Sering kali terjadi sebuah polemik antara suami istri. Permasalahan ini terjadi karena sang istri terlalu cemburu terhadap perlakuan suami kepada ibunya. Mirisnya, ketika seorang istri memberi pilihan yang sama-sama sulit, “Pilih istrimu atau ibumu?” Keadaan semacam ini merupakan bencana rumah tangga. Bagaimana mungkin seorang istri cemburu terhadap perempuan yang telah melahirkan suaminya. Bagaimana mungkin seorang istri mempermasalahkan bakti seorang suami kepada ibunya sendiri.
Pada hakikatnya, seorang istri jangan cemburu ketika suami berbakti kepada ibunya, karena sebenarnya dia memberikan contoh kepada anak-anaknya agar kelak bisa berbakti kepada ibunya. Banyak anak yang durhaka kepada ibunya, sebab dulu ayahnya durhaka kepada ibunya.
Ketika istri menolong suami untuk melakukan ketaatan kepada Allah, maka Allah menolong seorang istri dengan cara menumbuhkan kasih sayang suami kepada sang istri. Saat itu pula suami akan bangga memiliki istri yang menolong dan mengingatkannya untuk berbuat kebaikan. Secara tidak langsung suami menyayangi istrinya.
Dongeng Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena durhaka kepada ibunya merupakan contoh kecil. Jika boleh menafsiri, bahwa terdapat beberapa alasan selain harga diri dan harta yang membuat dia tidak mau mengakui ibunya, yaitu istrinya. Jika pada saat wanita tua yang mengaku ibu dari Malin Kundang, sang istri menunjukkan sikap menerima bahwa dia memang benar-benar ibu Malin Kundang, tentu Malin Kundang tidak akan durhaka kepada ibunya. Namun kenyataannya istrinya mengancam bahwa jika wanita tua itu memang benar ibu dari Malin Kundang, maka istrinya akan mengusir Malin Kundang.
Dari sini, perlu berpikir secara rasional bahwa seorang ibu yang shalihah akan melahirkan anak yang saleh hingga tumbuh menjadi suami yang saleh pula. Sedangkan istri yang shalihah akan menjadikan rumah tangga suaminya penuh dengan cinta dan kasih sayang, membantu suami dalam menjalankan keataatan kepada Allah memenuhi kewajiban suaminya.




