MELIHAT peristiwa-peristiwa terkait dengan LGBT yang bergulir belakangan ini membuat kita semakin khawatir, karena bagaimanapun semua itu hanya menunjukkan bahwa tren yang terkutuk itu telah sekian langkah lebih dekat pada lingkungan kita. Pejabat negara yang menyatakan LGBT tidak melanggar hukum di Indonesia, artis senior yang memberikan panggung pada pasangan gay, hingga tokoh Ormas yang tidak peduli pada ancaman LGBT dan menyatakan itu bukan urusan kita, adalah sinyal-sinyal kuat yang semestinya membikin kita menjadi was-was sekaligus waspada dengan kian dekatnya LGBT pada kehidupan kita. Mari kita diskusikan problem ini lebih lanjut, dengan lebih serius.
LGBT MENANTANG KEWARASAN GLOBAL
Akhir-akhir ini hiruk pikuk seputar LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) terdengar semakin bising mengganggu telinga dan pikiran kita. Tentu saja kebisingan itu bukan fenomena yang terjadi secara kebetulan, melainkan suatu kegiatan yang dilaksanakan secara sadar dan sengaja; dirancang sedemikian rupa, dengan strategi yang matang, master plan yang jelas, perhitungan yang akurat, pendanaan yang kuat, dan bersifat global. Peristiwa terbaru yang digulirkan di Indonesia adalah tindakan kontroversial Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia yang mengibarkan bendera simbol LGBT di samping bendera negeri itu.
Tentu saja, tindakan Kedubes Inggris itu jauh dari etika berbangsa dan bernegara, dimana pengibaran bendera LGBT itu dapat dipahami bahwa Inggris telah menginjak-injak nilai-nilai luhur bangsa Indonesia secara umum dan umat Islam Indonesia secara khusus, sebab bagaimanapun, dalam pandangan bangsa Indonesia, LGBT adalah perilaku menyimpang dan tercela. Terlebih bagi umat Islam yang ajarannya secara tegas mengharamkan LGBT, melaknat, dan menetapkan untuk pelakunya hukuman yang berat, baik di dunia maupun dan terlebih lagi di akhirat.
Tapi apakah kita berpikir bahwa pengibaran bendera LGBT oleh Kedubes Inggris itu hanyalah kesalahan personal, perilaku oknum atau human error belaka? Tentu boleh-boleh saja sebagian orang berpraduga sedemikian. Namun kita harus ingat bahwa dalam level hubungan internasional, segala tindakan tidak diambil berdasarkan ide iseng personal, melainkan harus benar-benar sesuai dengan protokol yang telah ditetapkan. Terlebih, Inggris adalah salah satu negara Barat yang dianggap sangat maju dan bermartabat, dengan reputasi dan pengaruh yang cukup besar di tingkat global.
| BACA JUGA : MEMILIH IDOLA DALAM MEDIA
Karena itu, tentu tidak terlalu berlebihan jika kita membaca peristiwa tersebut, termasuk peristiwa-peristiwa serupa terkait LGBT yang terjadi sebelumnya, sebagai bagian dari grand design Barat dalam memasarkan (baca: memaksakan) salah satu pandangan hidup dan budaya mereka, dalam hal ini adalah LGBT. Sebab sebagaimana sudah maklum, LGBT merupakan trend Barat, dan sudah menjadi topik yang sangat sensitif, sehingga di Barat, siapapun yang menyinggung LGBT secara negatif, sudah pasti dinilai rasis bahkan melanggar HAM. Karena itu para politisi,pejabat, pengusaha, dan siapapun, selalu mengedepankan komitmen mereka untuk mendukung komunitas LGBT. Itulah sebabnya kenapa jika kita mengkritik LGBT di Facebook, misalnya, sudah pasti kita akan di-blacklist karena dianggap melanggar standar komunitas.
Jadi, di samping liberalisme (agama), feminisme, dan pluralisme (agama), LGBT adalah salah satu pandangan hidup dan gaya hidup Barat yang kini sedang gencargencarnya dikampanyekan ke berbagai belahan dunia, tak terkecuali dunia Islam. Sedangkan arena politik, mulai dari tingkat lokal hingga internasional, merupakan salah satu gelanggang yang paling strategis untuk memasarkan nilainilai itu. Jika kita telah melihat bagaimana kebijakan politik internasional ikut ambil bagian untuk memasarkan sejumlah pandangan Barat termasuk LGBT tadi, maka di level lokal pun sejumlah politisi kita ada yang tidak segan untuk membela orang-orang LGBT, dan memberi panggung kepada mereka, yang biasanya setelah kegaduhan meluas, mereka segera mengklarifikasi perbuatan dan pernyataan mereka
Tentu saja, jalur politik bukan satu-satunya corong Barat untuk mengkampanyekan LGBT, dengan menyuarakan penyimpangan itu sebagai perilaku alamiah dan wajar belaka, bahkan kenormalannya telah didukung oleh sejumlah penemuan sains mutakhir. Para public figure seperti pemimpin Ormas dan artis juga ikut ambil bagian di sini. Peristiwa terbaru di Indonesia, adalah bagaimana seorang artis dengan delapan belas juta subscribers mengundang pasangan gay ke studionya, yang dalam kesempatan berbeda seorang tokoh Ormas Islam di Indonesia membuat pernyataan konyol, bahwa LGBT bukan urusan kita!
| BACA JUGA : NAVIGATOR MUSLIM, PENEMU BENUA AMERIKA
Alhasil, dengan menilik sejumlah instrumen di atas, kita dapat melihat dengan jelas betapa LGBT dan nilai-nilai Barat yang lainnya memang memiliki potensi besar untuk tumbuh subur di Indonesia – wal-‘iyadzu billah. Alasannya jelas, karena nilai-nilai itu dikampanyekan dengan sistematis, strategis, dan besarbesaran, lalu disambut antusias oleh sebagian public figure yang pemahaman keislamannya dangkal atau menyimpang. Faktor ini tak ubahnya tumbu bertemu dengan tutupnya ketika kita melihat bahwa di sisi lain jumlah umat Islam yang skeptis terhadap agamanya dan begitu terpesona dengan fatamorgana keindahan panorama Barat tidaklah sedikit. Maka, bagaimana kita tidak mengatakan bahwa fenomena ini adalah bahaya besar dan nyata?
Namun terlepas dari semua itu, ke n d a t i s a m a – s a m a m e r u p a ka n komoditas Barat, penulis melihat LGBT ini adalah tantangan yang berbeda dengan pluralisme agama, feminisme, hermeneutika, dan yang lain. Jika pahampaham Barat lumrahnya menantang pemikiran kita untuk memahami kembali ajaran-ajaran Islam yang dalil-dalilnya dipelintir oleh orang-orang liberal, maka LGBT ini sebenarnya sebatas menantang kewarasan kita sebagai manusia. Artinya kita tidak perlu repot-repot menghadirkan ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Baginda Nabi untuk memahami LGBT sebagai penyimpangan dan tindakan merusak. Menjadi manusia normal saja sudah cukup untuk memahami semua itu. Karenanya tentu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa LGBT telah menantang kewarasan umat manusia secara global.




