لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
“Janganlah engkau berteman dengan orang yang tingkah lakunyanya tidak menstimulus jiwamu (untuk mendekat kepada Allah), serta perkataannya tidak memberimu petunjuk kepada-Nya.’’
Secercah hidayah sulit ditebak kapan datangnya, kepada siapa dia memancar, serta bagaimana proses seseorang mendapatkannya. Seseorang yang pagi hari masih berlumur dosa kemusyrikan, sangat mungkin sore harinya sudah berbahagia dengan anugerah keimanan. Sangat mudah bagi Allah untuk men-setting hati manusia.
Melangkah pada fase selanjutnya, banyak saudara kita para muallaf – termasuk Muslim yang berhijarah dari kemaksiatan menuju ketaatan– berkata, “Berada di dalam kebenaran adalah anugerah besar. Mendapatkannya perlu usaha besar. Namun mempertahankannya akan menjadi tanggung jawab yang jauh lebih besar.”
Adapula dari mereka yang berkata, “Allah telah memuliakanku dengan lentera hidayah di balik lembah kesesatan. Karenanya aku beritikad untuk selalu melaksanakan semua perintah-Nya. Aku berjanji untuk menjauhi semua larangannya. Tapi realitanya, aku hanyalah manusia lemah yang tak berdaya. Panas nafsu dan dinginnya tangan setan begitu kuat menggoncang komitmen baik ini. Lantas apa yang harus aku lakukan?”
Ya. Mempertahankan apa yang telah dicapai memang jauh lebih berat dari pada berproses mendapatkannya. Di sinilah kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari memberikan sebuah rambu petunjuk demi tercapainya tujuan mulai tersebut. “Janganlah engkau berteman dengan orang yang tingkah lakunyanya tidak menstimulus jiwamu (untuk mendekat kepada Allah), serta perkataannya tidak memberimu petunjuk kepada-Nya.” Dengan kata lain, faktor teman dan lingkungan sangat menentukan kekuatan kita menjaga stabilitas iman.
Seorang muallaf yang hidup di lingkungan masyarakat religius, sering berkumpul dengan orang-orang shalih dan istikamah, tidak pernah lepas dari sahabat yang hatinya selalu terhubung dengan Allah, maka niscaya cahaya hidayah akan semakin bertambah, serta jalan istikamah akan semakin terarah.
Begitu pula sebaliknya, muallaf yang hidup di lingkungan penuh maksiat, bersama masyarakat yang jauh dari nila-nilai agama, perbuatan dan keseharian mereka selalu dipenuhi dengan kemungkaran-kemungkaran, maka goncangan terhadap imannya akan sangat dahsyat. Lambat atapun cepat, dia akan terpengaruh dan kembali pada kesesatan-kesesatan sebagaimana sediakala. Imannya akan luntur. Bahkan tidak menutup kemungkinan hidayah di hatinya akan hancur bahkan lebur. Semoga kita dalam perlindungan Allah. Semoga kita dalam perlindungan Allah.
Maka demikian pentingnya teman yang baik di dalam kehidupan kita. Sebagaimana Rasulullah mengumpamakan, antara teman yang baik dengan teman yang buruk di dalam salah satu hadisnya,
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحاً طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحاً مُنْتِنَةً
‘’Perumpamaan teman yang baik dengan yang tidak baik, seperti penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Bila berteman dengan penjual minyak wangi, terkadang ia akan menawarkan minyaknya kepadamu, terkadang ia akan memberimu minyak wangi, dan terkadang juga kamu akan mendapatkan harum yang wangi darinya. Adapun berteman dengan teman yang tidak baik, maka seperti seorang pandai besi. Kalau dia tidak membakar pakaianmu, pasti kamu akan mencium bau yang tidak sedap darinya.”
Selanjutnya, bila kita perhatikan kalam hikmah dari Syekh Ibnu Athaillah ini, maka kita akan menemukan kriteria memilih teman yang baik. Setidaknya teman yang baik untuk memiliki dua kriteria. Pertama, tingkah lakunya mendekatkan diri kita kepada Allah. Kedua, perkatannya menunjukkan kita kepada Allah. Keduanya harus ada di dalam diri teman yang akan bersama kita.
Mengapa harus tingkah laku dan perkataan? Di sinilah Syekh Ramdhan alButhi menjabarkan kelebihan dua hal ini dari pada yang lain. Pertama, perilaku. Perilaku seseorang akan memberi informasi sejernih apa jiwanya, sebersih apa hatinya. Dengan perilaku yang dapat mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah, maka di dalamnya bisa dipastikan adanya ketakwaan, cinta, rindu, tawakal, khauf, dan rajak yang berimbang.
Berteman dengannya akan menjadi anugerah besar dalam proses taqarrub kepada Allah. Setiap kali ada dorongan nafsu dan godaan setan untuk seleweng, maka teman dengan prilaku baik akan menjadi penguat untuk menjauhinya. Begitulah setidaknya manfaat teman yang baik ini.
Kedua, ucapan. Bila yang pertama cukup dengan ahwal, maka yang kedua ini adalah ucapan verbal. Secara mendasar, perilaku sangat kuat di dalam memberikan petunjuk kebaikan. Tanpa perlu menyuruh anaknya untuk shalat, keistikamahan orang tua mendirikan shalat sudah cukup menjadi pendorong sang anak untuk rajin shalat. Itulah mengapa ulama banyak mengatakan, “Lisanul-hal afshahu min lisanil-maqal (tindakan lebih bisa dimengerti dari pada ucapan).”
Akan tetapi, interaksi pertemanan ternyata tidak sebatas tindakan, melainkan juga dengan ucapan. Sangat disadari bahwa banyak teman yang terpengaruh dari ucapannya. Bahkan bagi sebagian orang, bahasa perilaku seseorang teman belum bisa dipahami seutuhnya, maka bahasa verbal sangat penting untuk didengarkan.
Begitulah jalan tasawuf dalam proses mendekatkan diri kepada Allah. Kedudukan seorang teman (guru atau mursyid) sangat penting diperhatikan. Karena di sinilah kunci keberhasilan seseorang di dalam suluk untuk mengenal tuhannya. Wallahu a’lam.




