Di antara kaitan pembahasan ayat mutasyâbihat adalah kelompok-kelompok yang terjangkit paham tajsîm dan tasybîh. Tajsîm adalah menganggap bahwa Allah berupa jisim atau benda, sedangkan tasybîh adalah menyerupakan Allah dengan yang lain. Kelompok yang terjangkit paham tajsîm disebut dengan Mujassimah, sedangkan kelompok yang terjangkit paham tasybîh disebut Musyabbihah. Di antara penyebab suatu kelompok terjangkit paham tajsîm atau tasybîh adalah karena gagal paham terhadap ayat-ayat mutasyâbihât. Ketika menemukan ayat-yat mutasyâbihât, seperti ayat yang mengandung lafal “wajhu, istiwâ’, yad,” ataupun yang lain, kelompok Mujassimah cenderung menetapkan makna lafal-lafal tersebut sesuai dengan makna zahir dan makna hakikat dalam bahasa Arabnya. Akibatnya mereka menganggap bahwa Allah itu berupa jisim, memiliki anggota badan, bertempat, bergerak, dll.
Mirip dengan kelompok Mujassimah, kelompok Musyabbihah adalah kelompok yang menyerupakan Allah dengan yang lain. Imam Abdul Qahir al-Baghdadi dalam al-Farqu bainal-Firaq membagi kelompok Musyabbihah menjadi dua: yakni kelompok yang menyerupakan dzat Allah dengan dzat lain dan kelompok yang menyerupakan sifat Allah dengan sifatnya dzat lain. Kelompok Musyabbihah ini awal mulanya muncul dari kalangan Syiah yang ekstrem, seperti Saba’iyah, Bayaniyah, Mughiriyah, dll.
Perbedaan kelompok Mujassimah dan Musyabbihah adalah kelompok Mujassimah ketika menganggap bahwa Allah berupa jisim, mereka meyakini bahwa jisim Allah berbeda dengan jisim yang lain, baik secara dzatiah maupun secara hakikatnya. Beda halnya dengan kelompok Musyabbihah, ketika mereka menganggap bahwa Allah memiliki jisim, mereka langsung memvonis bahwa jisimnya Allah menyerupai jisimnya makhluk.
KARRAMIYAH
Salah satu kelompok yang terjangkit paham tajsîm adalah Karramiyah. Karramiyah merupakan sebutan bagi pengikut Muhammad bin Karram, seseorang kelahiran Sijistan dan meninggal di al-Quds pada tahun 255 H. Muhammad bin Karram dalam salah satu kitabnya berpendapat bahwa Allah bertempat di arsy. Dalil yang dijadikan pegangan adalah ayat-ayat yang terdapat lafal istiwâ’ ‘alal-arsy, di antaranya adalah yang terdapat dalam surah Thaha ayat 5:
اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى ٥
Selain itu, di antara pendapatnya yang nyleneh dan sesat adalah menyifati Allah dengan sifat berat. Pendapat ini muncul ketika Muhammad bin Karram menafsiri ayat:
اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ ١
“Apabila langit terbelah” (QS. Al- Infithar: 1)
Dalam al-Farqu bainal-Firaq, ketika menjelaskan kesesatan kelompok Karramiyah ini Imam Abdul Qahir al-Baghdadi mencantumkan penafsiran Muhammad bin Karram yang mengatakan bahwa langit terbelah karena beratnya ar-Rahmân (Allah) di atasnya.
Pendapat yang mengatakan bahwa Allah bertempat di arsy ini jelas salah, sebab ayat setelahnya, yakni surah Thaha ayat 6 menjelaskan:
لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى ٦
“Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.”
Seperti yang telah diketahui, bahwa yang dimaksud dengan as-samâ’ adalah segala sesuatu yang memiliki sifat tinggi. Dengan demikian, berarti segala sesuatu yang berada di atas disebut dengan s-samâ’. Sedangkan ayat “lahû mâ fis–samâwât” menunjukkan bahwa segala sesuatu yang berada di atas adalah milik Allah. Seandainya Allah berada di atas, justru Allah akan tercakup ke dalam sesuatu yang dimiliki oleh Dzat-Nya sendiri, dan ini jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, ayat kelima surah Thaha tidak bisa diartikan bahwa Allah bertempat di arsy, melainkan maksudnya adalah Allah menguasai arsy.
| BACA JUGA : MENGI’LÂL POLITIK SANTRI
BAYANIYAH
edangkan kelompok yang terjangkit paham tasybîh adalah Bayaniyah. Bayaniyah merupakan sebutan bagi pengikut Bayan bin Sam’an at-Tamimi. Bayaniyah termasuk golongan Syiah yang ekstrem, sehingga Imam al-Baghdadi dalam al-Farqu bainal-Firaq menganggapnya sudah keluar dari Islam. Sebagai bagian dari sekte Syiah, Bayaniyah memiliki keyakinan imamah, dan yang menjadi imam seteleah Muhammad bin al-Hanafiyah adalah Abi Hasyim Abdullah bin Muhammad, putra Muhammad bin al-Hanafiyah. Setelah itu, jabatan imamah diteruskan oleh Bayan bin Sam’an.
Kesesatan fatal Bayaniyah adalah menganggap Bayan bin Sam’an sebagai nabi, bahkan ada yang sampai mengaggapnya sebagai Tuhan. Selain itu, terkait sifat-sifat Tuhan, kelompok Bayaniyah menganggap bahwa Tuhan berwujud sosok laki-laki dari cahaya. Kelak semuanya akan sirna kecuali wajahnya. Pendapat ini muncul karena mereka memahami zahirnya surah al- Qashash ayat 88:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَࣖ ٨٨
dan surah ar-Rahman ayat 26-27:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ ٢٦ وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ ٢٧
Mereka menganggap bahwa lafal wajhu” di atas bermakna wajah (anggota badan). Pendapat ini tentu tidak bisa di benarkan sama sekali. Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Ta’sîsut-Taqdîs menyatakan bahwa lafal “wajhu” pada ayat tersebut harus dijadikan kinayah dari dzat, sebab wajah adalah anggota badan yang hampir selalu dilihat dan menjadi pembeda antara satu orang dengan yang lain. Wajah merupakan anggota badan yang menyatakan keberadaan seseorang. Melalui wajahlah seseorang itu dianggap ada. Dengan demikian, tentu sangat pas jika wajah menjadi sebutan bagi sebuah dzat secara keseluruhan. Selain itu, dalam sebuah komunitas, jika ada seseorang yang menjadi ikon yang mewakili komunitas tersebut, maka orang tadi disebut sebagai “wajahnya komunitas”.
Akhiran, melakukan takwil dalam memahami ayat atau hadis yang mutasyâbihât merupakan suatu keharusan. Artinya, teks mutasyâbihât tersebut tidak boleh dipahami mentah-mentah dan langsung diambil zahirnya. Oleh karena itu, ulama mutakallimîn mengatakan bahwa ketika ada dalil yang menyatakan bahwa Allah bukan berupa benda dan tidak berada di suatu arah, kita wajib mengarahkan teks mutasyâbihât pada makna yang sesuai.




