Nama Pesantren: Pondok Pesantren Al Hijrah An-Nabawiyyah
Alamat: Jl. Dr. Sutomo Simping, Turi, Turirejo, Kec. Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur
Tahun Berdiri: 2013 M
Pendiri: Habib Muhammad bin Anies Shahab
Jumlah Santri: 109
Pendidikan: I’dadiyah dan Takhossus
Pada edisi kali ini, kami berkesempatan untuk meliput Pondok Pesantren Al-Hijrah An-Nabawiyyah yang berada di Desa Turirejo, Lawang, Malang. Pesantren yang diasuh sekaligus didirikan oleh Habib Muhammad bin Anies Shahab ini memiliki kisah yang menarik terkait sejarah berdiri, kurikulum, serta aktivitas para santrinya. Berikut liputannya.
Sejarah Singkat
Secara kesejarahan, pesantren ini memilki tiga fase. Fase pertama peletakkan batu pertama yang dilakukan pada tahun 2013 M. Pada fase ini pesantren masih belum menampung para santri. Santri yang ingin belajar kepada Habib Muhammad dimukimkan di kediaman beliau dengan beberapa kamar dan dengan fasilitas seadanya. Fase kedua adalah masa pembangunan pesantren. Dilakukan selama 5 tahun sampai tahun 2017 M. Pada tahun 2017 M, lebih tepatnya pada 27 Rajab 1434 H atau 26 April 2017 M barulah pesantren menampung para santri. Santri yang bermukim banyak didominasi oleh santri asal Malang, Pasuruan, dan Jakarta.Sampai saat ini jumlah santri di pesantren ini berjumlah 109.
Pertemuan dengan Habib Taufiq Assegaf
Habib Muhammad sedari awal tidak ada niatan untuk mendirikan sebuah pesantren. Jangankan untuk mendirikan sebuah pesantren, untuk mengajar saja tidak terlintas dalam benak beliau. Namun, pada tahun 2007 M, Habib Anies (ayah Habib Muhammad) pernah menanyakan perihal prinsip putranya tersebut. Kata Habib Anies, “Keluarga Shahab semuanya ngajar, jangan sampai putus di kamu”. Semenjak saat itulah Habib Muhammad mau untuk mengajar dengan catatan hanya mengajari taklim al-Quran anak usia dini.
Suatu hari, Habib Taufiq (Pasuruan) pernah menghubungi dan meminta izin kepada Habib Muhammad untuk datang ke kediaman beliau. Ketika hampir pulang, Habib Taufiq kemudian memanggil Habib Muhammad, “Bib, saya punya tanah di Medali, kamu buat pondok di situ,” kata Habib Taufiq. Permintaan tersebut ditolak berkalikali oleh Habib Muhammad dengan alasan beliau masih belum pantas untuk mendirikan sebuah pesantren. Akhirnya, untuk meyakinkan hal tersebut, Habib Taufiq memberikan penawaran kepada Habib Muhamnmad, “Ya sudah, antum tinggal buat pesantrennya. Antum tinggal nampung santri. Adapun kurikulum sama staf pengajarnya dari Sunniyah Salafiyah”. Akhirnya Habib Muhammad mengiyakan tawaran tersebut.
Namun, setelah berembuk dengan keluarga, Habib Muhammad diperintah mertua beliau untuk mendirikan pesantren di daerah Turirejo (pesantren yang sekarang). Kawasan pesantren saat ini sebelumnya pernah dibangun pesantren yang diasuh oleh Habib Muhammad Baabud. Hanya saja, ketika ada kabar bahwa pesantren akan di bom oleh penjajah Belanda, akhirnya Habib Muhammad Baabud dengan para santrinya pindah ke Tulungagung. Bangunan pesantren kemudian dibiarkan terbengkalai. Sampai akhirnya Habib Muhammad bin Anies mendirikan pesantren kembali di kawasan tersebut.
| BACA JUGA: AGAR WAKTU TIDAK DICURI
Al-Hijrah An-Nabawiyyah
Setelah berdiri dan santri mulai berdatangan, pesantren yang diasuh Habib Muhammad ini belum memiliki nama secara resmi. Sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu pengurus pesantren, Ust. Muhyiddin, bahwa di awalberdirinya pesantren, Habib Muhammad merasa kebingungan untuk menentukan nama pesantrennya tersebut. Hingga pada akhirnya, ketika ada kunjungan Habib Umar bin Hafidz (guru Habib Muhammad) ke Indonesia, beliau bersilaturahmi kepada gurunya tersebut dengan membawa batu kecil sembari menyampaikan tujuan kedatangannya. Habib Umar lalu mengambil dan memandang batu tersebut dengan waktu yang cukup lama. “Al-Hijrah An- Nabawiyyah,” kata Habib Umar. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi cikal bakal penamaan pesantren.
Aktivitas Para Santri
Kegiatan santri Al-Hijrah An-Nabawiyyah dimulai dengan shalat Tahajud pada pukul 03.00 WIB. Disusul dengan kegiatan shalat Subuh berjamaah sampai pukul 04.00 WIB. Setelah itu, para santri membaca Wirdul-Lathif dan Hizb Sakran. Pukul 04.30-06.30 WIB, semua santri wajib mengikuti pengajian al-Quran. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok: mengaji kepada muallim (bagi santri yang belum bisa mengaji), dan murajaah hafalan al-Quran kepada pembina (bagi santri yang sudah bisa mengaji).
Kegiatan berikutnya adalah shalat Dhuha berjamaah yang dilanjutkan dengan sarapan pagi. Setelah itu, para santri mengikuti kegiatan Taklim Diniyyah pagi. Kegiatan ini dilaksanakan pada pukul 07.30-09.00 WIB. Setelah taklim, pengurus merperkenankan para santri untuk istirahat sebelum pelaksanaankegiatan shalat Zuhur berjamaah. Pukul 11.30-12.00 WIB kegiatan shalat Zuhur berjamaah yang dilanjutkan dengan pembacaan Wirid Hizib Nashr. Setelah itu, Taklim Diniyah siang, dari pukul 12.00- 13.30 WIB.
Pukul 15.00-15.30 WIB shalat Ashar berjamaah yang diikuti dengan pembacaan Wirid Hizib Bahr. Setelah shalat, para santri biasanya mengisi waktu dengan membaca dan mengulanghafalan al-Quran. Pukul 17.30-17.45 WIB pembacaan Ratibul Athas yang dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah. Sesuai shalat, pengajian al-Quran hingga menjelang Isya. Pukul 19.00-19.30 WIB, shalat Isya berjamaah dan pembacaan Ratibul Haddad. Dilanjut dengan Taklim Diniyah malam dari pukul 20.00-21.30 WIB. Setelah itu, para santri diwajibkan mengikuti jam belajar hingga pukul 22.30 WIB. Barulah kemudian jam wajib tidur malam sampai menjelang kegiatan berikutnya.
Perpaduan Tarim dan Sidogiri
Jika diperhatikan, sekilas bangunan pesantren Habib Muhammad ini mirip dengan bangunan pesantren yang ada di Tarim. Namun siapa sangka, bahwa kurikulum yang dipakai pesantren hampir semuanya dari Sidogiri. Misal seperti jenjang pendidikannya. Jenjang pendidikan di pesantren ini ada dua; I’dadiyah dan Takhossus. Materinya pun sama, metode Al-Miftah lil Ulum dan pendalaman kitab Fathul-Qarib. Materi pengajian al-Quran pun demikian, pesantren ini meggunakan MQS (Metode Qurani Sidogiri). Sebagaimana yang disampaikan oleh Ust. Muhyiddin, “Beliau (Habib Muhammad) memang menginginkan pesantren hanya fokus untuk para peserta didik pemula. Dan beliau melihat metode yang bagus untuk itu ada di Sidogiri. Setelah itu, beliau akan pasrah kepada para santri untuk mencari jenjang pendidikan berikutnya”.





