Kami sampaikan kepada kaum pria, laki-laki hebat itu tidak akan memukul istrinya, biar pun layak dipukul. Jangan sedikit-sedikit main pukul dan sebagainya. Ini yang pertama. Yang kedua, jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga, termasuk sang istri dipukul oleh suami, atau mungkin sang suami mendapatkan perlakuan yang tidak wajar dari istri, caci maki, dan seterusnya, seandainya ada wanita yang mencaci maki suaminya, atau seorang istri dipukul oleh suaminya, bagaimana kita seorang wanita yang mendapatkan perlakuan kasar, kekerasan dalam rumah tangga, apa yang hendaknya dilakukan? Apakah tidak boleh cerita kepada ibundanya, ayahandanya? Ntar dulu. Ini permasalahan yang menyelesaikan masalah. Rumah tangga Anda yang sudah Anda bangun karena Allah. Kalau ada masalah, memang rumah tangga kita rumah tangga manusia yang punya hawa nafsu, sesaat istri marah, suami marah, sesaat marah dan tidak terkontrol, ada yang terkontrol. Maka kita harus berusaha mencari solusi.
Adapun kepada siapa kita mengadu, ini yang perlu kita pertimbangkan. Apakah tidak boleh cerita kepada ibunda? Bisa jadi jawabannya tidak boleh. Karena apa? Mungkin ayahanda, ibunda Anda, bukan orang bijak. Dan kami sampaikan kepada siapa pun, yang punya masalah dalam rumah tangga, jangan mudah menceritakan kepada orang tua. Artinya harus kita timbang-timbang dulu. Karena apa? Belum tentu orang tuanya bijak. Karena bisa jadi, kalau orang tua tidak bijak, malah menyikapi dengan sesuatu yang tidak nyaman, sehingga mungkin melabrak suaminya, sehingga yang semula rumah tangga itu mudah untuk diakurkan kembali, dipertemukan kembali, tetapi suami yang sudah punya masalah tadi dengan sifat yang tidak baik, akan dihantam lagi, akan menjadi keras. Bahkan, mungkin akan menjadi kikuk untuk damai, karena ini mertuanya. Karena ada yang mudah curhat ke mana-mana, sehingga curhatnya hanya sekadar pelampiasan, bukan mencari solusi.
Kalau ingin bercerita kepada orang tua, juga sah kalau memang orang tuanya bijak. Mungkin dia seseorang yang bijak, alim, bisa menyelesaikan masalah, dia (suami atau istri tersebut) bisa mengadu. Mengadunya pun harus sesuai, tidak melebih-lebihkan. Jadi, artinya bukan harga mati, tidak boleh. Bisa saja boleh. Maksudnya, dilihat dulu.
Jika ada seorang wanita yang dizalimi oleh suaminya, tolong jangan serta merta Anda bercerita kepada ayahanda dan ibunda Anda, kecuali sudah Anda pikir bahwa ayahanda dan ibunda akan memberikan solusi. Kalau ternyata ibunda Anda dan ayahanda Anda tidak akan bisa memberikan solusi, jangan diberi tahu dulu. Anda cari solusi yang lainnya. Kenapa? Anda jangan meninggalkan kegelisahan di hati ibunda dan ayahanda Anda. Pun beliau tidak bisa menyelesaikan masalah. Bisa jadi yang ada adalah amarahnya kepada menantunya, sehingga sikap marahnya menjadikan menantu semakin jauh. Anda jangan mudah cerita kepada ibunda Anda. Sama, Anda seorang laki-laki pun juga demikian. Kalau mendapat perlakuan yang tidak baik dari istri, jangan serta merta mudah cerita kepada orang tua Anda. Yang dikhawatirkan, Anda itu anak tercinta bagi ibunda Anda, ayahanda Anda, kalau Anda mengadu kepada ayahanda Anda dan ibunda Anda, maka terasa sakit ibunda Anda, sehingga yang ada adalah marah kepada menantunya. Reaksi negatif. Menjadikan menantu canggung di rumah itu, menjadi tidak enak semuanya. Maka ada waktunya bagaimana kita menyampaikannya. Kalau ternyata orang tua tidak bijak, maka kita bisa mendatangi seorang ulama, tanya kepada orang yang mengerti, bagaimana solusinya. Bermacam-macam cara. Ini yang harus kita sampaikan.
Kalau di rumah terjadi kekerasan, segera cari solusi, tapi tidak serta merta orang tua kita. Maka jika ada seseorang menyembunyikan permasalahannya kepada orang tuanya, ini bukan berarti dia ingin terus dalam ketersiksaan, tidak. Mungkin dia sedang cari waktu.
| BACA JUGA: KETIKA BOSAN MENJANGKITI PERASAAN
Dan mohon maaf, suatu saat kami menyampaikan, tolonglah jadi orang yang tabah, sabar, mudah memaafkan, sering kami menyampaikan. Kalau ada orang berbuat zalim kepadamu, menyakitimu,memfitnahmu, bahkan saya hadirkan dalam panjatan doa. Mintalah kepada Allah agar Allah memberikan segala kebaikan, dan sebagainya. Itu bukan berarti kita membiarkan kezaliman ada pada saya, tidak. Saya ingin menghilangkan dengki, dendam pada diri saya. Adapun masalah nanti proses penyeleasian, ini babnya beda.
Ketika ada musibah menimpa kita, ayo kita tingkatkan kesabaran. Di saat kita harus melakukan satu reaksi, tentunya dengan cara yang manis, tujuannya itu ada. Bukan hanya sekadar ramai saja. Kita tidak ingin menjadikan ibunda kita berperang dengan istri kita. Kita tidak akan menjadikan ayahanda marah dengan istri saya. Kalau saya mengadu kepada ayah saya, dalam irama mencari solusi. Kalau semua mudah dicertakan, kan, marah. Maka bisa jadi seorang suami di saat baru dicakar oleh istrinya, lalu tiba-tiba ibunya datang ke rumah, dia bisa berbohong yang baik. Istri bisa tersentuh. Itu bukan juga berarti bahwasanya dia ada istri mencakar tidak diceritakan ke ibunya.
Semua, wahai yang berumah tangga, tidak semua permasalahan dalam rumah tangga itu boleh Anda ceritakan kepada orang lain. Di saat Anda harus menceritakan, Anda pilih orang yang bakal memberikan solusi kepada Anda, bukan asal-asalan. Ada orang datang kepada kami, terus saya bilang, “Tolong, ya, jangan ceritakan ke siapa pun.” “Enggak, Buya, saya nggak cerita kalau ada masalah dengan istri saya.” Tau taunya, security di depan cerita, “Waduh, Buya, ada orang datang ke sini, begini, begini.” Tau-taunya dia nunggu kami di security sudah cerita. Jadi, bukan urusan perempuan yang gampang cerita, laki-laki juga ada. Jadi, kalau ingin cerita kepada orang itu yang sekiranya bisa memberikan solusi.
Anggap saja, seorang laki-laki yang mempunyai istri zalim di rumahnya, bukan langsung kita koar-koarkan bahwa saya punya istri zalim. Enggak. Atau sebaliknya, ada seorang istri yang punya suami jahat, tidak harus kita obral di masyarakat sampai mereka tahu tentang suaminya. Tidak. Tujuannya adalah solusi. Cari, siapa yang bisa menyelesaikan permasalahan ini.
Para suami, Anda punya masalah dengan istri, jangan serta merta Anda ceritakan kepada ibunda Anda, karena ibunda Anda sangat mencintai Anda. Jangan bikin sedih. Anda anak kesayangannya. Kecuali ibunda Anda memang orang bijak yang pandai menyelesaikan masalah. Kalau ibunda Anda orang awam, lebih baik Anda tahan. Anda ceritakan kepada guru Anda, ustaz Anda, dan sebagainya. Atau sebaliknya, seorang istri.
Itu bukan berarti kejahatan dalam rumah tangga dibiarkan. Tidak boleh. Jelas suaminya nggak bener, iya, tetapi itu bab lain nantinya. Saya tidak membela perempuan, tidak membela laki-laki,tetapi membela umat. Jadi, kalau ada kejahatan atau kezaliman dalam rumah tangga, pertama, tingkatkan kesabaran kita. Kemudian, dari sabar ini agar bisa mencerdaskan pikiran kita untuk mencari solusi. Kemudian juga, istri itu punya perasaan, kalaungerti kesalahannya disebar ke sana ke mari, bukan tersentuh hatinya, yang ada dendam dan amarah. Begitu juga suami. Kalau Anda cerdas, yang cantik dalam menyelesaikan masalah.
*Ditranskip dari ceramah Buya Yahya




