Sebagaimana maklum, Kakbah adalah bangunan yang pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim dengan bebatuan. Bangunan itu dibiarkan seperti itu hingga ada kiswah yang menyelimutinya. Kiswah itu terus menerus diperbarui hingga sekarang, demi menjaga bangunan Kakbah serta bentuk penghormatan pada kiblat umat Islam tersebut.
Ada banyak pendapat mengenai siapa yang pertama kali menutup Kakbah dengan kiswah, mulai dari Nabi Ismail, hingga Adnan bin Udd—buyut Nabi Muhammad. Kendati demikian, catatan sejarah yang paling kuat menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menyelimuti Kakbah dengan kain adalah Raja Dinasti Himyariyah Yaman, Abu Karb As’ad.
Mengutip Ali Husni al-Kharbutli dalam Sejarah Kakbah (2013), suatu ketika As’ad bermimpi bahwa dirinya menutupi Kakbah dengan kain. Lalu, dia kemudian menunaikan mimpinya itu ketika melintasi Makkah sepulangnya dari sebuah peperangan di Yatsrib pada 220 sebelum Hijriyah.
Pada awalnya, As’ad menutup Kakbah dengan kulit dan kain kasar (khasf). Riwayat lain mengatakan bahwa saat itu As’ad menutupi Kakbah dengan daun kurma dan melapisinya dengan bunga Ma’afir yang begitu wangi. Namun karena khawatir kiswah tersebut akan membebani bangunan Kakbah, maka dia menggantinya dengan kain yang dijahit dari Yaman (al-mala wal washa’il).
Kiswah yang menyelimuti Kakbah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Perubahan itu tidak hanya dari segi jenis kain dan warna kiswah saja, tetapi juga dari segi siapa yang bertanggung jawab menyediakannya, ornamen-ornamen yang menghiasinya, dan waktu pergantiannya.
Pada tahun-tahun berikutnya, orang-orang berbondong-bondong menghadiahi Kakbah dengan kain. Dari kain itu kiswah Kakbah diambil. Jika satu kain rusak, maka diganti dengan yang lainnya. Mereka menganggap, memasang kiswah sebagai tugas agama dan kehormatan besar. Kebijakan terkait kiswah Kakbah berubah ketika Qushay bin Kilab, buyut Nabi Muhammad, memimpin. Qushay meminta setiap suku sejumlah uang untuk membeli kiswah Kakbah setiap tahunnya. Kebijakan ini kemudian dilanjutkan oleh anak-cucunya.
| BACA JUGA: QARAMITHAH DAN KEINGINAN KONYOL MEMINDAH HAJI
Adapun orang yang pertama kali menutup Kakbah dengan kain berbahan sutra adalah Khalid bin Jakfar bin Kilab. Sementara Natilah binti Janab, ibunda Abbas bin Abdul Muthalib, mengutip Muhammad Abdul Hamid al-Syarqawi dan Muhammad Raja’i ath-Thahlawi dalam Kakbah: Rahasia Kiblat Dunia (2009), adalah perempuan pertama yang membuat dan menyelimuti Kakbah dengan sutra. Ketika itu, Abbas tersesat dan Natilah bernazar jika anaknya diketemukan maka dia akan menutup Kakbah dengan sutra.
Nabi Muhammad adalah orang pertama yang menutupi Kakbah dengan qabbathi (kain putih yang dibuat di Mesir). Saat Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah), Nabi Muhammad tetap mempertahankan kiswah lama yang digunakan pada zaman Jahiliyah. Hingga seorang wanita membakarnya ketika mencoba mengharuminya dengan dupa. Maka setelah itu Kakbah ditutup dengan kain dari Yaman bergaris putih dan merah (burud).
Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Ustaman bin Affan menyelimuti Kakbah dengan kain putih, dan Abdullah bin Zubair menutupnya dengan brokat merah. Pada era Dinasti Umayyah, kain kiswah yang baru diletakkan di atas kain yang lama sehingga menumpuk. Praktik semacam ini terus berlangsung hingga periode Khalifah al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah. Karena khawatir kain-kain tersebut akan membebani bangunan Kakbah, al-Mahdi kemudian memerintahkan untuk melepaskan kain-kain kiswah yang lama dan menggantikannya dengan yang baru setiap tahunnya.
Kebijakan perihal kiswah Kakbah berubah lagi ketika al-Makmun dari Dinasti Abbasiyah memimpin. Berbeda dengaan sebelum-sebelumnya, dia mengganti kiswah Kakbah tiga kali selama satu tahun dengan jenis kain dan warna yang berbeda; sutra merah pada hari tarwiyah, kain qabathi pada awal Rajab, dan sutra putih pada hari ke-27 Ramadhan. Khalifah al-Nassir dari Dinasti Abbasiyah pernah mengubah warna kain kiswah menjadi hijau. Namun pada masa-masa akhir, khalifah Dinasti Abbasiyah memilih sutra berwarna hitam sebagai kiswah karena itu awet dan tahan lama.




