Pasti kita semua pernah mendengar hadis Rasulullah
المرءُ معَ مَنْ أَحَبَّ
”Seseorangakan dikumpulkan bersama yang dicintainya.”
Hadis ini mengungkap begitu dahsyatnya kekuatan cinta, sampai-sampai cinta saja mampu mengumpulkan seseorang bersama yang dicintainya, meski dari segi amal keduanya berbanding jauh. Hal inilah yang dipahami oleh para shahabat, hingga ketika mendengar hadis ini mereka bahagia bukan mainseperti yang disaksikan oleh Sayidina Anas.
Namun sebetulnya sehebat apa sih cinta itu? Apa benar cinta saja bisa membawa seseorang masuk ke dalam Surga? Dari kalam para ulama kita bisa memahami bahwa cinta sudah seperti satu paket dengan aksi cinta yang jadi buktinya. Tanpa bukti, cinta hanyalah omong kosong. Seperti yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam Nurul–Mubin bahwa cinta memiliki tanda-tanda. Bila ada orang yang mengaku cinta tapi tak memiliki tanda-tanda itu, maka berarti cintanya palsu. Bahkan Imam Hasan al-Bashri menegur keras orang yang hanya mengandalkan cintanya tanpa mau beramal. Beliau berkata,
“Wahai anak Adam, jangan sampai engkau tertipu dengab ucapan, ‘Setiap orang akan berkumpul dengan kekasihnya.’, karena engkau tidak akan bisa bergabung dengan al-Abrar kecuali dengan amal mereka. Sungguh Yahudi dan Nasrani mencintai nabi nabi mereka tapi bukan termasuk golongan mereka.”
Jika kita mengkaji hadis tadi, kita mendapati bahwa sababul-wurud hadis ini adalah seorang a’rabi yang menyatakan bahwa dirinya tidak berbekal dengan amal yang banyak. Di riwayat lain, sababul–wurud-nya adalah seorang a’rabi datang kepada Rasulullah dan menanyakan perihal seseorang yang mencintai sekelompok kaum tapi tidak mampu beramal seperti amal mereka.
Di sini, kita mendapati bahwa kekuatan cinta itu justru sangat diharapkan ketika amal sudah tidak bisa diandalkan. Hal itu menunjukkan bahwa cinta sebetulnya bisa berguna meski buktinya belum sempurna. Oleh karena itu, seusai mengutip perkataan Imam Hasan al-Bashri di atas dalam Ihya’, Imam al Ghazali berkata,
“Ini menunjukkan bahwa cinta saja tanpa meniru sebagian atau seluruh amal yang dicintai tidak berguna apa-apa.”
Artinya cinta menuntut pecinta untuk meniru amal kekasihnya tapi tidak secara total. Cinta tetap akan berguna meski bukti cintanya belum sempurna dilakukan. Hal yang harus ditiru itu adalah hal fundamental seperti akidah. Oleh karena itu, Imam Hasan al-Bashri mencontohkan cinta yang tidak berguna dengan cinta Yahudi dan Nasrani pada nabi mereka.
| BACA JUGA: BAROMETER TAAT DAN MAKSIAT
Adapun tidak meniru hal-hal yang bersifat furu’iyah seperti shalat danpuasa tidak mempengaruhi kekuatan cinta selama hal itu tidak disebabkan oleh keengganan dan rasa malas, melainkan karena memang tidak mampu menirunya. Hal ini ditunjukkan oleh sababul-wurud hadis yang telah disebut di atas. Dari sini kita paham bahwa kebahagiaan para shahabat saat mendengar hadis bukan karena mereka malas meniru tokoh idola, melainkan karena mereka merasa tidak mampu menirunya.
Akan tetapi, menurut Imam Abdul Ghani an-Nabulsi sebagaimana dikutip dalam Sabilun-Najah, karya Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, orang yang tidak meniru karena masih dikalahkan oleh hawa nafsunya, cintanya tetap berguna, selama dia meyakini bahwa dirinya dalam gelimang dosa dan ingin untuk berubah menjadi seperti orang-orang saleh.
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa cinta itu adalah suatu hal, dan buktinya adalah hal lain. Cinta bisa tetap ada meski tidak dibarengi dengan bukti. Terbukti ketika sebagian shahabat menghina Nu’aiman yang sering mabuk, Rasulullah membelanya dan bersabda,
“Sungguh, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Hanya saja, cinta hanya bisa berguna ketika pemiliknya meniru kekasihnya, setidaknya dalam urusan akidah. Adapun jika tidak meniru selebihnya, kekuatan cinta masih diperselisihkan oleh ulama. Ada yang berpendapat masih berguna, dan ada yang menganggapnya hanya kepalsuan belaka. Imam al-Ghazali berkata,
“Secara umum, dalam pengakuan cinta ada resiko.”
Walhasil, jalan yang paling aman adalah mencintai orang saleh lalu berusaha semampu kita meniru mereka, Insyaallah dengan begitu Allah I menolong kita sehingga mampu meniru kekasih kita secara total. Wallahu A’lam.




