Salah satu ulama kontemporer yang produktif menghasilkan karya-karya terkait huru-hara akhir zaman adalah Dr. Habib Abu Bakar al-Adni al-Masyhur. Dalam disiplin ilmu Fikih, bab-bab dan pasal-pasal yang mengulas hari kiamat dan segenap tanda-tandanya disebut sebagai Fikih Tahawulat. Dalam Fikih Tahawulat ini, salah satu karya monumental Habib Abu Bakar al-Adni adalah kitab yang berjudul al-Usus wal-Munthalaqât.
Di dalam kitab al-Usus wal-Munthaliqât, ulama yang berdomisili di Yaman ini menjelaskan bahwa konsep Fikih akhir zaman atau Fikih Tahawulat bukan sekadar mempelajari tanda-tanda hari kiamat saja, melainkan bagaimana menyikapi tanda-tanda tersebut menjadi suatu rumusan dan kaidah. Karena berupa rumusan-rumusan dan kaidah inilah, makanya kemudian ilmu tentang akhir zaman ini masuk kategori ilmu ‘Fikih’. Dan karena rumusannya tentang menyikapi akhir zaman, maka disebut sebagai Fikih akhir zaman atau bisa juga disebut sebagai Fikih Tahawulat.
Salah satu konten yang paling menarik dari kitab setebal 500-an halaman ini adalah uraian mengenai tanda-tanda hari kiamat. Dengan detail dan mendalam, Dr. Habib Abu Bakar al-Adni al-Masyhur menjelaskan tanda-tanda hari kiamat dengan membaginya menjadi tiga bagian.
Pertama, tanda-tanda kiamat sughra (kecil).
Di antara tiga bagian tanda-tanda kiamat di atas, yang paling banyak adalah tanda-tanda kiamat sughra. Antara lain: 1) hilangnya ilmu dan tampaknya kebodohan. Dalam hal ini, Habib Abu Bakar menjelaskan bahwa maksud ‘hilangnya ilmu’ ini memiliki beberapa makna, di antaranya sebagaimana pendapat Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim. Beliau berkata bahwa maksud hilangnya ilmu di sini adalah wafatnya para pemilik ilmu, yakni para ulama. Hal ini senada dengan hadis Nabi yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama-Nya” (HR al-Bukhari).
2) banyaknya nabi palsu. Untuk tanda kiamat yang ini, kata beliau, akan terus berlangsung hingga keluarnya Dajal. Nabi bersabda; “Kiamat tidak akan terjadi sampai munculnya anak buah Dajal yang gemar berdusta. Jumlah mereka hampir 30. Semuanya mengaku sebagai rasul palsu. (HR. al-Bukhari). 3) banyaknya kasus pembunuhan. Kasus pembunuhan ini semakin ke belakang semakin bertambah. Dan ironisnya, yang membunuh dan yang dibunuh adalah sesama umat Islam. 4) berlomba-lomba membangun dan mempercantik masjid. Tanda yang satu inilah yang kini justru menjamur di mana-mana. 5) jual beli hukum, yakni seperti adanya sogok-menyogok dalam suatu urusan. 6) memutus silaturahmi, baik antara anak dan orang tua, murid dengan guru, atau bahkan antara sesama negara Islam. Penyebabnya adalah menurunnya pendidikan islami di kalangan umat terkait pentingnya menyambung tali silaturahmi. 7) banyaknya para peminum miras dan narkoba. 8) mendewa-dewakan orang kaya raya. 9) berlomba-lomba membangun bangunan pencakar langit. 10) meningkatnya kasus perzinaan. Dan masih banyak lagi tanda-tanda kiamat sughra yang lain.
Kedua, tanda-tanda kiamat wustha (sedang)
| BACA JUGA: KONSEP HERMENUETIKA DALAM TRADISI KEILMUAN BARAT
Pada tanda-tanda kiamat yang kedua ini, Habib Abu Bakar al-Adni mengurainya sangat lengkap beserta dalil-dalil hadisnya. Namun, demi menghemat space yang ada, penulis telah merangkumnya menjadi beberapa tanda saja.
Tanda pertama, terutusnya Nabi Muhammad. Menurut Imam al-Qurtubi, terutusnya Nabi Muhammad masuk dalam kategori tanda kiamat wustha sebab beliau adalah Nabi terakhir dan sampai hari kiamat nanti tidak akan ada lagi nabi yang akan diutus membawa syariat. Tanda kedua, terealisasinya khilafah rasyidah, yakni masa khilafah selama 30 puluh tahun, dimulai semenjak kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan berakhir pada kekhalifahan Sayidina Hasan bin Ali. Hal ini sebagaimana penuturan Imam Ibnu Katsir saat memahami hadis Nabi yang menjelaskan bahwa fase khilafah akan berjalan selama 30 tahun.
Tanda ketiga, terbunuhnya khalifah setelah Abu Bakar, yakni Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Tanda keempat, munculnya firqah Khawarij. Menurut Habib Abu Bakar, munculnya firqah Khawarij ini terus berlangsung semenjak masa Nabi sampai keluarnya Dajal. Tanda kiamat wustha yang satu inilah yang paling berbahaya, sebab mereka gemar mengkafirkan sesama umat Islam yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka, bahkan bukan hanya mengkafirkan, mereka juga sampai pada taraf menghalalkan darah umat Islam yang tidak sepemikiran dengan kepentingan mereka. Makanya tidak ayal, jamak kita jumpai kasus pemubunuhan yang dilakukan oleh kaum Khawarij kepada sesama umat Islam. Tanda kelima, mundurnya Sayidina Hasan sebagai khalifah, yakni beliau melepas jabatan khilafahnya, lalu memberikan otoritas kepemimpinannya kepada shahabat Muawiyah. Hal ini beliau lakukan demi menjaga kedamaian umat Islam yang saat itu tengah memanas. Tanda keenam, munculnya kerajaan yang zalim, seperti kerajaan Bani Umayyah, Bani Abbasyiah, dan yang lain. Tanda selanjutnya yang terbilang tanda-tanda kiamat wustha adalah terbunuhnya Sayidina Husein bin Ali. Itulah beberapa rangkuman peristiwa dalam sejarah Islam yang masuk dalam tanda-tanda kiamat wustha sebagaimana yang ditulis oleh mendiang Habib Abu Bakar al-Adni al-Masyhur.
Ketiga, tanda-tanda kiamat kubra (besar)
Pada tanda-tanda kiamat kubra ini, ulama bersilang pendapat terkait urutan tanda-tandanya. Namun, bagaimanapun juga, semua yang disabdakan oleh Nabi tentang tanda-tanda kiamat kubra, ulama Ahlusunah wal Jamaah bersepakat bahwa jumlahnya terdapat 10 tanda.
Di dalam kitab al-Usus wal– Munthalaqât, urutan 10 tanda-tanda kubra ini adalah; pertama, dibaiatnya Imam Mahdi. Kedua, keluarnya Dajal. Ketiga, turunnya Nabi Isa. Keempat, keluarnya Yakjuj wa Makjuj. Kelima, gerhana bulan di tiga lokasi, 1) di belahan bumi bagian timur, 2) di belahan bumi bagian barat, dan 3) di Jazirah Arab. Keenam, merebaknya asap yang mematikan. Ketujuh, terbitnya matahari dari arah barat. Kedelapan, keluarnya dabbah. Kesembilan, adanya api yang muncul dari Yaman kemudian menggiring manusia menuju tempat berkumpul. Kesepuluh, tiupan sangkakala.
Di antara 10 tanda ini, beliau mengurainya menjadi dua rincian. Pada rincian pertama, Allah masih membuka pintu taubat. Adapun pada rincian kedua, Allah telah menutup pintu taubat, sehingga siapa pun itu, apabila ia bertaubat maka taubatnya sia-sia.




