Nama: KH. Muhammad Muwafa Wafir/KH. Khoirul Wafa
TTL: Mekkah, 03 November 1992
Alamat: Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Pamekasan
Ayah: H. Ahmad Wafir
Ibu: Hj. Niswatul Halimah
Putra-putri: Nadiyah Rohmaniyah, Muhammad Syarofuddin, Sammahah Najwa
Istri: Hj. Jauharah Nafi’ah
Pendidikan: PP. Darul Falah Jepara, Pondok Pesantren Sidogiri
Aktivitas: Pemangku PP. Panyeppen, Majlis Taujih IKBAS, Ketua PW IASS Pamekasan
Tahun masuk PPS: 2004-2005 M
Tahun keluar PPS: 2016 M
Di tahun terakhir, sebelum boyong dari Pondok Pesantren Sidogiri, perasaannya semakin kalut, berat, dan enggan berpisah dengan Sidogiri. Hingga tiap hari dirinya mengaduh ke Pesarean Masyayikh, “Kiai, biar jasad saya saja yang boyong. Ruh, jiwa dan pikiran saya biarkan saya pendam di Sidogiri.
LEBIH DIKENAL DENGAN KHOIRUL WAFA DI DAERAH MADURA
Pria yang lahir di Makkah Arab Saudi ini awalnya diberi nama Mu’afa oleh Kiai Wafir, Abahnya. Lantas saat sowan ke Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Yasin menyarankan agar nama sang putra diganti menjadi Muwafa. Sejak saat itu namanya resmi berganti menjadi Muhammad Muwafa Wafir.
Santri yang diambil menantu Kiai Mudatsir ini kemudian mendapatkan nama baru pasca prosesi akad nikah dengan Ning Jauharah Nafi’ah, putri Kiai Mudatsir. Setelah akad, Kiai Mudatsir mengganti namanya menjadi Khoirul Wafa. Nama inilah yang lebih populer di kalangan masyarakat Madura.
DZAUQ, SYARAB, DAN IRTIWA’
Kiai Wafa bercerita bahwa secara khusus dirinya tidak memiliki amalan yang berbeda dengan santri pada umumnya. Hanya saja, saat di pondok setiap aktivitas yang beliau jalani pasti beliau rasakan, beliau nikmati, hingga beliau merasakan kesegarannya. Di kalangan Sufi hal itu dikenal dengan Dzauq, Syarab, dan Irtiwa’. Menurut Kiai Wafa inilah yang bisa menjadikan sebuah amal lebih bernilai. Sebuah amaliyah bisa saja sama, tapi yang menjadikannya lebih bernilai adalah adanya Dzauq, Syarab, dan Irtiwa’.
Cara beliau melatih hal ini adalah dengan cara menghadirkan orang tuabeliau di setiap aktivitasnya. Beliau merasa selalu diawasi oleh kedua orang tua beliau di setiap aktivitasnya. Setelah lama terbiasa merasa diawasi kedua orang tua, selanjutnya perasaan itu naik, dan menjadi perasaan terus diawasi oleh para Masyayikh Sidogiri. Dengan perasaan diawasi oleh orang-orang beliau merasa lebih semangat menjalani aktivitasnya, serta lebih bisa merasakan kepuasan setelah melakukan aktivitas tersebut. Karena dirinya merasa telahberhasil mempersembahkan amalan itu untuk orang-orang yang dicintainya.
BERKAT DIDIKAN ORANG TUA
Kiai Muafa bercerita bahwa selama nyantri yang sering mengirim beliau adalah sang ibu. Dalam banyak kesempatan sang ibu berpesan agar Kiai Muwafa tidak sering tidur malam dan selalu mendoakan kedua orang tuanya.
Sang ayah juga terkadang sewaktu-waktu datang berkunjung ke pesantren untuk menjenguk putranya. Hanya saja, jam kunjung sang ayah sangat berbeda dengan sang ibu. Kiai Wafir biasa berkunjung tengah malam. Biasanya setelah pulang dari acara di luar kota beliau menyempatkan mampir ke Sidogiri untuk menengok putranya. Jika di Sidogiri beliau mendapati putranya sedang terlelap, maka beliau akan pulang tanpa memberi apa-apa, seraya menitip pesan kepada Kiai Wafa bahwa semalam abahnya berkunjung. Namun jika Kiai Wafir mendapati dirinya sedang berada di masjid atau sedang muthalaah, maka beliau akan memberikan uang untuk Kiai Wafa. Hal inilah yang terus melatih diri beliau sehingga tidak suka tidur malam.
TIDAK LEPAS DARI FATIHAH KEPADA MASYAYIKH
Ke mana pun kakinya melangkah, selama di Sidogiri mulut beliau selalu berkomat-kamit membacakan Fatihah untuk Masyayikh Sidogiri. Hal itu beliau lakukan demi membangun ikatan ruhaniyah dengan para Masyayikh. Beliau ingin dikenal oleh para Masyayikh. Bahkan tiap kali mendengar cemoohan dan juga ejekan dari santri sebayanya beliau selalu pasrah dan memohon doa agar dikuatkan, “Duh, Masyayikh, dek nikah kuleh ecokocoh. Njenengan sagsiaghih Masyayikh. Mander kuleh eparengen kekuatan lan saber. (Wahai Masyayikh, ini saya sedang diejek. Saksikanlah Masyayikh! Semoga saya dikaruniai kekuatan dan kesabaran, red).”
| BACA JUGA: SAHABAT NABI DARI INDIA,MITOS ATAU FAKTA?
KERASAN DI TAHUN PERTAMA DAN TERAKHIR
Kiai Muwafa mengungkapkan bahwa selama nyantri dirinya hanya merasa kerasan di tahun pertama dan terakhir nyantri saja. Di tahun pertama karena memang sejak kecil beliau sangat tertarik untuk mondok di pesantren. Saat itu pun beliau masih polos dan belum mengenal problematika di pesantren. Dan juga di tahun terakhir nyantri, karena beliau merasa berat sekali berpisah dengan Sidogiri. Ruh dan jiwa beliau sudah bertaut dengan Sidogiri. Bahkan beliau bertekad, Sidogiri sehidup semati.
Ditahun terakhir setelah melaksanakan akad nikah pada bulan Maulid, Kiai Muwafa sudah merasakan detik-detik akhir di Pondok Pesantren Sidogiri. Semakin lama perasaan itu semakin kuat. Perasaan enggan untuk meninggalkan Sidogiri semakin mencengkeram jiwanya. Beliau ingin terus di Sidogiri sampai mati. Hingga beliau sadar, bahwa realitanya beliau harus tetap menikah. Orang tua beliau pun tak akan mengizinkan beliau tidak menikah. Karena itu, beliau ingin, sekiranya yang berpisah dengan Sidogiri hanyalah jasadnya saja. Beliau ingin memendam ruh, jiwa dan pikiran beliau tetap di Sidogiri.
INGIN TETAP DI SIDOGIRI MESKIPUN HANYA MENYAPU
Beliau sempat berpikir, bagaimana caranya agar dirinya masih bisa punya ikatan di Sidogiri. Sempat muncul pikiran untuk menyapu di Sidogiri, meski hanya sekali dalam satu pekan. Di hari itu beliau menyapu dari timur ke barat di Sidogiri. Karena menurutnya, di situlah kemampuannya. Selain itu, beliau merasa belum memiliki kemampuan atau belum layak.
MERASAKAN RINDU YANG MEMBUNCAH
Tahun 2019, Kiai Muwafa merasakan rindu yang begitu dalam kepada Pondok Pesantren Sidogiri. Rindu yang begitumembara, ditambah duka mendengar berita wafatnya Hadratus Syekh KH. A.Nawawi bin Abdul Djalil. Di sepanjang perjalanan menuju Sidogiri, beliau terus meneteskan air mata. Seperti kebiasaannya, bacaan Surah al-Fatihah untuk Masyayikh senantiasa beliau rapalkan di sepanjang perjalanan menuju Sidogiri. Ternyata kerinduan itu bersebab. Di perjalanan itulah beliau mendengar informasi bahwa dirinya diangkat menjadi Pengurus Wilayah IASS Pamekasan. Sedih, susah, berpadu seketika. Tangisnya semakin menjadi. Namun di balik itu beliau merasa, mungkin ini adalah jawaban dari kerinduan beliau yang begitu dalam pada Sidogiri. Beliau berpikir mungkin amanah menjadi PW IASS Pamekasan ini jawaban agar beliau bisa terhubung dan lebih dekat dengan Sidogiri, sebagaimana impian beliau sebelum boyong.
“Hanya saja yang ini menyapu hati, menyapu hati teman-teman IASS Pamekasan. Kalau bayangan saya dulu kan, menyapu haqiqatan,” kenang Kiai Muwafa.
KELUARGA SIDOGIRIAN
“Keluarga saya adalah full Sidogirian, mulai dari Abah, Umi, saudara, termasuk juga di keluarga mertua, Kiai Mudatsir,” tutur Kiai Muwafa. Karena itu, beliau meminta doa agar hal ini terus bersambung hingga anak cucunya. Beliau khawatir terputus dengan Sidogiri.




