PRAJURIT PENAKLUK BADAI
Kota Balkh, hanya 40 mil di selatan Amu Darya. Ibrahim bin Adham sampai di kampung halamannya ini, setelah sekian lama berkelana dalam pengembaraan panjang. Di sini, tentu saja banyak kenangan yang terasa indah di masa lalu, tapi mungkin terasa sangat suram baginya di masa kini. Jalan hidup yang ditempuhnya kini sudah jauh berbeda. Pandangan hidup yang dianutnya kini tak lagi sama.
Ibrahim bin Adham segera menemui sang Qadi. Dialah yang memegang harta warisan, peninggalan Almarhum ayahandanya yang terkemuka.
“Assalamu Alaik, ayyuhal-Qadhi.”
“Wa Alaikas-salam.”
“Aku mendapat berita, bahwa ayahku meninggal. Konon, beliau menitipkan harta warisan kepadamu.”
“Kalau yang kau maksud adalah Adham, maka hal itu benar. Sayangnya aku tidak mengenal siapakah gerangan dirimu?.”
Mendapat jawaban itu, Ibrahim segera bangun dari tempat duduknya, hendak pergi. Orang-orang yang hadir segera menyahut, memberi kesaksian. “Ini Ibrahim bin Adham.” Sang Qadi pun segera menimpali.
“Tunggu dulu. Rupanya, engkau benar-benar putra dari Adham.”
“Kalau begitu, segeralah bawa ke sini harta warisan itu,” jawab Ibrahim.
“Oh, tidak bisa.”
“Kalau begitu, tunjukkan saja sebagian darinya.”
Qadi segera menunjukkan sebagian harta warisan milik Ibrahim. Ibrahim langsung melakukan shalat dua rakaat. Usai shalat, Ibrahim tersenyum. Sang Qadi melihat senyum itu.
“Yang aku dengar, engkau telah menjadi orang zuhud.”
“Lalu, apakah Qadhi mengira bahwa aku senang dengan harta warisan ini?”
“Benar. Wajahmu begitu riang dan senyumanmu mengembang.”
“Aku tersenyum karena perlakuan Allah terhadapku. Selama ini, harta itu terhalang dari jalan Allah. Lalu, Allah memberi pertolongan kepadaku hingga aku bisa datang untuk membebaskannya. Aku jadikan semua harta itu untuk jalan Allah.”
Ibrahim bin Adham mengibaskan pakaiannya seperti hendak membersihkan debu-debu yang menempel di situ. Tak lama kemudian, ia pergi meninggalkan semuanya.
Al-Baqiyah tetap membuntutinya dari belakang.
“Abu Ishaq, sejak dua bulan kita tidak makan,” kata al-Baqiyah dalam perjalanan pulang itu.
“Apa engkau ingin makanan?”
“Iya.”
Ibrahim bin Adham takbir, melakukan shalat dua rakaat. Usai salam, tiba-tiba di sekelilingnya dipenuhi dengan kepingan-kepingan dinar yang berkilat. Al-Baqiyah mengambil satu keping dinar untuk bekalnya melanjutkan perjalanan, meninggalkan Balkh.
| BACA JUGA : IBRAHIM BIN ADHAM AL-BALKHI (2), INSPIRASI KELANA YANG TAK BERTEPI
*****
Dalam sebuah tidurnya, Ibrahim bin Adham bermimpi melihat surga dibukakan untuknya. Di situ ada dua kota. Yang satu terbuat dari yaqut putih, sedangkan yang satunya dari yaqut merah. Lalu, ada suara terdengar, “Tempatilah dua kota ini. Keduanya ada di dunia.”
“Apa nama kotanya?”
“Carilah! Engkau akan melihatnya seperti yang aku perlihatkan di surga.”
Ibrahim bin Adham berangkat mencari kota ini bersama seorang muridnya, Faraj. Ia menyisir pusat-pusat jihad di Khurasan, tapi tak menemukannya. Lalu, ia pergi ke Kaspia, Mopsuestia dan pusat-pusat jihad lainnya. Sampailah ia ke daerah Shur, di selatan Beirut, Lebanon. Di kota tepi pantai Laut Tengah itu, Ibrahim bin Adham melihat kota surga dari sebuah gunung. Beliau turun dan bilang kepada Faraj, “Faraj, ini salah satu dari dua kota surga itu.”
Ibrahim bin Adham turun dari gunung. Beliau segera bergabung dengan pasukan Ma’yuf yang diberangkatkan oleh Dinasti Abbasiyah untuk membereskan wilayah-wilayah ‘mantan Romawi’ yang mulai berupaya memberontak dan melepaskan diri.
Suatu hari, Ma’yuf mendapat instruksi membereskan Siprus. Siprus hanyalah pulau kecil, di tengah laut Mediterania bagian timur. Namun demikian, sangat strategis untuk menjadi tempat parkir armada laut. Angkatan Laut Romawi pada masa kejayaan Byzantium seringkali disiagakan di sini. Sewaktu-waktu bisa diberangkatkan dengan cepat ke selatan untuk menyeberang ke Mesir dan segenap daratan Afrika Utara. Atau, menyeberang ke timur ke seluruh daratan Syam. Pulau kecil ini adalah jalur singgah yang sangat strategis karena menghubungkan Eropa, Asia dan Afrika.
Karena itulah, lebih dari 100 tahun sebelum Abbasiyah, Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam pada masa Sayidina Utsman bin Affan, menaruh perhatian yang sangat serius terhadap wilayah ini. Armada laut beliau sempat menaklukkan pulau ini. Sayangnya, setelah itu beberapa kali pulau ini melepaskan diri, karena lemahnya kontrol pasukan Muslimin terhadap wilayah di seberang laut.
Ibrahim bin Adham turut serta bersama armada laut pimpinan Ma’yuf. Juga, Baqiyah bin al-Walid. Kapal-kapal perang telah berlayar. Tiba-tiba badai mengamuk, menyapu laut Miditerania yang mulanya tenang. Kapal-kapal kaum Muslim terombang-ambing di antara gulungan gelombang yang menggunung.
Suasana menjadi sangat kalut. Keselamatan mereka di ujung tanduk. Seseorang berteriak kepada Panglima Ma’yuf. “Mintalah doa kepada Ibrahim bin Adham.”
Panglima segera mencari Ibrahim. Ternyata beliau sedang tertidur pulas, di sebuah sudut sempit kapal. Kepalanya tertutup selimut.
“Abu Ishaq, tidakkah kau melihat apa yang sedang terjadi kepada pasukan!?” kata Ma’yuf. Ibrahim terbangun. Saat itu situasi benar-benar kacau. Maka, beliau segera menengadahkan tangan. Berdoa dengan sangat singkat. “Allahumma qad araitanâ qudrataka, fa-arinâ ‘afwaka. Ya Allah, telah Engkau perlihatkan kepada kami kemahakuasaan-Mu. Sekarang, mohon perlihatkanlah kepada kami, pengampunan-Mu.”
Badai yang semula menderu-deru, tiba-tiba menjadi senyap. Laut Mediterania kembali tenang. Suasana menjadi terkendali. Dan, pasukan melanjutkan misinya menuju Siprus.
Tak hanya di Siprus. Ibrahim bin Adham beberapa kali terjun ke dalam medan pertempuran melawan Romawi. Setiap pulang dari berbagai medan jihad itu, beliau tinggal di sisi kanan masjid Shur. Kehidupan sebagai prajurit tersebut terus beliau jalani hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Taala menjemput beliau ke Hadirat-Nya pada tahun 161 H. Beliau wafat pada saat pasukan Ma’yuf sedang berada di al-Jazirah, wilayah subur yang membentang di pinggir timur Syam, tepatnya di bagian hilir Sungai Tigris. Jasadnya yang mulia dibawa pulang ke shur dan dimakamkam di sana. semoga Allah merahmatinya.




