Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu, tidak heran jika masjid, sebagai tempat ibadah umat Islam, tersebar di mana-mana. Masjid tidak hanya berada di tengah-tengah perkampungan saja, melainkan juga tersebar di pinggir jalan raya. Seseorang yang sedang melakukan perjalanan seringkali mampir ke masjid untuk menunaikan shalat atau sekadar beristirahat. Namun, tidak jarang juga masjid dijadikan sebagai tempat persinggahan ketika hendak buang air kecil atau buang air besar di tengah-tengah perjalanan. Sebenarnya,bagaimana Fikih menanggapi fenomena menumpang toilet masjid untuk buang air? Sebelum membahas pertanyaan ini, harus diketahui terlebih dahulu dari mana biaya operasional dan perawatan toilet masjid.
Jika biaya operasional dan perawatan toilet masjid itu bersumber dari harta masjid, maka penggunaan harta masjid harus berkaitan dengan imarah (memakmurkan) dan kemaslahatan masjid. Terkait dengan pengertian imarah, di kalangan ulama masih terjadi perbedaan pendapat. Syekh Ali ash-Shabuni dalam Tafsir Rawai’ul-Bayan menjelaskan:
ذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءُ إِلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ هُوَ بِنَاءُهَا وَتَشْيِيْدُهَا وَتَرْمِيْمُ مَا تَهَدَّمَ مِنْهَا….وَقَالَ بَعْضُهُمْ الْمُرَادُ عِمَارَتُهَا بِالصَّلَاةِ وَالْعِبَادَةِ وَأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ
Sebagian ulama berpendapat bahwa memakmurkan masjid adalah dengan cara membangun, memperkuat, dan memperbaiki bangunan yang rusak. Sementara pandangan lain mengatakan, yang dimaksud memakmurkan masjid ialah mengerjakan shalat dan segala bentuk ibadah di masjid.
Imam al-Qalyubi dalam Hasyiyata Qalyubi wa Amirah mengarahkan pengertian imarah pada tindakan pada pendirian, perawatan, dan penjagaan harta benda milik masjid.
فُرُوعٌ عِمَارَةُ الْمَسْجِدِ هِيَ الْبِنَاءُ وَالتَّرْمِيمُ وَالتَّجْصِيصُ لِلْأَحْكَامِ وَالسَّلَالِمُ وَالسَّوَارِي وَالْمَكَانِسُ وَالْبَوَارِي لِلتَّظْلِيلِ أَوْ لِمَنْعِ صَبِّ الْمَاءِ فِيهِ لِتَدْفَعَهُ لِنَحْوِ شَارِعٍ وَالْمَسَّاحِي وَأُجْرَةُ الْقَيِّمِ وَمَصَالِحِهِ تَشْمَلُ ذَلِكَ، وَمَا لِمُؤَذِّنٍ وَإِمَامٍ وَدُهْنٍ لِلسِّرَاجِ وَقَنَادِيلَ لِذَلِكَ
Imarah (memakmurkan masjid) adalah membangunnya, merenovasinya, membangun pagarnya untuk menetapkan batas hukumnya, tangganya, menyapunya, menyediakan naungan-naungan untuk tempat bernaung, atau penahan tempias air hujan ke dalamnya, seumpama saluran atau talang, menggaji marbotnya, dan semua bentuk kemaslahatan lain yang masuk dalam bingkai masjid. Termasuk di dalamnya adalah gaji untuk muazin, imam, membeli minyak untuk penerangan dan lampu, yang semuanya dikembalikan kepada masjid.
| BACA JUGA : MAKAN DAN MINUM DI MASJID
Dengan demikian, jika seseorang menggunakan fasilitas masjid, termasuk kamar mandi, tanpa beribadah di masjid maka hukumnya haram, sebab fasilitas masjid harus digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kemaslahatan dan imarah masjid. Imam asy-Syarwani menjelaskan:
وَكَذَا يُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ حُرْمَةُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَدْخُلُونَ فِي مَحَلِّ الطَّهَارَةِ لِتَفْرِيغِ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ يَغْسِلُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَيْدِيَهُمْ مِنْ مَاءِ الْفَسَاقِيِ الْمُعَدَّةِ لِلْوُضُوءِ لِإِزَالَةِ الْغُبَارِ وَنَحْوِهِ بِلَا وُضُوءٍ وَلَا إرَادَةِ صَلَاة
ke tempat bersuci untuk menunaikan hajatnya, kemudian membasuh wajah serta tangannya dari debu dan sesamanya menggunakan air yang dikhususkan untuk wudhu tanpa melakukan wudhu dan tanpa tujuan shalat.
Namun, apabila air yang ada di masjid tersebut tidak diketahui kekhususannya, tetapi ada indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahwa air tersebut bebas dipakai untuk apa saja, maka boleh menggunakan air tersebut untuk menyiram kencing atau bersuci. Qarînah di sini seperti sudah menjadi kebiasaan kalau air di masjid itu memang dimanfaatkan secara umum oleh masyarakat tanpa ada yang menyangkal, baik dari ahli Fikih atau yang lain. Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul-Mu’în mengutip jawaban Syekh al-Allamah ath-Thanbadawi ketika ditanya tentang penggunaan air yang tidak diketahui kekhususannya untuk minum, berwudhu, mandi wajib, mandi sunah, atau membasuh najis:
وَسُئِلَ الْعَلَّامَةُ الطَنْبَدَاوِي عَنِ الْجَوَابِي وَالْجرَارِ الَّتِي عِنْدَ الْمَسَاجِدِ فِيْهَا الْمَاءُ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهَا مَوْقُوْفَةٌ لِلشُّرْبِ أَوِ الْوُضُوْءِ أَوِ الْغُسْلِ الْوَاجِبِ أَوِ الْمَسْنُوْنِ أَوْ غَسْلِ النَّجَاسَةِ فَأَجَابَ إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشُّرْبِ وَغَسْلِ النَّجَاسَةِ وَغَسْلِ الْجِنَابَةِ وَغَيْرِهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ جَرَيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ
Al-Allamah ath-Thanbadawi ditanya tentang kolam atau tempayan di masjid yang di dalamnya terdapat air, ketika tidak diketahui apakah itu diwakafkan untuk minum, berwudhu, mandi wajib, mandi sunah, atau membasuh najis. Beliau menjawab sesungguhnya apabila terdapat indikasi bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, semisal untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari indikasi tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada pengingkaran, baik dari ahli Fikih atau yang lain.
Kendati demikian, alangkah baiknya jika setelah menggunakan fasilitas toilet masjid juga menyempatkan untuk beribadah di masjid tersebut, meskipun hanya melakukan shalat sunah, atau memasukkan uang yang setara dengan penggunaan toilet umum ke dalam kotak infak masjid.




