SEHAT BADAN SEHAT SPIRITUAL DALAM BELAJAR
Di berbagai kitab dan karya tentang pendidikan, psikolog-psikolog Muslim terkemuka; Imam al-Ghazali dan lainnya mengakui bahwa sebenarnya etika dan psikologi pendidikan seorang murid di dalam proses mencari ilmu itu sangat banyak. Namun, khusus pada diskursus kali ini, penulis akan membahas seputar psikologi pendidikan islami dalam belajar. Maka tentu untuk lebih menitikberatkan pembahasan ini, penulis akan meringkasnya dan mengambil yang inti saja untuk kemudian dikaji secara ilmiah dalam artikel kali ini.
PERTAMA
membersihkan hati dari akhlak yang tercela.
Dalam psikologi pendidikan Islam, bagi seorang murid, ia tidak hanya dituntut mampu menghafal dan memahami materi demi materi yang dipelajari. Sebab jika yang menjadi tujuan utama adalah hapal dan paham pada segenap materi maka apa bedanya antara psikologi pendidikan islami dengan psikologi pendidikan ala Barat misalnya. Tentu tidak ada bedanya! Di dalam literatur pendidikan Islam, ilmu itu diibaratkan sebuah cahaya yang bersemayam di dalam hati. Apabila hatinya bersih, maka ilmu akan semakin memancar. Namun sebaliknya, apabila hatinya kotor, maka ilmu akan redup dan padam.
KEDUA
fokus saat mempelajari ilmu.
Seorang murid, ketika sedang dalam proses belajar, secara psikologi memang dituntut untuk fokus. Ketika ia fokus saat belajar, maka persentase menghapal banyak materi dan meningkatkan kualitas kecerdasan jauh lebih banyak ketimbang ia yang tidak fokus saat proses belajar. Alasannya jelas, karena ia fokus dan tidak terganggu oleh hal-hal lain di luar keilmuannya. Imam al-Ghazali berpesan bahwa di antara psikologi pendidikan terbaik bagi seorang murid adalah memusatkan diri dan pikirannya pada ilmu saja. Beliau berkata bahwa sudah semestinya seorang pelajar meninggalkan seluruh kesibukan sehari-harinya jika ia ingin mendapatkan pemahaman ilmu yang mendalam dan kekuatan hapalan yang melekat. Karena diakui atau tidak, apabila seseorang itu sibuk dengan memikirkan pekerjaannya misalnya atau sibuk dengan bisnisnya misalnya, maka cita-cita untuk totalitas mendapatkan ilmu yang banyak lagi mendalam pun hanya bersifat fatamorgana saja. Hanya isapan jempol belaka.
KETIGA
patuh dan taat kepada guru dan perangkat lain yang bertalian dengan ilmunya.
Ini merupakan bagian dari akhlak yang harus dipenuhi oleh seorang murid kepada guru dan hal-hal yang memiliki hubungan dengan ilmunya. Ada begitu banyak cara di dalam tunduk dan patuh kepada gurunya. K.H. Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa semenjak awal, ketika ia sudah menjumpai guru di dalam proses pendidikannya, seorang murid harus senantiasa patuh dan taat kepada gurunya. Tidak boleh menyimpang apalagi menentang. Selama ucapan dan perintah gurunya tersebut tidak mengarah kepada perkara haram dan maksiat, maka ia wajib hukumnya menaati apa yang menjadi keinginan gurunya, sekalipun terkadang, ada sebagian perintah yang tidak masuk akal atau bahkan secara zahir tidak ada guna dan manfaatnya. Sebab, secara psikologi pendidikan, guru yang baik tidak akan mungkin memerintah muridnya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ada maslahatnya. Sebab segala sesuatu yang datang dari gurunya pasti ada suatu rahasia yang tidak diketahui oleh murid-muridnya.
| BACA JUGA : PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAMI VERSI IMAM AL-GHAZALI (1)
KEEMPAT
senantiasa bertirakat.
Para psikolog muslim dari generasi ke generasi berpesan agar seorang murid senantiasa bertirakat saat menempuh jenjang pendidikannya. Ada begitu banyak hal-hal yang pada dasarnya boleh-boleh saja dilakukan, akan tetapi, ketika perkara tersebut dilakukan oleh seorang pelajar maka akan berdampak negatif setidaknya kepada psikologi pendidikannya. Dan akan berdampak bahaya bagi diri dan kesehatannya apabila dilakukan secara berlebihan. Di antara tirakat yang mesti dilakukan oleh seorang murid adalah ia harus bisa mengatur jam tidurnya. Ia tidak boleh tidur lebih dari delapan jam. Selain itu, ia juga harus wara dan zuhud. Tujuannya agar ia mudah mendapatkan ilmu yang barakah dan manfaat.




