Dalam sebuah kesempatan, KH. Abdul Qoyyum, Lasem, menjelaskan bahwa ada satu penyakit yang tidak akan Allah hilangkan dari diri sesorang, kecuali orang itu sudah masuk ke dalam surga. Padahal kita tahu, bahwa tahapan kehidupan manusia itu sangat panjang. Mulai dari kehidupan dunia alam kubur, hari kiamat, hari kebangkitan, mahsyar, dan seterusnya hingga kelak semoga kita ditakdirkan masuk ke dalam surga.
Penyakit ini adalah penyakit dengki atau dendam. Allah tidak akan menghilangkan kedengkian atau dendam seseorang, kecuali dia sudah masuk surga. Karena hanya di surga manusiatidak akan saling mendengki dan mendendam. Adapun penyakit-penyakit lain, ketika manusia pindah ke alam kubur saja sudah hilang.
Orang yang ketika di dunia sombong, ketika sudah tua renta, miskin dan tidak punya jabatan, terkadang sombongnya sudah hilang. Bahkan orang yang menyekutukan Allah, dan ini merupakan penyakit paling serius di dunia, ternyata ketika berada di dalam kubur dengansegala siksanya saja sudah cukup membuat dia jera.
Akan tetapi, penyakit dengki dan dendam akan terus menerus ada bahkan ketika seseorang sudah berada di dalam neraka. Ketika di dunia sesorang dengki dan benci pada fulan, misalnya. Maka ketika mereka berdua kelak sama-sama berada di dalam neraka. Bertemu dan melihat satu sama lain, maka penyakit itu akan kembali muncul di hatinya.
Oleh karena itu, salah satu doa di dalam al-Quran adalah doa agar kita tidak mendengki sesama orang beriman. Allah berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌࣖ ١٠
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
”Rasulullah juga pernah bersabda, mengingatkan bahayanya penyakit iri dengki:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Berhati-hatilah dengan sifat dengki! Sesungguhnya iri dengki itu menghapuskan kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu.”
***
| BACA JUGA : ANTARA PERINTAH BERHIJAB DAN HOBI BERSELFIE
Benar adanya, seorang ibu pasti mencintai anaknya bahkan ketika dia belum tahu anaknya akan menjadi apa. Anaknya akan hidup, atau malahmeninggal setelah lahir ke dunia. Anaknya akan banyak membawa manfaat, atau malah lebih banyak menyusahkan masyarakat. Begitulah fitrah seorang ibu kepada anak. Cintanya sangat besar tanpa perlu disangsikan.
Dengan modal cinta yang besar,muncul harapan yang tidak kalah besar agar anaknya menjadi orang yang bermanfaat, bermartabat dan memiliki kehidupan lebih baik dari orang tuanya dulu. Ini adalah naluri alamiyah semua orang tua, terlebih seorang ibu yang sembilan bulan berjuang untuk buah hatinya.
Tapi cinta saja tidak cukup untuk menjadikan buah hati menjadi seperti yang diharapkan. Butuh ilmu, pendidikan, kesabaran, dan ikhtiar yang berkesinambungan dalam mendidik anak. Ibu tetap menjadi madrasah pertama yang akan menancapkan pondasi dasar dalam kehidupannya.
Simalakama memang, cinta yang besar seorang ibu tanpa disertai ilmu yang benar malah bisa menjerumuskansang anak pada kehancuran. Memanja anak dengan cara yang over, atau membebaskan mereka melakukan apa saja tanpa aturan dan batas-batas.
Banyak kejadian, anak sudah disekolahkan di sekolah terbaik, diajar oleh guru-guru profesional, dilengkapi dengan fasilitas pendidikan yang mutakhir, dibantu dengan les privat dan kegiatan ekstrakulikuler, tapi anaknya tetap menjadi beban keluarga. Biaya pendidikan tinggi, tapi ilmu yang didapatkan lebih rendah dari pada yang tidak sekolah. Atau ilmunya sudah tinggi, gelar akademisnya sudah sederet, tapi moralnya lebih sampah dari tumpukan sampah.
Mengapa bisa demikian? Ini perlu menjadi perhatian serius semua orang tua, lebih-lebih seorang ibu yang paling dekat dengan anak. Apa yang ada pada ibu, akan besar pengaruhnya pada anak. Bila seorang ibu istikamah dengan kebaikan, maka kemungkinan besar anak-anaknya akan menjadi orang baik. Sebaliknya bila ibu lebih dekat dengan keburukan-keburukan, maka semoga anak-anaknya tetap bisa menjadi pribadi yang baik.
Itulah mengapa ketika ibu memiliki sifat dengki dan demdam, maka sifat itu secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh pada anaknya. Anaknya yang sedang menempuh pendidikan, bisa-bisa akhirnya tidak terdidik dengan baik. Karena bagaimanapun kerasnya usaha orang tua mendidik anak, tapi pribadi orang tua belum bisa menahan diri dari penyakit ini. Maka dampak negatif pasti akan memberikan pengaruh kepada anak-anaknya. Terlebih orang tua menyimpan dengki dan dendam kepada guru yang mendidik anaknya sendiri, maka bisa dipastikan ilmu yang didapatkan tidak akan banyak membawa kemaslahatan.
Meskipun berat, teruslah berusaha untuk menghilangkan sifat dengki dan dendam ini. Seandainya bukan untuk kebaikan kita, maka berkorbanlah untuk kebaikan anak-anak kita.




