Dr. Adian Husaini menyimpulkan bahwa mengapa Barat menjadi sekuler–liberal? Dan mengapa di Barat proses sekularisasi sangat cepat berkembang? Setidaknya ada tiga faktor. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan domimasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problema teks Bibel. Dan ketiga, problema teologis Kristen.
Setelah mengalami pengalaman yang menakutkan terhadap agama, mengalami keterbelakangan, kemandekan ilmu pengetauhan, maka Barat harus menerima sekularisasi sebagai proses menuju kemodernan dan kemajuan ilmu pengetauhan. Barat seperti hidup kembali setelah mereka menerapkan ideologi sekularisme. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sekularisme muncul di dunia Islam? Sedangkan dunia Islam tidak mengalami sejarah seperti yang terjadi di dunia Barat.
Yusuf Qardhawi telah memprediksi akan kemunculan paham sekularisme khususnya di dunia Islam. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa telah terjadi konflik antara pemikiran Islam, pemikiran sekuler, dan pemikiran ateis. Konflik ini terjadi akibat kolonialisme yang mencengkeram dunia Islam dan penjajah bermaksud mencabut Islam ke akar-akarnya. Dengan begitu muncullah apa yang dinamakan oleh Yusuf Qardhawi dengan Muslim jughrafî, yaitu orang yang hidup di dunia Islam, tetapi pemikiran mereka tidak Islami.
Sebenarnya secularism lebih cocok diterjemahkan menjadi al-ladiniyah atau ad-dunyawiyah, karena kata secularism tidak hanya bertolak belakang dengan masalah-masalah akhirat, tetapi juga tidak mempunyai hubungan apapun dengan agama. Kalaupun ada, hubungan itu hanya bersifat konfrontatif. Sedangkan penerjemahan kata secularism menjadi al-‘ilmaniyah, dikarenakan penerjemahnya tidak memahami dua kalimat, ad-din (agama) dan al-‘ilm (ilmu pengetauhan), kecuali dengan pemahaman Barat Kristen. Karena ilmu dalam pemahaman Barat berseberangan dengan agama, ilmu dan akal keduanya bertentangan. Begitu pula sekularisme dan rasionalisme, keduanya bertentangan dengan agama.
| BACA JUGA : AMBIVALENSI POLIGAMI
Pada hakikatnya di dalam Islam tidak terdapat kata yang cocok untuk menerjemahkan kata secular. Jika ada, itupun hanya mendekati, seperti yang terdapat dalam al-Quran yaitu al-hayat ad-dunyâ. Mengapa demikian? Karena konsep sekuler itu tidak ditemukan dalam worldview Islam. Paham sekularisme bertujuan untuk memisahkan antara agama dengan kehidupan dan segala aspek-aspeknya, juga bertujuan untuk mendirikan kehidupan tanpa agama, menjauhkannya, serta memusuhinya seperti kaum komunis.
Menurut Yusuf Qardhawi pemisahan antara agama dan non-agama adalah pemisahan yang tidak ada akarnya dalam tradisi Islam. Pemisahan tersebut datang dari luar tradisi Islam, yaitu dari Barat. Dalam tradisi Islam tidak dikenal adanya dua kekuasaan, kekuasaan agama dan kekuasaan duniawi. Agama dan dunia diibaratkan antara ruh dan jasad, tidak ada pemisahan antara keduanya. Ruh dan jasad menyatu dalam satu kesatuan.
Sejarah Islam juga telah memaparkan dengan konkret tentang politik, bahkan politik merupakan aktifitas Rasulullah dan para al-Khulafa’ ar-Rasyidin. Para ulama telah mendefinisikan politik sebagai sarana untuk melanjutkan peran Rasulallah dalam penegakan agama dan pengaturan dunia. Jelaslah sudah bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara.
Barat Kristen tidak memiliki hukum yang mengatur kehidupan di dunia, yaitu perundang-undangan yang mengatur hubungan antar manusia dan memantapkan hubungan di dalamnya, dan dasar-dasar hukum yang dijadikan referensi juga sebagai pegangan dalam memutuskan suatu masalah. Kristen hanya mengajarkan hal-hal spiritual dan akhlak yang termuat dalam Bibel dan perkataan Yesus. Wajar apabila Barat Kristen hanya berdasarkan kehidupan positif, karena mereka merasa tidak mengabaikan hukum yang diwajibkan oleh agamanya. Hal tersebut sangat berbeda dengan Islam, akidah dan syariat datang bersamaan. Lalu meletakkan prinsip dasar bagi kehidupan, dari lahir hingga akhir hayat.
Hukum Islam mencakup seluruh hukum dalam kehidupan, seperti hukum halal-haram dalam setiap individu, mengatur hak dan kewajiban dalam kehidupan berkeluarga, mengatur interaksi dan hubungan antarmanusia dalam kehidupan bermasyarakat, memperhatikan masalah-masalah kelembagaan, keuangan, politik, masalah-masalah yang berkaitan dengan hak pemimpin dan rakyat, hubungan internasional, juga hubungan Islam dengan umat lain baik dalam keadaan damai maupun perang.
Tradisi Islam tidak dapat menerima sistem pemikiran yang menolak Tuhan dan menggantikan tempat Tuhan dengan inspirasi manusia saja. Jelaslah sudah bahwa Islam sangat tidak menerima sekuler dan Islam tidak dapat berdialog dengan sekuler. Tidak ada konsep yang profan atau sekuler dalam Islam.




